
Pacitan, Berpola – Sekolah bukan sekadar tempat anak-anak belajar membaca, menulis, dan memahami berbagai pengetahuan. Di sana, mereka juga belajar mengenali diri, menyampaikan pendapat, menghadapi kesalahan, dan membangun keberanian. Agar proses itu tumbuh, anak membutuhkan ruang belajar yang membuat mereka merasa aman, diterima, dan dihargai.
Gagasan tersebut menjadi perhatian Khrisna Adhi Pradana, M.Pd., saat hadir sebagai guru tamu di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Pacitan. Melalui kegiatan yang melibatkan siswa jenjang sekolah dasar (SD) tersebut, Khrisna mengajak warga sekolah memandang pembelajaran sebagai proses yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada perkembangan diri anak.
Menurut Khrisna, ruang kelas semestinya tidak hanya menjadi tempat siswa mengikuti instruksi dan memenuhi kewajiban. Kelas juga perlu memberi kesempatan kepada anak untuk terlibat aktif, mengemukakan gagasan, dan mengambil bagian dalam menentukan proses belajarnya. Dengan begitu, siswa tidak sekadar hadir secara fisik, tetapi juga memiliki dorongan untuk belajar dari kesadaran diri.
Baca juga :Dari Perempuan untuk Perempuan: Woman.hub dan Perjalanan Membangun Ruang Aman
“Setiap pagi, kita tentu tidak ingin melihat anak-anak melangkah ke sekolah hanya karena merasa ‘harus’ atau menggugurkan kewajiban. Kita ingin mereka hadir karena memang ‘ingin’, membawa kesadaran dan target belajar pribadi bahkan sejak melangkah keluar dari asrama,” ujar Khrisna, Senin (12/10/2026)
Pandangan tersebut menekankan pentingnya menumbuhkan motivasi intrinsik, yakni dorongan belajar yang muncul dari dalam diri siswa. Bagi anak usia sekolah dasar, proses ini dapat dimulai dengan memberi ruang untuk bertanya, mencoba hal baru, menyampaikan pendapat, serta mengenali hal-hal yang ingin mereka pelajari.

Namun, kemauan untuk belajar tidak tumbuh begitu saja. Anak juga membutuhkan lingkungan yang mendukung, terutama ruang belajar yang aman secara emosional. Ketika pertanyaan tidak ditertawakan, pendapat tidak diremehkan, dan kesalahan tidak berujung pada penghukuman yang mempermalukan, siswa memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan rasa percaya diri.
Dalam hal ini, guru memegang peran penting. Respons pendidik terhadap kesalahan dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri dan proses belajar yang dijalaninya. Alih-alih langsung menyalahkan, guru dapat mendampingi siswa untuk memahami apa yang terjadi, mengevaluasi langkah yang telah diambil, dan menemukan cara memperbaikinya.
Pendekatan tersebut bukan berarti menghilangkan aturan atau tanggung jawab. Sebaliknya, anak tetap perlu belajar memahami konsekuensi dari tindakannya, tetapi melalui proses yang mendorong refleksi dan perbaikan. Dengan demikian, kesalahan tidak semata-mata menjadi sesuatu yang harus ditakuti, melainkan bagian dari pengalaman belajar.
Khrisna juga menyoroti pentingnya memberikan kepercayaan kepada siswa untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan tugas secara mandiri. Kesempatan semacam itu dapat membantu anak membangun agensi, yaitu kemampuan untuk mengambil peran aktif dalam menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas proses yang dijalaninya.
Bagi siswa, pengalaman sederhana seperti memilih cara menyelesaikan tugas, berdiskusi dengan teman, atau mengemukakan alasan di balik suatu keputusan dapat menjadi bagian dari proses tersebut. Ketika pendapat mereka didengar dan upaya mereka dihargai, anak belajar bahwa dirinya memiliki peran dalam kegiatan pembelajaran.
Di penghujung kegiatan, Khrisna menyampaikan kesannya terhadap sambutan dan suasana kekeluargaan yang ia rasakan selama berada di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Pacitan. Ia memandang sekolah sebagai lingkungan yang idealnya tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan pengalaman tentang penerimaan dan penghargaan terhadap potensi setiap anak.
“Bisa berdiri di sini dan menjadi bagian dari keluarga besar Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Pacitan adalah sebuah kebahagiaan dan kehormatan yang luar biasa bagi saya. Sekolah ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan rumah kedua tempat anak-anak merasa diterima, didengar, dan dihargai potensi dirinya secara utuh. Harapan saya, kehangatan dan kebiasaan baik yang kita pupuk bersama hari ini menjadi bekal dan ingatan manis yang akan terus mereka bawa sepanjang hayat,” tutur Khrisna.
Baca juga : Kilau Prestasi Intan Nirmalasari di Panggung Internasional
Kehadiran Khrisna sebagai guru tamu menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kembali pentingnya pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dalam pendekatan ini, anak tidak ditempatkan semata-mata sebagai penerima materi, tetapi sebagai individu yang memiliki kebutuhan, pengalaman, dan potensi berbeda.
Bagi siswa sekolah dasar, pengalaman belajar yang aman dan memberdayakan menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan pendidikan mereka. Dari lingkungan yang memberi ruang untuk bertanya, mencoba, dan memperbaiki diri, anak dapat belajar membangun kepercayaan diri sekaligus menghargai proses.
Pada akhirnya, sekolah yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang berhasil disampaikan, melainkan juga tentang bagaimana anak menjalani proses untuk memperolehnya. Ketika mereka merasa diterima dan diberi kesempatan untuk berkembang, sekolah dapat menjadi lebih dari sekadar tempat belajar: sebuah ruang untuk bertumbuh dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.