
Surabaya, Berpola – Daun yang selama ini tumbuh di sekitar kita ternyata dapat menjadi bagian dari produk bernilai ekonomi. Melalui teknik ecoprint, bentuk dan pigmen alami tumbuhan dapat diolah menjadi motif khas pada berbagai produk, mulai dari kain hingga aksesori. Potensi inilah yang diperkenalkan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kepada ibu-ibu warga RT 7 Babatan, Surabaya, melalui program pemberdayaan ekonomi berbasis kreativitas dan pemasaran digital.
Program Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan Lingkungan Sekitar Kampus tersebut dilaksanakan pada 1 Agustus 2026 dengan tajuk “Sinergi Kampus dan Warga RT 7 Babatan Surabaya dalam Pemberdayaan Ekonomi Berkelanjutan melalui Produk Ecoprint dan E-Commerce.” Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada keterampilan membuat produk, tetapi juga memperkenalkan cara membangun identitas merek dan memasarkan hasil produksi melalui platform digital.
Sebanyak 15 ibu-ibu warga RT 7 Babatan mengikuti kegiatan tersebut. Dalam pelatihan, peserta mempraktikkan pembuatan produk bermotif ecoprint yang diaplikasikan pada tas, baju, dan gelas. Produk-produk itu menjadi hasil praktik sekaligus gambaran bahwa keterampilan sederhana dapat dikembangkan menjadi kerajinan kreatif yang memiliki nilai tambah.
Baca juga : Dari Jawa Timur ke Korea Selatan: UNESA dan UNHASY Buka Jalan Kolaborasi Akademik Internasional
Ketua tim pengabdian UNESA, Utari Anggita Shanti, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memberikan alternatif keterampilan produktif yang berpotensi dikembangkan menjadi usaha. Menurutnya, pemberdayaan ekonomi masyarakat tidak cukup berhenti pada pelatihan produksi, tetapi perlu disertai pemahaman mengenai pengembangan produk dan strategi pemasaran.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan alternatif keterampilan kepada warga yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha. Ecoprint kami pilih karena memiliki nilai kreativitas dan dapat menghasilkan produk dengan motif yang khas. Harapannya, keterampilan yang diperoleh tidak berhenti pada pelatihan, tetapi bisa dikembangkan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Sebelum mengikuti program ini, warga RT 7 Babatan telah memiliki pengalaman menjalankan kegiatan kewirausahaan mandiri, di antaranya budidaya magot dan lele. Pengalaman tersebut menunjukkan adanya potensi usaha berbasis masyarakat yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Namun, keberlanjutan usaha juga membutuhkan pengembangan produk, penguatan identitas usaha, serta kemampuan menjangkau konsumen yang lebih luas.

Atas dasar itu, tim pengabdian UNESA memperkenalkan ecoprint sebagai salah satu alternatif diversifikasi usaha. Teknik ini memanfaatkan bentuk dan pigmen alami tumbuhan untuk menciptakan motif pada media tertentu. Keunikan motif yang dihasilkan membuka ruang bagi kreativitas peserta dalam mengolah bahan dan mengembangkan produk dengan karakter tersendiri.
Namun, produk yang menarik belum tentu mudah dikenal konsumen. Di tengah perkembangan pemasaran digital, pelaku usaha juga perlu memahami cara memperkenalkan produk, menyampaikan keunggulannya, dan membangun identitas yang mudah dikenali.
Karena itu, pelatihan dilanjutkan dengan pengenalan pengembangan merek dan pemasaran berbasis teknologi. Peserta diperkenalkan pada pembuatan logo, penyusunan katalog, fotografi produk, serta pemanfaatan e-commerce sebagai sarana pemasaran.
Utari menjelaskan bahwa aspek pemasaran menjadi bagian penting dalam upaya mengembangkan keterampilan menjadi peluang usaha.
“Produk yang menarik perlu didukung dengan identitas yang jelas dan cara pemasaran yang tepat. Karena itu, kami juga mengenalkan pembuatan logo, katalog, fotografi produk, serta pemanfaatan e-commerce agar warga memiliki gambaran mengenai cara memperkenalkan produknya kepada calon konsumen,” ungkapnya.
Melalui materi tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman membuat produk, tetapi juga diperkenalkan pada tahapan awal membangun usaha. Foto produk, misalnya, dapat membantu menampilkan detail dan keunikan hasil kerajinan, sedangkan katalog dan identitas merek dapat memudahkan calon konsumen mengenali produk yang ditawarkan. Pemanfaatan e-commerce pun membuka kemungkinan pemasaran yang tidak terbatas pada lingkungan tempat tinggal.
Baca juga : Peneliti Unesa Membaca SDGs dalam Singir Pesantren
Pelaksanaan program menggunakan pendekatan partisipatif dengan melibatkan warga dalam proses pembelajaran dan praktik. Pendekatan ini menempatkan masyarakat bukan semata-mata sebagai penerima manfaat, melainkan sebagai pelaku yang memiliki peran dalam mengembangkan keterampilan dan potensi ekonomi di lingkungannya.

Tim pengabdian juga melakukan monitoring dan evaluasi untuk meninjau pelaksanaan kegiatan serta mengidentifikasi kebutuhan pengembangan usaha selanjutnya. Tahapan ini menjadi bagian penting untuk melihat bagaimana keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan setelah pelatihan berakhir.
Program tersebut melibatkan tim pengabdian yang diketuai Utari Anggita Shanti, S.Pd., M.Pd., bersama lima anggota, yakni Aqim Amral Hukmi, S.Pd., M.Pd., Pungki Siregar, S.Pd., M.A., Kartika Herlina Candaring Shiam, S.Pd., M.Pd., Awal Putra Suprianto, S.Pd., M.Pd., dan Fathoni Setiawan, S.Pd., M.Pd.
Kegiatan ini juga selaras dengan sejumlah tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas. Keselarasan tersebut tampak dalam upaya memperkuat keterampilan produktif, memperkenalkan pengembangan produk kreatif, dan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pemasaran digital.
Bagi warga RT 7 Babatan, pelatihan ecoprint menjadi salah satu alternatif untuk memperluas keterampilan yang telah dimiliki. Sementara itu, pengenalan pemasaran digital memberikan bekal awal untuk memahami bagaimana produk dapat diperkenalkan kepada calon konsumen.
Melalui program ini, UNESA berupaya memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat di lingkungan sekitar kampus. Perpaduan keterampilan produksi, pengembangan identitas merek, dan pemanfaatan teknologi digital diharapkan dapat menjadi pijakan bagi warga untuk mengembangkan usaha kreatif secara bertahap dan memperkuat kemandirian ekonomi lokal.