Menyala di Tengah Gelap, Perjuangan Guru di TBM Lentera Talangsuko

Kabupaten Malang, Berpola- Di sebuah sudut kecil Desa Talangsuko, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, cahaya kecil terus menyala di tengah gelapnya minat baca yang kian meredup. Di antara deru motor dan suara jangkrik malam, puluhan anak duduk bersila di atas tikar, mencatat, mewarnai, dan tertawa kecil setiap kali lidah mereka terpeleset membaca. Mereka tidak sedang di kelas formal, tapi di tempat yang lahir dari keyakinan seorang guru Taman Baca Masyarakat (TBM) Lentera Talangsuko.

Di sinilah Ahmad Ainul Yaqin, 41 tahun, guru di SMAN 1 Bululawang, menghidupkan kembali semangat belajar anak-anak desa lewat buku-buku yang ia kumpulkan dari gudang jamur bekas.

Sosok Ahmad Ainul Yaqin
(Foto: Vranola/Berpola)

Dari ruang sederhana itu, ia menyalakan lentera kecil yang kini jadi tumpuan harapan banyak anak. Semua bermula dari niat sederhana: membantu anak-anak yang kesulitan belajar.

“Awalnya cuma pengin bantu mereka ngerjain PR,” kenang Ainul.

Tapi lama-kelamaan, ia mulai membawa buku-buku dari rumah dan meminjamkannya ke anak-anak sekitar. Dari situ, ide untuk membuat taman baca mulai tumbuh.

Yang dulu hanya gudang jamur kosong, kini berubah jadi tempat belajar yang hidup. Rak-rak kayu dipenuhi buku anak, ensiklopedia bergambar, komik, sampai novel.

Sebagian besar berasal dari kantong pribadi Ainul, sisanya hasil sumbangan dari teman dan komunitas literasi yang percaya bahwa membaca masih punya masa depan di desa. Tapi membangun minat baca di Talangsuko bukan perkara mudah.

Baca juga :
Gelis Merdeka Konsisten Menumbuhkan Literasi di SMAN 1 Malang

“Bagi banyak orang tua, yang penting anak bisa baca, udah cukup,” ujarnya.

Buku sering dianggap barang mewah apalagi buku anak bergambar yang harganya bisa selangit untuk ukuran desa. Karena itu, TBM Lentera Talangsuko hadir bukan sekadar tempat belajar, tapi juga jembatan antara anak-anak dengan dunia yang lebih luas.

Setiap malam, Ainul bersama beberapa pemuda desa mendampingi anak-anak belajar. Mereka tidak mengajar dengan sistem kelas. Semua disesuaikan dengan kebutuhan tiap anak.

“Kalau ada yang kelas dua SD tapi belum lancar baca, ya kami dampingi dari awal lagi. Nggak apa-apa, semua punya waktunya sendiri,” jelasnya.

Bagi Ainul, kunci dari taman baca ini bukan sekadar tumpukan buku, tapi suasana yang membuat anak-anak betah. Ia ingin mereka datang bukan karena disuruh, tapi karena penasaran dan bahagia belajar.

“Sebenarnya anak-anak nggak malas baca. Mereka cuma belum punya tempat dan kesempatan,” katanya sambil tersenyum.

Beberapa koleksi buku TBM Lentera (Foto: Vranola/Berpola)

Kini, setiap sore dan malam, halaman kecil TBM Lentera selalu ramai. Ada yang belajar menulis, ada yang menggambar, ada juga yang sekadar membaca komik sambil rebahan di tikar. Bagi Ainul, semua itu adalah bentuk belajar yang sah.

Meski kerja ini sunyi dan tanpa sorotan besar, Ainul tidak pernah berhenti. Ia tahu, lentera kecil yang dinyalakannya mungkin tak bisa menerangi dunia. Tapi setidaknya, cukup untuk membuat satu anak mengenal kata “mimpi.”

Setiap kali ditanya kenapa masih bertahan di tengah segala keterbatasan, Ainul cuma tersenyum kecil.

“Saya cuma pengin mereka punya masa depan yang lebih terang,” katanya pelan.

Di dunia yang makin sibuk dengan layar, ia memilih tetap memegang buku. Di saat banyak orang mengejar sorotan, ia justru menyalakan lentera di tempat yang sepi. Ia tahu, cahaya sekecil apa pun tetap berarti bagi yang sedang mencari jalan.

TBM Lentera Talangsuko bukan hanya tentang membaca buku, tapi tentang menyalakan harapan tentang meyakini bahwa pengetahuan bisa lahir dari tempat sesederhana gudang jamur, dan perubahan besar bisa dimulai dari tangan satu guru yang tak lelah percaya.

Di sela tumpukan buku dan tawa anak-anak yang belum fasih mengeja, Ainul Yaqin berdiri seperti namanya: sebuah keyakinan yang menyala pelan, tapi tak pernah padam. (ola)

10 Comments

  1. Farida NF

    Menumbuhkan minat baca memang bukan perkara mudah, tapi itu bisa dilakukan dengan kunci konsistensi. Semangat para pegiat literasi🔥

  2. awan

    Waww, susah sih numbuhin minat baca di masa sekarang, anak anak lebih nyari senang instan dan ga banyak pikir daripada ngelakuin membaca yang butuh berpikir

  3. ErnaWDA

    Jadi pegiat literasi memang gak mudah. Butuh konsisten, semangat dan ketulusan. dan aku masih berjuang di sini.

    Dan kalian bener² bikin terharu.
    Tau banget gimana perjuangannya dari awal meski cuma memantau dari jarak jauh. Yang awal dulu cuma pake gelaran tikar tiap.hari minggu, sekarang sudah sampai ke titik ini. Semangat terus mas yaqin dan dek farida. Semoga Allah senantiasa memudahkan apapun urusan kalian. Salam sayang untuk Nadia.
    Semangat Literasi 👆

    Salam Literasi.

  4. Chanifah

    Bisa karena terbiasa….
    Kebiasaan membaca buku….perlu dilakukan sejak dini….
    Seberspa kecil yang dibaca akan berdampak besar di kemudin hari.
    Semangat Pak Ainul
    💪💪🫶🫶👍👍

  5. Blondo

    Semangat utk bang yaqin beserta istri yg selalu bermanfaat utk sekitar…

  6. Mohammad Budi S

    Terimakasih ,pak ainul atas energi positif nya ,sangat menginspirasi🔥

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *