
Kab Malang, Berpola – Keberagaman siswa sering kali menjadi kekuatan, namun sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan. Di usia remaja yang masih mencari jati diri, pengaruh budaya asing datang silih berganti, membuat banyak pendidik berpikir keras agar anak-anak tidak tercerabut dari akar budayanya.
Di SMAN 1 Bululawang, tantangan itu dijawab dengan cara yang sederhana namun bermakna lewat program Senin Budaya
Program yang digagas oleh kepala sekolah, Hari Kusrini, ini mulai berjalan sejak tahun ajaran baru 2024/2025. Program tersebut dirancang sebagai upaya memperkenalkan sekaligus menumbuhkan kembali kecintaan terhadap budaya Indonesia di kalangan pelajar.
“Senin Budaya menjadi ajang untuk melatih rasa percaya diri siswa,” ujar Hari, Senin (13/10/2025).
Menurutnya, pembelajaran tidak harus selalu dilakukan di dalam kelas. Melalui kegiatan budaya, siswa dapat mengekspresikan diri, sekaligus belajar memahami keberagaman manusia dan budaya di sekitarnya.
“Kami ingin anak-anak mengenal budaya tempat mereka tinggal dan menghormati perbedaan keyakinan maupun latar belakang sosial,” tambahnya.

Baca juga: HISKI Komisariat Malang Raih Penghargaan Komisariat Teraktif dan Produktif 2025
Program ini dikoordinasikan oleh guru seni yang menyusun jadwal penampilan setiap minggunya. Setiap Senin pagi sebelum pelajaran dimulai, halaman sekolah berubah menjadi panggung ekspresi. Di sana, para siswa menampilkan berbagai pertunjukan, mulai dari tari Jawa tradisional, tari modern, nyanyi solo lagu daerah, hingga lagu populer. Semua dilakukan dengan semangat dan persiapan yang serius.
Respon siswa terhadap kegiatan ini pun sangat positif. Mereka merasa lebih berani tampil di depan umum dan semakin termotivasi untuk mengasah kemampuan di bidang seni.
Menurut Wiwik Endang Sulistyo Ningsih, Humas SMAN 1 Bululawang, Senin Budaya memberi ruang luas bagi siswa untuk menunjukkan potensi terbaik mereka.
“Anak-anak sangat senang. Mereka jadi berani menunjukkan bakat yang selama ini belum terlihat,” ujarnya.
“Untuk dance saja, mereka sering menyabet juara di berbagai ajang lomba tingkat Malang Raya,” tambah Wiwik.
Bagi para guru, program ini bukan hanya wadah pertunjukan seni, tetapi juga media pembelajaran karakter. Dari proses persiapan, siswa belajar bekerja sama, saling mendukung, dan menumbuhkan empati terhadap teman yang tampil. Mereka juga belajar pentingnya menghargai budaya lain dan menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya sendiri.

Lebih dari sekadar ajang seni, Senin Budaya menjadi sarana untuk memotivasi siswa lain agar berani tampil dan percaya diri. Guru hanya berperan sebagai pendamping, sementara ide dan konsep penampilan sepenuhnya berasal dari para siswa. Dari sinilah bakat-bakat baru bermunculan ada yang pandai menari, bernyanyi, bahkan ada yang menunjukkan kemampuan memimpin kelompok atau menjadi pembawa acara.
Program ini juga sejalan dengan semangat pendidikan abad ke-21 yang menekankan deep learning, pembelajaran mendalam yang menyentuh aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
“Ketika pembelajarannya menyenangkan, maka hasilnya akan lebih bermakna. Anak-anak belajar dengan hati,” pungkas Wiwik.
Pingback: Vanessya Oscar, Menumbuhkan Percaya Diri Lewat Modeling - Berpola
Pingback: Menyelam Bersama Bayi, Kisah Jowvy Kumala Membangun Water Fox Swim School di Makassar - Berpola
Pingback: Ketika Dapur Sekolah Menjadi Tempat Anak-Anak Menempa Masa Depan - Berpola
Pingback: Topeng Panji Setyakasih, Ketika Tradisi Bicara Tentang Cinta dan Ketulusan - Berpola
Pingback: Melompat Batas, Menyulam Dialog: Prodi Seni FIB UB dan Ekosistem Seni Malang Raya - Berpola