
Kab. Malang, Berpola- Di sebuah sudut Kabupaten Malang, tepatnya di Kecamatan Gondanglegi, langkah-langkah kecil menuju mimpi besar itu dimulai. Dari lingkungan sekolah yang tenang namun penuh semangat belajar, Fathul Basith menapaki perjalanannya hingga berhasil diterima di Jurusan Kedokteran Universitas Airlangga melalui jalur SNBP 2026 sekaligus meraih Golden Ticket.
Fathul merupakan siswa SMAN 1 Gondanglegi, sekolah negeri yang dikenal aktif mendorong prestasi akademik dan nonakademik. Di sekolah ini, suasana belajar tidak hanya berfokus pada capaian nilai, tetapi juga pengembangan karakter dan kepemimpinan siswa. Lingkungan yang suportif, guru yang mendampingi, serta kultur kompetitif yang sehat menjadi bagian dari keseharian siswa.
Secara tidak langsung, atmosfer tersebut membentuk Fathul menjadi pribadi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif dalam berbagai kegiatan. Selama masa sekolah, ia berhasil meraih delapan prestasi tingkat nasional di bidang olimpiade dan robotik, termasuk kompetisi yang diselenggarakan oleh Universitas Padjadjaran dan Institut Pertanian Bogor. Ia juga aktif memimpin di empat organisasi sekaligus, serta konsisten menjalankan perannya sebagai tahfidz Al-Qur’an.
Baca juga : SMAN 2 Kota Malang Dorong Prestasi Siswa dengan UKBI
Namun, perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Di kelas XII, Fathul sempat menghadapi ujian kesehatan yang membuatnya harus beristirahat selama tiga minggu. Dalam kondisi tersebut, ritme belajar yang selama ini ia jaga sempat terhenti.
Alih-alih menjadi penghalang, fase itu justru menjadi titik balik. Fathul menuturkan bahwa masa tersebut memberinya ruang untuk kembali menata semangat dan tujuan.
“Semua kerja keras, air mata, dan doa akhirnya terbayar,” ungkapnya.
Sekolah sebagai Ruang Tumbuh
Bagi Fathul, SMAN 1 Gondanglegi bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang untuk bertumbuh. Ia menjelaskan bahwa dukungan dari lingkungan sekolah turut membantunya melewati masa sulit.
Secara tidak langsung, ia merasakan bahwa budaya sekolah yang mendorong siswa untuk berkembang secara seimbang akademik, organisasi, dan spiritual menjadi faktor penting dalam perjalanannya.
Kepala sekolah, Sugeng Harinanto, S.Pd., M.Pd., juga melihat hal serupa. Ia mengungkapkan rasa bangga atas pencapaian Fathul dan menilai bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari kerja keras yang konsisten.
Baca juga : Senin Budaya di SMAN 1 Bululawang, Wujud Pembelajaran Berbasis Karakter
Menurutnya, sekolah berupaya menciptakan lingkungan yang tidak hanya menekankan prestasi, tetapi juga pembentukan karakter. Secara tidak langsung, ia berharap capaian ini dapat menjadi motivasi bagi siswa lain.
Bangkit dan Menemukan Arah
Masa sakit yang dialami Fathul menjadi bagian penting dalam perjalanannya. Ia mengatakan bahwa pengalaman tersebut mengajarkannya untuk lebih memahami proses dan tidak hanya berfokus pada hasil.
Ia menjelaskan bahwa setelah pulih, dirinya kembali membangun ritme belajar dengan lebih terarah. Dari situlah langkahnya menguat hingga akhirnya berhasil meraih Golden Ticket sebuah capaian yang menjadi penanda keberhasilannya menembus persaingan ketat.
Bagi Fathul, keberhasilan ini bukan sekadar soal diterima di perguruan tinggi impian. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai hasil dari keseimbangan antara usaha dan keyakinan.
“Tidak ada yang mustahil bagi mereka yang melibatkan Tuhan dalam setiap ikhtiarnya,” tuturnya.
Dari Gondanglegi, cerita itu tumbuh. Bukan hanya tentang satu siswa yang berhasil, tetapi juga tentang bagaimana sebuah lingkungan belajar mampu melahirkan generasi yang siap melangkah lebih jauh. Di sanalah mimpi-mimpi itu dirawat pelan, konsisten, dan penuh keyakinan.
Semoga smanggi ku makin jaya n sukses