Melompat Batas, Menyulam Dialog: Prodi Seni FIB UB dan Ekosistem Seni Malang Raya

suasana diskusi di ruang temu antara kampus, seniman, dan publik seni

Malang, Berpola — Dunia seni senantiasa bergerak, melintasi batas akademik dan berkelindan dengan kehidupan masyarakat. Gerak inilah yang menghidupkan kegiatan Artist Talk “Lompat Pagar”, yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Malang (DKM) di Jl. Majapahit No. 3, pada 24–30 Oktober 2025.

Program Studi Seni, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), hadir bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai bagian dari denyut peristiwa. Melalui keterlibatan I Kadek Yudi Astawan, S.Sn., M.Sn., dosen Prodi Seni FIB UB yang bertindak sebagai moderator, kegiatan ini menjadi ruang temu antara kampus, seniman, dan publik seni. Forum berlangsung hangat, mengalir dalam dialog yang jujur, reflektif, dan terbuka terhadap keberagaman perspektif.

“Partisipasi dosen kami dalam forum seperti Lompat Pagar adalah bentuk nyata dari tridharma perguruan tinggi,” ujar Dr. Dra. Lilik Wahyuni, M.Pd., Ketua Departemen Seni dan Antropologi FIB UB. “Ini bukan hanya kegiatan akademik, melainkan upaya membangun jembatan antara teori dan praktik, antara ruang kuliah dan ruang galeri. Kami ingin mahasiswa melihat bahwa seni hidup di antara keduanya.”

Baca juga : Topeng Panji Setyakasih, Ketika Tradisi Bicara Tentang Cinta dan Ketulusan

Dr. Lilik menegaskan, kolaborasi lintas disiplin seperti ini merupakan bagian dari visi besar Prodi Seni FIB UB untuk membentuk ekosistem seni yang berkelanjutan. “Lulusan kami tidak hanya harus mampu mencipta karya yang indah, tetapi juga memiliki kesadaran sosial dan literasi budaya. Karena di balik setiap karya, selalu ada tanggung jawab untuk memahami kehidupan,” tambahnya.

Dokumentasi Kegiatan lompat pagar (Foto: Ist/Berpola)

Sebagai moderator, Kadek Yudi tidak hanya memandu percakapan, tetapi juga menegaskan makna “melompat pagar” sebagai sikap mental. “Melompat pagar berarti berani keluar dari zona nyaman disiplin kita. Mahasiswa seni perlu belajar langsung dari lapangan melihat bagaimana ide, medium, dan konteks sosial saling berkelindan. Di situlah letak pembelajaran yang sejati,” tuturnya.

Diskusi yang menghadirkan Alexandri Luthfi Rahman, Tengsoe Tjahjono, serta kolektif seniman muda Malang ini, menyoroti pentingnya kesadaran sosial dalam proses penciptaan seni. Alexandri berbicara tentang fondasi kesenirupaan, dari kesadaran material hingga keterampilan teknis sementara Tengsoe melihat Lompat Pagar sebagai ruang pencarian identitas yang terus berubah.

Baca juga : Senin Budaya di SMAN 1 Bululawang, Wujud Pembelajaran Berbasis Karakter

“Melalui ruang dialog seperti ini,” lanjut Kadek, “kami belajar bahwa seni tidak pernah berdiri sendiri. Ia tumbuh dari masyarakat, dari kegelisahan, dan dari keberanian untuk mendengarkan.”

Kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana universitas dapat hadir bukan sebagai menara gading, melainkan sebagai ruang dialog hidup bagi praktik artistik di Malang Raya. Prof. Dr. Zuliati Rohmah, M.Pd., Ketua Prodi Seni FIB UB, menyebutnya sebagai momentum penting untuk memperkuat posisi kampus dalam ekosistem budaya lokal. “Kami ingin universitas menjadi rumah bagi gagasan dan kolaborasi. Karena seni, sejatinya, adalah bentuk pengetahuan yang paling manusiawi,” ujarnya.

Menjelang sore, diskusi ditutup dengan refleksi yang sederhana namun bermakna: bahwa seni adalah perjalanan lintas batas antara teori dan praktik, antara kampus dan masyarakat, antara ide dan empati.
Dan seperti namanya, Lompat Pagar bukan sekadar tema, tetapi ajakan: untuk berani melangkah keluar, agar kita bisa melihat dunia dengan mata yang lebih luas dan hati yang lebih peka.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *