Elarissa Hilman, Menyulap Sawah Menjadi Ruang Temu

Titik nol ngopi
Elarissa Hilman Pendiri Titik Nol Ngopi (Foto: Ist/Berpola)

Kabupaten Malang, Berpola– Di saat banyak anak muda berlomba mencari panggung di tengah kota, seorang pria muda justru memilih jalan yang sepi. Di antara hamparan sawah Desa Jambangan, Kecamatan Dampit, ia menyalakan tungku kecil, menyeduh kopi, dan menunggu senja. Namanya Elarissa Hilman Mujtaba.

Sejak 2021, Elarissa mendirikan Titik Nol Ngopi, sebuah warung kopi sederhana di tengah alam terbuka. Tapi lebih dari itu, tempat ini adalah ruang temu. Tempat orang datang bukan hanya untuk menyeruput kopi, tapi juga untuk diam, berbagi cerita, dan pulang dengan perasaan lebih tenang.

“Teringat sulitnya kondisi untuk berkumpul saat pandemi, ruangan terbuka jadi pilihan terbaik saat itu,” cerita Elarissa saat ditemui Berpola, Senin (6/10/2025).

Semua Dimulai dari Motor Tua dan Kotak Kayu Kecil

Kondisi Titik Nol Ngopi (Foto: Ist/Berpola)

Berbekal motor tua dan satu kotak kayu berisi alat seduh, Elarissa memulai semuanya dari nol. Setiap sore, ia parkir di tepi jalan, tepat di pinggir sawah. Tak ada baliho, tak ada bangunan permanen, bahkan listrik pun tak ada. Tapi aroma kopi dan suasana tenang cukup untuk membuat orang datang dan kembali.

Menunya hanya dua. Tapi justru itu yang membuat pengunjung betah, sederhana, tapi berkesan. Dalam sehari, ia bisa menjual lebih dari seratus gelas. Semua disajikan tanpa plastik, tanpa sampah.

“Nggak apa-apa capek, asal nggak nyampah,” katanya, sambil tertawa kecil.

Cinta pada Alam, Dicintai Kembali oleh Sekitar

Keteguhan Elarissa menjaga alam membuat pemilik sawah tak keberatan tanahnya jadi tempat singgah. Tak ada yang rusak, tak ada yang kotor. Justru tanah itu kini jadi saksi banyak perjumpaan dan percakapan bermakna.

Meski konsepnya mulai banyak ditiru, Elarissa tak merasa risau. Ia justru merasa senang bisa jadi inspirasi.

“Senang bisa bantu kasih ide. Siapa tahu itu rezeki buat mereka juga,” ujarnya.

Baca juga :
Menyala di Tengah Gelap, Perjuangan Guru di TBM Lentera Talangsuko

Ruang untuk Mendengar dan Didengar

Kini, Titik Nol Ngopi bukan lagi sekadar warung kopi di pinggir sawah. Ia telah menjelma jadi ruang aman untuk berhenti sejenak, menghela napas, dan merasa didengar.

Elarissa tak mengejar omzet atau cabang di mana-mana. Harapannya sederhana: agar tempat ini terus memberi manfaat.

“Bukan cuma soal jualan kopi. Tapi tentang memberi ruang untuk bahagia, walau cuma sebentar,” tutupnya.

Di dunia yang terus berlari cepat, Elarissa memilih duduk diam. Menyeduh. Mendengar. Dalam keheningan itu, ia menemukan versi terbaik dari dirinya: menjadi manusia yang utuh. (Ola)

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *