
Di tengah derasnya arus digital dan menurunnya minat baca di kalangan pelajar, SMAN 1 Malang tetap konsisten menjaga api literasi. Melalui program Gelis Merdeka (Gerakan Literasi SMANSA Merdeka), sekolah ini terus menumbuhkan budaya membaca dan menulis sebagai bagian dari pengembangan budi pekerti.
Program literasi ini sudah berjalan hampir empat tahun. Mengusung konsep yang berbeda dari sekolah lainnya, kegiatan Gelis Merdeka dilaksanakan setiap hari Senin sebelum jam pelajaran dimulai. Tak hanya membaca, siswa juga diajak menyimak dan mendengarkan, agar terbentuk kebiasaan berpikir kritis dan empatik.
“Literasi bukan sekadar membaca teks, tapi juga memahami makna,” ujar Moh. Syaiful Hafid, Kepala Perpustakaan SMAN 1 Malang sekaligus penggagas program tersebut.
Literasi yang Terintegrasi dengan Pembelajaran
Dalam pelaksanaannya, Gelis Merdeka berkolaborasi erat dengan guru-guru Bahasa Indonesia. Program ini dirancang agar kegiatan literasi tak berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan proses pembelajaran di kelas.
Salah satu inovasi yang lahir dari Gelis Merdeka adalah program “Satu Kelas Satu Buku”. Melalui program ini, setiap kelas didorong untuk menghasilkan satu karya tulis yang kemudian dibukukan.
“Harapannya, anak-anak punya media untuk menuangkan imajinasinya sendiri,” tutur Hafid.
Proses penerbitan dilakukan di bawah bimbingan guru Bahasa Indonesia dan pembimbing akademik. Dengan begitu, setiap karya tidak hanya menjadi tugas sekolah, tetapi juga sarana ekspresi dan pembelajaran menulis yang bermakna.
Baca juga:
Menyala di Tengah Gelap, Perjuangan Guru di TBM Lentera Talangsuko
Perpustakaan Sebagai Pusat Gerakan Literasi
Sebagai Kepala Perpustakaan, Hafid juga memastikan seluruh fasilitas penunjang tersedia. Koleksi buku fiksi dan nonfiksi terus diperbarui agar siswa memiliki banyak pilihan bacaan yang menarik dan relevan.
“Perpustakaan ini menjadi penopang utama dari program literasi yang kami jalankan,” ujarnya.
Hasilnya tak bisa dianggap remeh. Saat ini, sudah ada 114 buku karya guru dan siswa yang berhasil diterbitkan. Angka itu membuat SMAN 1 Malang tercatat sebagai sekolah dengan terbitan karya terbanyak di Jawa Timur.

Tantangan Apresiasi dan Harapan ke Depan
Meski sudah banyak karya lahir, Hafid mengakui masih ada tantangan besar, apresiasi dari siswa sendiri. Tak banyak yang tertarik membeli atau memiliki buku hasil karya teman sekelasnya.
“Mereka bangga punya karya, tapi belum sampai pada tahap menghargainya dengan membeli,” ungkap Hafid.
Kondisi itu tak menyurutkan semangatnya. Setiap tahun, ia tetap berupaya menerbitkan karya baru agar semangat menulis di kalangan siswa tidak padam.
Lebih jauh, Hafid menegaskan bahwa tujuan utama gerakan literasi ini bukan sekadar menghasilkan buku, melainkan membangun kesadaran dan karakter.
“Yang ingin kami bentuk adalah kemampuan bertahan di tengah gempuran teknologi. Literasi menjadi pondasi agar mereka tetap berpikir kritis dan berkarakter,” katanya.
Dengan dukungan fasilitas, pembimbingan guru, dan semangat tak kenal lelah, SMAN 1 Malang terus membuktikan bahwa budaya literasi masih bisa hidup dan tumbuh di tengah dunia yang serba cepat.
Pingback: Menyala di Tengah Gelap, Perjuangan Guru di TBM Lentera Talangsuko - Berpola
Pingback: SMAN 2 Kota Malang Dorong Prestasi Siswa dengan UKBI - Berpola