Program Dosen Berkarya FIB UB Perkuat Kolaborasi Akademik dengan UPM melalui Integrasi Kepakaran dan Publikasi Internasional

Foto bersama dosen FIB UB dan FBMK UPM dalam kegiatan kolokium Program Dosen Berkarya (DOKAR) di Selangor, Malaysia (29/7/26). (Foto: Ist/Berpola)

SELANGOR, MALAYSIA — Pertemuan akademik antara Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya dan Universiti Putra Malaysia tidak berhenti pada pertukaran gagasan. Kolokium yang berlangsung di Aula Universiti Putra Malaysia, Selangor, Selasa (28/7/2026), diarahkan menjadi pintu masuk bagi kerja sama penelitian, pengajaran, pengabdian kepada masyarakat, hingga publikasi ilmiah bersama.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Dosen Berkarya (DOKAR) FIB Universitas Brawijaya. Sebanyak empat dosen FIB UB bertemu dengan sekitar 10 dosen UPM untuk memperkenalkan bidang kepakaran, pengalaman akademik, serta minat penelitian masing-masing.

Pertemuan dipimpin Dr. Fazilah Husin dari Jabatan Bahasa Melayu, Fakultas Bahasa Modern dan Komunikasi UPM. Agenda diawali dengan perkenalan bidang keilmuan dan aktivitas akademik dari kedua institusi. Dari perkenalan tersebut, peserta memetakan irisan kepakaran yang berpotensi dikembangkan menjadi kerja sama.

Bagi Dr. Eti Setiawati, M.Pd., Ketua DOKAR Diksasindo, pemetaan kepakaran menjadi bagian penting dalam membangun kolaborasi akademik. Kerja sama, menurut dia, tidak cukup hanya dibangun melalui pertemuan antarlembaga, tetapi perlu menemukan titik temu antara kompetensi dan minat penelitian para dosen.

“Dalam kolokium itu dilakukan perbincangan antara Universitas Brawijaya dengan UPM. Kami saling memperkenalkan diri masing-masing dosen, termasuk kepakaran yang dimiliki oleh dosen yang akan berkolaborasi,” ujar Eti, Sabtu (29/8/2026).

Baca juga: Mengejar Pengakuan Global, Jurnal DSAB FIB UB Berbenah dari Dapur Redaksi

Menurut dia, pertukaran informasi mengenai kepakaran memungkinkan dosen dari kedua universitas dipertemukan berdasarkan bidang keilmuan yang memiliki irisan.

“Misalnya, ada dosen yang memiliki kepakaran di bidang drama dan di UPM juga terdapat dosen dengan kepakaran yang sama. Mereka dapat bekerja sama, baik dalam penelitian, pengabdian, maupun pengajaran,” katanya.

Dari Pertemuan ke Artikel Ilmiah

Salah satu gagasan yang muncul dari pertemuan tersebut adalah kolaborasi penulisan artikel ilmiah. Dosen UB dan UPM dengan kepakaran atau minat penelitian yang beririsan akan dipertemukan dalam kelompok-kelompok kecil untuk menentukan topik dan menyusun rencana penelitian.

Artikel yang dihasilkan diarahkan untuk dipublikasikan dalam prosiding internasional terindeks Scopus. Untuk mencapai tujuan tersebut, kolaborasi tidak hanya berhenti pada penentuan topik, tetapi dilanjutkan dengan pembagian peran antarpengarang, pengumpulan dan penentuan data, analisis, penyusunan naskah, telaah internal, hingga penyempurnaan artikel sebelum diajukan ke forum ilmiah.

Skema tersebut menunjukkan upaya menjadikan pertemuan akademik sebagai kerja bersama yang memiliki keluaran terukur. Pada saat yang sama, penulisan bersama diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi hubungan penelitian yang berlangsung lebih panjang antara kedua universitas.

Kolaborasi juga tidak terbatas pada publikasi. Pertemuan membuka peluang kerja sama dalam seminar internasional, kuliah tamu, pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat.

Membuka Ruang Kolaborasi Penelitian Inklusi

Selain publikasi, isu inklusi menjadi salah satu bidang yang mempertemukan minat akademik dosen kedua institusi.

Eti mengatakan, salah seorang peserta DOKAR memiliki peminatan pada isu inklusi. Di sisi lain, Prof. Vijay bersama mahasiswa doktoralnya di UPM tengah melakukan penelitian mengenai inklusi. Kesamaan perhatian tersebut kemudian menjadi ruang untuk bertukar pengalaman mengenai pengembangan penelitian, termasuk isu anak dengan disleksia.

Baca juga: PSG UB Pacu Kolaborasi Riset Gender di Konferensi Nasional dan KLB ASWGI 2025

“Di antara peserta DOKAR ada yang memiliki peminatan terhadap inklusi, sementara Prof. Vijay bersama mahasiswa S3-nya sedang melakukan penelitian tentang inklusi. Karena itu, kami saling bertukar pikiran dan pengalaman mengenai bagaimana meneliti inklusi, terutama pada anak yang mengalami disleksia,” ujar Eti.

Pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa kerja sama akademik dapat tumbuh dari pertemuan kepakaran yang spesifik. Alih-alih membangun kerja sama secara umum, dosen dari kedua institusi diarahkan menemukan bidang yang sama-sama dikuasai atau diminati untuk kemudian dikembangkan dalam bentuk kegiatan akademik.

Menjaga Keberlanjutan Jejaring

Poster Kolokium Cendekiawan Antarabangsa UPM–Universitas Brawijaya, 29 Juli 2026.
(Foto: Ist/Berpola)

Kolokium FIB UB dan UPM pada akhirnya tidak hanya diposisikan sebagai agenda pertukaran akademik. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun jejaring yang dapat dilanjutkan melalui kegiatan dan produk akademik bersama.

Integrasi kepakaran menjadi dasar untuk mempertemukan dosen dengan bidang yang saling melengkapi. Dari sana, kolaborasi dapat dikembangkan secara bertahap, mulai dari diskusi dan pertukaran pengalaman, penelitian bersama, publikasi, seminar internasional, hingga kegiatan pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat.

Bagi FIB UB, keberlanjutan kerja sama menjadi penting agar hubungan akademik yang dibangun melalui DOKAR tidak berhenti pada satu pertemuan. Kolokium dengan UPM diharapkan menjadi salah satu titik awal untuk memperkuat jejaring akademik kedua institusi melalui kerja sama yang bertumpu pada kepakaran dan kebutuhan penelitian masing-masing.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *