
Di tengah mahalnya biaya pendidikan, seorang guru di Kabupaten Malang memilih jalan sederhana: membuka pintu rumahnya untuk anak-anak yang haus ilmu.
Malang, Berpola – Sore itu, udara di Perumahan Puri Kartika, Arjowinangun, terasa hangat dan sarat makna. Dari sebuah rumah sederhana, terdengar lantunan ayat kursi bersahut-sahutan. Beberapa anak masih terbata membaca Iqra, sebagian lain mulai fasih menelusuri ayat demi ayat Al-Qur’an. Dari balik jendela, suara itu mengalun seperti pelukan lembut bagi siapa pun yang mendengarnya.
Rumah itu adalah tempat berdirinya TPQ Al-Qori, ruang belajar kecil yang tumbuh bukan dari proyek besar, melainkan dari niat tulus seorang perempuan bernama Siti Komariyah, M. Pd., akrab disapa Bu Kom. Di luar aktivitasnya sebagai guru di salah satu SMA negeri di Kabupaten Malang, Bu Kom mengabdikan sore harinya untuk menjadi pendidik bagi puluhan anak di lingkungan tempat tinggalnya.

Baca juga: Tak Sekadar Bimbel, ImaPrivate Jadi Rumah Belajar untuk Tumbuh Bersama
“Dulu, saya sering melihat anak-anak di sekitar rumah ingin belajar mengaji, tapi belum ada tempat yang menampung mereka secara rutin,” kenang Bu Kom dengan suara pelan. “Dari situ saya berpikir, kenapa tidak buka tempat belajar gratis saja?”
Maka lahirlah TPQ Al-Qori. Tanpa pungutan biaya, tanpa iuran bulanan, tanpa pamrih. Sejak tiga tahun lalu, rumah Bu Kom menjadi ruang belajar gratis yang kini menampung lebih dari 50 anak dari berbagai penjuru. Ada yang datang dari sekitar kompleks, ada pula yang menempuh jarak hingga dua kilometer setiap sore, hanya untuk bisa duduk bersama dan belajar mengaji.
Bu Kom tidak sendiri. Ia dibantu oleh Alliyan, Meriska, Feby, dan beberapa wali santri yang ikut terlibat menjadi pengajar. “Alhamdulillah, makin hari makin banyak yang datang. Semangat mereka itu jadi energi buat saya,” ujarnya tersenyum.

Menyalakan Semangat, Menebar Kasih
Di TPQ Al-Qori, anak-anak tak hanya belajar membaca Al-Qur’an. Mereka juga belajar adab, tata cara salat, wudu, dan nilai-nilai kehidupan sederhana: tentang menghargai guru, menyayangi teman, serta mencintai proses belajar. Sesekali, jika ada rezeki lebih, Bu Kom membelikan tas atau baju mengaji untuk anak-anaknya. “Yang penting mereka senang dan semangat datang ke sini,” katanya sambil tertawa kecil.
Baca juga: Belajar Tanpa Bosan, TA Zam Zam Menemukan Cara untuk Belajar Bahagia
Sesekali, ruang tamu itu berubah menjadi tempat menggambar dan mewarnai. Riuh tawa anak-anak terdengar hingga ke jalan depan rumah. Dari situ, siapa pun bisa melihat: pendidikan sejati bukan soal gedung megah atau fasilitas lengkap, melainkan tentang kasih, kesabaran, dan niat tulus untuk menyalakan masa depan.
“Harapan saya sederhana,” ucap Bu Kom lirih namun mantap. “Semoga tempat ini terus menjadi ruang belajar yang menyenangkan untuk semua anak, tanpa batas.”
Dari tangan seorang guru yang sederhana, lahir cahaya kecil yang menuntun banyak hati. Di rumah itu, setiap huruf hijaiyah yang dilafalkan anak-anak adalah doa, dan setiap senyum mereka adalah bukti bahwa kasih dan ilmu, bila ditanam dengan ikhlas, akan tumbuh menjadi cahaya yang tak pernah padam.
“هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ”.
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).
MasyaaAllah Tabarakallah.. semoga kebaikan bu Kom menular kpd sesama, dan semoga membawa keberkahan rahmat Allah Swt di dunia & di akhirat Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin.
MasyaaAllah Tabarakallah.. semoga kebaikan bu Kom menular kpd sesama, dan semoga membawa keberkahan rahmat Allah Swt di dunia & di akhirat Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin.