
Malang, Berpola- Dari Malang, denyut kesenian tradisional itu terus bergerak, pelan namun pasti. Di tengah perubahan zaman, kelompok bantengan Putra Mandala Wisanggeni hadir membawa satu keyakinan: tradisi tidak boleh hilang, tetapi juga tidak bisa dibiarkan berjalan tanpa pembaruan.
Didirikan pada Desember 2022, Putra Mandala Wisanggeni lahir dari kegelisahan yang sama yakni minimnya minat masyarakat terhadap bantengan pada masa lalu. Dwi Laksana, salah satu penggerak kelompok ini, mengenang masa ketika kesenian tersebut sempat kurang diminati.
Baca juga: Bukan Sekadar Tawa, Ludruk Dagelan Menjadi Panggung Ekpresi Mahasiswa
“Dulu bantengan itu kurang peminat, tapi sekarang sudah mulai diterima lagi di masyarakat, bahkan jadi lebih familiar,” ujarnya.
Perubahan itu, menurut Dwi, tidak terjadi begitu saja. Ada upaya untuk menghadirkan inovasi tanpa meninggalkan akar tradisi. “Sebenarnya bantengan masih sama seperti dulu, hanya metodenya yang berbeda. Pengembangannya juga beda,” katanya.

Ia menambahkan, dalam beberapa waktu terakhir, arah pengembangan justru kembali pada nuansa tradisional. “Akhir-akhir ini malah kembali ke arah gamelan lagi,” ucapnya.
Sebelum pertunjukan dimulai, rangkaian persiapan dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Salah satu yang tidak pernah terlewat adalah menyiapkan sesajen.
“Sebelum tampil, kita pasti menyiapkan properti seperti sesajen,” kata Dwi.
Dalam tradisi bantengan, sesajen bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian penting yang sarat makna spiritual. Di balik sebuah pertunjukan, ada banyak pihak yang terlibat. Komposisinya tidak selalu sama, bergantung pada kebutuhan dan permintaan.
“Tergantung permintaan. Kalau customer minta dengan gamelan, kita harus menyediakan panjak juga,” jelasnya. Ia menambahkan, selain pemain bantengan, ada pula bopo yang berperan sebagai pawang. “Jadi kita harus menyediakan pemain, panjak, dan juga bopo,” ujarnya.
Baca juga : Perjalanan Gaga Rizky Membawa Wayang Suket Menembus Panggung Dunia
Perlengkapan yang digunakan pun khas dan sarat simbol. Kepala banteng menjadi ikon utama, disertai kerangka tubuh dan kain hitam yang menutupinya. “Perlengkapannya ada kepala banteng, kerangka, kain hitam, dan juga sesajen,” tutur Dwi.
Bagi Putra Mandala Wisanggeni, perjalanan ini bukan sekadar soal tampil di depan penonton. Lebih dari itu, mereka ingin memastikan bahwa bantengan tetap memiliki tempat di hati masyarakat. “Tujuan kami melestarikan budaya, tapi juga memberi inovasi supaya tetap bisa diterima,” kata Dwi.
Dari Malang, langkah kecil itu terus dijaga. Bantengan tidak lagi sekadar warisan yang dikenang, tetapi menjadi ruang hidup yang terus bergerak menyatu dengan masyarakat, mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati dirinya.
Penulis: Lorensia Gischa Datu
Editor: Fernando Simatupang