Vanessya Oscar, Menumbuhkan Percaya Diri Lewat Modeling

Kabupaten Malang, Berpola — Di usia 24 tahun, Vanessya Oscar Permatasari, atau akrab disapa Vanes, telah menapaki dunia modeling selama delapan tahun. Perjalanannya dimulai ketika ia masih duduk di bangku kelas sekolah menengah atas. Awalnya, semua berawal dari rasa penasaran.

“Dulunya cuma iseng nyoba, ternyata cocok,” ujarnya sambil tersenyum, Selasa (14/10/2025).

Sosok Vanessya Oscar Permatasari (Foto:Ist/Berpola)

Sejak itu, dunia model menjadi ruang bagi Vanes untuk mewujudkan mimpinya. Ia kerap terlibat dalam berbagai peragaan busana, bahkan pernah merancang sendiri kostum yang ia kenakan. Dunia model bukan sekadar tentang penampilan bagi Vanes, melainkan wadah untuk menyalurkan kreativitas dan menumbuhkan rasa percaya diri.

Pada 2018, bersama rekannya, ia mendirikan Morpho Modeling School, sekolah model yang berlokasi di Kabupaten Malang. Ide ini muncul dari keinginannya agar anak-anak di wilayah kabupaten juga memiliki kesempatan belajar modeling tanpa harus jauh-jauh ke Kota Malang.

“Biasanya sekolah model itu kan setahun, tapi kalau di tempat kami ada juga program pelatihan cepat, dua bulan saja,” kata Vanes.

Di sekolah itu, Vanes berperan ganda sebagai pelatih sekaligus konselor. Ia tak hanya mengajarkan teknik pose dan berjalan di atas catwalk, tetapi juga memberi bimbingan psikologis kepada murid-muridnya.

“Saya ingin mereka berani tampil, bukan sekadar cantik di depan kamera,” katanya.

Peserta didiknya pun datang dari berbagai usia, mulai dari 4 hingga 25 tahun. Kurikulumnya mencakup fashion style, fashion photography, etika model, tata rias, tata busana, praktik fashion show, hingga sesi foto profesional.

Baca juga: Senin Budaya di SMAN 1 Bululawang, Wujud Pembelajaran Berbasis Karakter

“Ada beberapa kegiatan yang diajarkan di kelas modeling, bukan hanya sekedar catwalk” tegasnya.

Selain mengajar di Morpho, Vanes juga aktif membina ekstrakurikuler modeling di beberapa sekolah. Aktivitas ini menjadi salah satu cara untuk menumbuhkan keberanian dan kreativitas anak-anak di Kabupaten Malang.

Antusiasme para siswa menjadi sumber semangat tersendiri baginya. “Saya paling senang ketika mereka bisa tampil percaya diri di atas panggung, menerapkan apa yang sudah diajarkan,” ucapnya.

Vanes bersama anggota ekstrakurikuler modeling (Foto: Ist/Berpola)

Dalam setiap sesi latihan, Vanes menerapkan metode peer tutor atau tutor sebaya, di mana model senior membimbing junior. Tujuannya, agar tidak ada jarak di antara mereka.

Kini, di tengah kesibukannya sebagai pelatih dan konselor, Vanes masih aktif mengasah diri lewat berbagai kegiatan entertain.

Baginya, modeling bukan hanya tentang busana atau gaya, tetapi juga tentang proses menemukan keberanian dan kepercayaan diri.

“Dari dulu saya selalu percaya, setiap anak punya potensi. Tugas kita hanya membantu mereka menemukannya,” tutupnya. (Ola)

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *