
Yogyakarta, Berpola β Di tangan banyak orang, rumput hanya akan kering, patah, lalu dilupakan. Namun di tangan Gaga Rizky, rumput justru menjadi pengingat: bahwa kebudayaan bisa tumbuh dari hal-hal paling sederhana. Dari helai-helai rumput yang dianyam perlahan, Gaga merawat cerita, ingatan, sekaligus kegelisahan tentang warisan budaya yang kian menjauh dari generasi muda.
Ketertarikan Gaga pada wayang berawal dari kebiasaan menemani kakeknya menonton pertunjukan wayang. Ia belum sepenuhnya memahami lakon atau filosofi di baliknya, tetapi suara dalang dan bayangan tokoh di kelir telah menanamkan rasa ingin tahu. Rasa itu tumbuh, hingga akhirnya menemukan jalannya sendiri lewat wayang suket, wayang tanpa pakem, tanpa sekat, dan tanpa jarak dengan kehidupan sehari-hari.
Berawal dari Bangku Sekolah Dasar

Perkenalan Gaga dengan wayang suket terjadi saat ia duduk di kelas 4 sekolah dasar. Berbagai buku panduan wayang suket menjadi sumber imajinasi awalnya. Di usia sekitar sembilan tahun, ia mulai mencoba membuat wayang sendiri. Bukan meniru sepenuhnya, melainkan mencari bentuk yang ia pahami dan rasakan.
βWayang suket itu bebas. Saya bisa bercerita tanpa takut salah pakem,β kata Gaga.
Wayang suket memang telah dikenal di beberapa daerah di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Namun berbeda dengan wayang kulit atau golek, wayang suket tidak memiliki aturan baku. Tidak ada pakem ketat soal tokoh maupun alur cerita. Bentuknya pun sederhana, hanya mengenal karakter laki-laki alus, laki-laki gagah, perempuan, dan anak-anak.
Baca juga : Topeng Panji Setyakasih, Ketika Tradisi Bicara Tentang Cinta dan Ketulusan
Cerita Rakyat dan Isu Hari Ini

Dalam pementasannya, Gaga memilih mengangkat cerita rakyat Nusantara. Kisah seperti Roro Jonggrang dan Malin Kundang menjadi medium untuk menjaga tradisi lisan. Namun cerita-cerita itu tidak dibiarkan beku.
βSaya sering memasukkan nilai-nilai atau kejadian yang sedang terjadi sekarang, supaya penonton merasa dekat,β tuturnya.
Bagi Gaga, wayang bukan sekadar nostalgia, tetapi ruang dialog dengan masa kini. Cerita lama diberi napas baru agar tetap relevan bagi generasi sekarang.
Merangkai Rumput, Merawat Kesabaran
Wayang suket dibuat dari rumput mendong, rumput panjang yang memiliki serat kuat. Namun prosesnya tidak sesederhana memetik dan merangkai. Rumput harus berada di kondisi yang pas. Terlalu kering akan rapuh, terlalu basah akan membusuk.
βBiasanya rumput dipanen dulu, lalu dikeringkan. Setelah itu baru dianyam,β jelas Gaga.
Waktu pembuatannya pun beragam. Ada wayang yang selesai dalam dua jam, ada pula yang membutuhkan waktu lebih dari sehari. Semuanya bergantung pada ukuran dan karakter tokoh yang dibutuhkan. Tidak ada teknik pasti. Setiap wayang dikerjakan melalui proses penyesuaian.
Menariknya, Gaga memilih bekerja sama dengan petani rumput mendong. Baginya, kesenian seharusnya tidak berdiri sendiri. βSaya ingin proses ini juga memberdayakan petani,β katanya.
Baca juga : Terinspirasi Prasasti Sangguran, Joglo Pawiyatan Lahirkan Batik Beraksara Kawi
Lebih Dihargai di Luar Negeri

Ironi justru terasa ketika Wayang Suket Indonesia melangkah ke luar negeri. Gaga dan komunitasnya kerap mendapat undangan pementasan ke Australia, Hungaria, Italia, Korea, hingga Thailand. Respons penonton sangat antusias.
βDi luar negeri, mereka sangat menghargai proses dan ceritanya,β ungkapnya.
Sementara di Indonesia, ketertarikan masyarakat justru sempat menurun. Meski belakangan mulai dikenal kembali, peminatnya masih terbatas, terutama di kalangan anak muda.
Mengenalkan Wayang Suket Sejak Dini

Saat ini, Wayang Suket Indonesia rutin berlatih seminggu sekali dan fokus berkegiatan di wilayah Yogyakarta. Mereka juga menjalankan program kunjungan ke sekolah-sekolah untuk mengenalkan wayang suket sejak dini.
Respons sekolah cukup menggembirakan. Banyak siswa terlihat antusias, bahkan mulai mencoba mendalang dengan gaya mereka sendiri. βAda anak-anak yang langsung berani tampil. Itu yang membuat kami semangat,β ujar Gaga.
Ke depan, Gaga berencana mengembangkan program ini menjadi pementasan bersama siswa, dengan Wayang Suket Indonesia sebagai pendamping.
Baca juga : Sari, Pipo, dan Jejak Masa Kecil: Cara Ucol Menemukan Dirinya Lewat Gambar
Bagi Gaga, wayang suket bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan medium pembentukan karakter. Ia berharap wayang suket dapat terus hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
βKebudayaan itu punya nilai adiluhung. Kalau dikenalkan sejak dini, bisa membentuk karakter anak-anak,β katanya.
Namun harapan itu, menurutnya, membutuhkan dukungan lebih luas. Kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pihak menjadi kunci agar wayang suket tetap memiliki ruang hidup di negerinya sendiri.