Bukan Sekadar Tawa, Ludruk Dagelan Menjadi Panggung Ekpresi Mahasiswa

Menutup pementasan dengan senyum dan kebersamaan usai ludruk dagelan “Sekar Wewangen Lelakon ing Srawunge Wektu”.
(Foto: Vranola/Berpola)

Malang, Berpola- Bagi Dr. Dwi Sulistyorini, S.S., M.Hum., ruang belajar tidak selalu identik dengan meja dan papan tulis. Dosen pengampu mata kuliah Apresiasi Sastra Jawa di Universitas Negeri Malang (UM) itu percaya, pemahaman mahasiswa justru menguat saat mereka diberi kesempatan tampil dan mengalami sendiri proses berkesenian.

Keyakinan tersebut ia wujudkan melalui pementasan ludruk dagelan bersama mahasiswa bertajuk Sekar Wewangen Lelakon ing Srawunge Wektu. Ia menilai, tak sedikit mahasiswa yang tampak biasa saja di ruang kelas, namun justru menunjukkan perubahan signifikan saat berada di atas panggung. Mereka yang jarang bicara tampil percaya diri, ekspresif, bahkan memukau.

Dr. Dwi Sulistyorini saat tampil, membuka ruang belajar yang hidup di atas panggung.
(Foto: Vranola/Berpola)

“Pembelajaran tidak harus selalu membaca teori. Mahasiswa juga perlu menampilkan diri,” ujarnya, Rabu (17/12/2025)

Tak berhenti pada memberi arahan, Dwi Sulistyorini memilih untuk terlibat langsung. Ia turut hadir sebagai salah satu lakon dalam pementasan. Baginya, dosen tidak seharusnya hanya jarkoni—bisa mengajar tetapi tidak bisa melakoni. Dengan ikut bermain, ia melihat semangat mahasiswa tumbuh lebih besar.

Baca juga: Perjalanan Gaga Rizky Membawa Wayang Suket Menembus Panggung Dunia

Kolaborasi Mata Kuliah dan Pembelajaran di Luar Kelas

Pementasan ini juga menjadi bukti bahwa pembelajaran lintas mata kuliah dapat saling menguatkan. Bersama Rully Farida, M.Pd pada mata kuliah Wicara Jawa dan Fandy Romadhoni, M. Pd pada Seni Tembang dan Karawitan, Dwi Sulistyorini mengoordinasikan pembelajaran berbasis praktik agar saling terhubung.

Rully menjelaskan bahwa sejak awal semester mahasiswa dibekali teori terlebih dahulu. “Dari pertemuan awal sampai tengah semester kami fokus di teori. Setelah UTS, mahasiswa kami arahkan untuk benar-benar mempraktikkan lewat persiapan pementasan,” ujarnya.

Menurutnya, penggabungan ini penting agar mahasiswa tidak belajar secara terpisah. Dalam Wicara Jawa, mahasiswa dituntut mampu melafalkan bahasa Jawa dengan baik dan benar serta memilih diksi yang tepat sesuai konteks.

Baca juga: Topeng Panji Setyakasih, Ketika Tradisi Bicara Tentang Cinta dan Ketulusan

Dr. Sn. Musthofa Kamal, S.Pd., M.Sn. turut tampil dalam pementasan ludruk dagelan.

“Dengan digabung seperti ini, mereka belajar kerja sama dan saling menganalisis satu sama lain,” tambah Rully.

Senada dengan itu, Fandy menilai kolaborasi antarmata kuliah dalam pementasan ludruk dagelan ini sebagai komponen yang saling melengkapi dan tidak bisa berdiri sendiri. Menurutnya, pementasan tidak hanya menjadi hasil akhir pembelajaran. Tetapi juga ruang berproses yang membangun pengalaman baru bagi mahasiswa.

“Tidak tidak semua dari mahasiswa memiliki latar belakang di dunia pementasan dan karawitan,” ungkapnya.

Mahasiswa dapat saling menukarkan peran dan pengetahuan. Mereka yang sebelumnya pernah menjadi aktor kini belajar mengarakan pertunjukan sebagai sutradara, sementara mahasiswa yang terbiasa sebagai penabuh mulai terlibat dalam penyususnan komposisi kidungan.

Melalui proses tersebut, dosen melihat perubahan yang signifikan. Banyak mahasiswa yang sebelumnya tidak menonjol di kelas justru menemukan kepercayaan diri saat berada di atas panggung. Pementasan menjadi ruang ekspresi yang selama ini tidak mereka miliki.

Proses Panjang Mahasiswa Menyiapkan Ludruk Dagelan

Di balik pementasan tersebut, Nabil Mahreza, mahasiswa semester lima Jurusan Bahasa Indonesia peminatan Bahasa Jawa, menjalani proses panjang sebagai sutradara. Ia menyadari bahwa ludruk dagelan bukan sekadar lucu-lucuan, tetapi juga harus memuat nilai-nilai yang bisa diteladani.

Tantangan muncul ketika beberapa temannya mengalami kesulitan berdialog di atas panggung. Nabil memilih jalan kreatif: mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Gerak tubuh dan ekspresi diperkuat agar adegan tetap hidup dan mengundang tawa.

Penampilan mahasiswa dalam pementasan ludruk dagelan. (Foto: Vranola/Berpola)

“Kalau dialognya susah, kami mainkan lewat gerak tubuh supaya tetap lucu,” katanya.

Sebagai sutradara, Nabil harus menyesuaikan karakter cerita dengan karakter mahasiswa. Dari seluruh Mahasiwa Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah kelas A-B yang terlibat, semuanya diberi peran dan ruang tampil. Tak ada yang dibiarkan pasif.

Namun proses ini tidak mudah. Dalam penulisan naskahnya perlu mengangkat isu-isu terbaru, begitupun dalam bermain peran karena sebagian besar tidak memiliki latar belakang sebagai aktor. Persiapan pementasan memakan waktu sekitar satu setengah bulan.

Baca juga: Sari, Pipo, dan Jejak Masa Kecil: Cara Ucol Menemukan Dirinya Lewat Gambar

Tantangan terbesar adalah menyatukan waktu latihan di tengah kesibukan masing-masing. Meski demikian, antusiasme mahasiswa menjadi kekuatan utama. Mereka saling membantu, saling melengkapi, dan tetap rukun meski diliputi rasa gugup.

Bagi Nabil dan kawan-kawan, panggung ludruk dagelan menjadi ruang belajar yang sesungguhnya. Bukan hanya tentang seni peran, tetapi tentang keberanian, kerja sama, dan proses menemukan potensi diri.

Ke depan, para dosen dan mahasiswa berharap pembelajaran semacam ini terus dihidupkan. Sebab di panggung itulah, banyak mahasiswa akhirnya menemukan tempat untuk bersuara dan mengekspresikan diri—sesuatu yang tak selalu mereka temukan di ruang kelas.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *