Fina Mulianastiti, Menulis untuk Menjaga Masa Kecil Tetap Hidup

Fina Mulianastiti bersama karyanya (Foto: Vranola/Berpola)

Malang, Berpola– Setiap sore setelah mengajar di SMPN 4 Malang, Fina Mulianastiti punya kebiasaan yang jarang ditinggalkan, menulis cerita anak. Di tengah tumpukan buku pelajaran dan tugas siswa, ia selalu menyisihkan waktu untuk menuangkan imajinasi.

Bagi Fina, menulis bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Itu adalah bentuk cinta pada literasi, pada anak-anak, dan pada dunia imajinasi yang dulu menemaninya tumbuh.

“Menulis cerita anak itu seperti kembali ke masa kecil,” katanya tersenyum.

Fina mulai menulis cerita anak pada tahun 2020. Saat banyak orang menghabiskan waktu di rumah karena pandemi, ia justru menemukan dunia baru, dunia anak-anak dengan segala keluguan dan keajaibannya.

Dalam prosesnya, Fina tak bekerja sendiri. Ia sering berdiskusi dengan putrinya, Muetia, untuk mencari ide dan menyesuaikan gaya bahasa. “Menulis untuk anak-anak itu justru paling menantang. Bahasanya harus sederhana, tapi pesannya tetap terasa,” ujarnya.

Kecintaannya pada buku berawal dari masa kecil. Fina tumbuh bersama karya-karya Hans Christian Andersen. Ia masih ingat bagaimana kisah Gadis Penjual Korek Api membuatnya menangis, atau Si Itik Buruk Rupa yang menumbuhkan rasa empati.

“Waktu kecil saya sering membaca buku-buku Andersen. Ceritanya bisa bikin saya sedih sekaligus bahagia. Dari situ saya belajar, buku punya kekuatan untuk menyentuh hati,” tutur Fina mengenang.

Kenangan itu melekat kuat dan menjadi alasan mengapa ia ingin menulis cerita untuk anak-anak. Ia ingin menghadirkan perasaan hangat yang sama bagi generasi baru pembaca.

Kecintaannya pada literasi juga ia tularkan kepada putrinya. Sejak kecil, Fina sering membelikan buku untuk Muetia. Dari kebiasaan itulah lahir kebersamaan membaca dan berdiskusi tentang isi cerita.

“Kadang Muetia komentar, ‘Bu, tokohnya lucu tapi kenapa sedih?’ Nah, dari situ saya tahu tulisan saya berhasil atau belum,” katanya sambil tertawa.

Sebagai guru Bahasa Indonesia, Fina terbiasa mengajarkan cara memahami teks dan nilai-nilai dalam cerita. Namun, menulis untuk anak-anak tetap menjadi tantangan tersendiri.

“Sulit membuat cerita yang lucu, ringan, tapi tetap punya makna. Kadang saya minta Muetia menilai apakah ceritanya menarik atau tidak,” ujarnya.

Sebelum menulis cerita anak, Fina lebih sering menulis karya nonfiksi. Beralih ke fiksi anak membuatnya harus belajar banyak hal baru. Ia pun bergabung dengan komunitas menulis untuk memperluas wawasan dan menemukan teman diskusi.

“Kalau ingin berkembang, kita memang harus punya lingkungan yang mendukung,” katanya.

Usahanya berbuah manis. Beberapa karyanya berhasil diterbitkan oleh Balai Bahasa Jawa Timur. Kini, ia juga mulai menulis cerita dengan sentuhan budaya lokal, agar anak-anak tidak hanya terhibur, tetapi juga mengenal akar budayanya sendiri.

“Anak-anak perlu tahu bahwa daerah mereka punya banyak cerita indah. Kalau bukan kita yang menuliskan, siapa lagi?” ujarnya mantap.

Bagi Fina, menulis cerita anak adalah cara sederhana untuk menyalakan imajinasi. Dari ruang kelas hingga meja kerjanya di rumah, ia terus menulis agar cahaya kecil dari buku-buku tidak pernah padam di hati anak-anak. (ola)

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *