Clearista Sanraissy Asanantha, Merawat Kepedulian Lingkungan dari Kebiasaan Kecil

Clearista Sanraissy Asanantha saat menerima pemasangan mahkota dalam ajang Putri Bumi Indonesia 2025 yang diselenggarakan El John Pageant di Ibu Kota Nusantara (IKN). (Foto: Ist/Berpola)

Kab. Malang, Berpola — Sampah sering kali menjadi urusan yang selesai begitu seseorang membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu, ke mana sampah pergi dan apa yang terjadi terhadap lingkungan kerap luput dari perhatian. Padahal, persoalan sampah tidak berakhir ketika seseorang melepaskan barang yang tak lagi digunakan dari tangannya.

Kesadaran itulah yang ingin terus dibangun Clearista Sanraissy Asanantha, mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang, melalui advokasi lingkungan yang dibawanya dalam ajang Putri Bumi Indonesia 2025. Perempuan berusia 21 tahun yang akrab disapa Clea itu memilih persoalan sampah sebagai isu utama, sebuah persoalan yang menurutnya dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi masih kerap dianggap sepele.

Bagi Clea, kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus dimulai melalui gerakan besar. Perubahan justru dapat tumbuh dari keputusan sederhana yang dilakukan berulang kali, mulai dari mengurangi penggunaan barang sekali pakai hingga memastikan sampah dibuang pada tempat yang semestinya.

“Sekarang saya lebih sering berpikir, setelah saya membuang ini, sampahnya akan ke mana?” kata Clea ketika menceritakan perubahan cara pandangnya terhadap persoalan sampah.

Pertanyaan tersebut terdengar sederhana. Namun, di baliknya terdapat upaya untuk melihat sampah bukan sekadar benda yang tidak lagi dibutuhkan, melainkan bagian dari persoalan lingkungan yang memiliki konsekuensi lebih panjang.

Berawal dari keberanian mencoba

Clearista Sanraissy Asanantha saat melakukan penanaman pohon dalam rangkaian kegiatan Putri Bumi Indonesia 2025. (Foto: Ist/Berpola)

Keikutsertaan Clea dalam Putri Bumi Indonesia 2025 tidak berawal dari rencana yang telah disusun jauh-jauh hari. Ia justru terdorong untuk mencoba setelah mendapat dukungan dari pelatih modeling-nya, Westya.

Saat itu, Clea telah aktif mengembangkan kemampuan di dunia modeling dan menjalani peran sebagai asisten pelatih di Morpho Modelling School. Lingkungan tersebut memberinya kesempatan untuk belajar, membangun kepercayaan diri, dan berani mencoba pengalaman baru.

Dukungan keluarga, teman, dan sahabat kemudian memperkuat keputusannya untuk mengikuti ajang yang diselenggarakan El John Pageant tersebut. Rangkaian kegiatan Putri Bumi Indonesia 2025 yang berlangsung di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, menjadi pengalaman yang mempertemukannya dengan ruang belajar di luar rutinitas perkuliahan dan dunia modeling.

Dalam prosesnya, Clea mulai memandang ajang tersebut lebih dari sekadar kompetisi penampilan. Ada tanggung jawab untuk memahami persoalan yang dipilih, menyampaikan gagasan kepada orang lain, serta menunjukkan bahwa isu lingkungan dapat dibicarakan melalui pengalaman yang dekat dengan masyarakat.

Pilihan pada isu sampah berangkat dari pengamatannya terhadap kebiasaan sehari-hari. Setiap orang menghasilkan sampah, tetapi tidak semua orang memikirkan perjalanan sampah setelah dibuang. Kebiasaan yang tampak kecil itu, jika terus berlangsung tanpa perubahan, dapat menjadi bagian dari persoalan lingkungan yang lebih luas.

Menurut Clea, justru karena dekat dengan kehidupan masyarakat, persoalan sampah perlu dibicarakan dengan cara yang sederhana dan mudah diterapkan. Ia ingin mengangkat isu yang tidak berhenti sebagai wacana, tetapi memungkinkan setiap orang memulai perubahan dari dirinya sendiri.

Baca juga : Jejak Kreatif Trianda Kurniawan dalam Fesyen Berkelanjutan

Ketika kompetisi menjadi ruang belajar

Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Clea selama mengikuti Putri Bumi Indonesia 2025 bukan semata-mata hasil akhir kompetisi, melainkan keseluruhan proses yang harus dijalani.

Ia belajar bertemu dengan orang-orang baru, menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda, menyampaikan pendapat, serta mempertanggungjawabkan isu yang dibawanya di hadapan orang lain. Pengalaman tersebut menuntutnya keluar dari kebiasaan yang selama ini terasa nyaman.

Membawa advokasi lingkungan ke tingkat nasional juga menghadirkan tanggung jawab tersendiri. Clea menyadari bahwa ketika seseorang memilih menyuarakan sebuah persoalan, ia perlu memahami persoalan tersebut dengan baik. Kemampuan berbicara saja tidak cukup apabila tidak disertai pemahaman terhadap hal yang disampaikan.

Pengalaman itu menjadi bagian dari proses pendewasaannya. Ia belajar bahwa sebuah gagasan perlu diterjemahkan ke dalam tindakan, sementara pesan yang disampaikan kepada masyarakat perlu selaras dengan perilaku orang yang membawanya.

Dalam ajang tersebut, Clea meraih Juara Atribut Event Putri Bumi Indonesia 2025. Pencapaian itu menjadi bentuk apresiasi yang berarti baginya setelah melalui berbagai tahapan persiapan dan kegiatan.

Namun, penghargaan tersebut tidak ingin ia jadikan sebagai titik akhir. Sebaliknya, Clea melihatnya sebagai pengingat bahwa pengalaman yang diperoleh selama kompetisi semestinya tetap memiliki arti setelah seluruh rangkaian acara selesai.

Baginya, keberhasilan tidak hanya diukur melalui penghargaan yang dibawa pulang, tetapi juga melalui perubahan yang dapat dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari.

Advokasi yang dimulai dari diri sendiri

Sosok Clearista Sanraissy Asanantha (Foto: Ist/Berpola)

Setelah mengikuti Putri Bumi Indonesia 2025, Clea merasakan perubahan dalam kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Ia menjadi lebih terbuka terhadap pengalaman baru, lebih berani keluar dari zona nyaman, serta lebih peka terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya.

Kesadaran tersebut turut memengaruhi kebiasaannya dalam mengelola sampah. Ia mulai lebih memperhatikan penggunaan barang sekali pakai, berusaha membawa barang yang dapat digunakan kembali, dan bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya.

Perubahan itu tidak selalu hadir dalam bentuk program lingkungan berskala besar. Clea mengakui bahwa advokasi yang ia lakukan hingga kini lebih banyak berlangsung melalui kegiatan yang diikuti, edukasi sederhana, dan upaya menjaga konsistensi perilaku pribadi.

Pandangan ini memperlihatkan bahwa advokasi tidak selalu identik dengan kampanye besar atau kegiatan yang melibatkan banyak orang. Dalam keseharian, tindakan seseorang juga dapat menjadi cara untuk menyampaikan pesan kepada lingkungan sosialnya.

Clea tidak ingin menempatkan diri sebagai orang yang paling benar dalam persoalan lingkungan. Menurutnya, mengajak masyarakat menjaga kebersihan akan kehilangan makna apabila perilaku orang yang menyampaikan ajakan tersebut justru bertentangan dengan pesannya.

Karena itu, ia lebih memilih memberikan contoh melalui tindakan dan mengajak orang lain dengan cara yang tidak menghakimi. Perubahan kebiasaan, menurutnya, akan lebih mudah tumbuh ketika seseorang merasa diajak untuk memahami persoalan, bukan disalahkan karena belum melakukannya dengan benar.

Pendekatan tersebut juga menunjukkan tantangan yang dihadapi dalam membangun kesadaran lingkungan. Pengetahuan tentang pentingnya menjaga kebersihan belum tentu langsung mengubah perilaku. Diperlukan kebiasaan yang terus diulang, keteladanan, serta kesediaan untuk memulai dari hal-hal yang paling dekat.

Baca juga : Melejitkan Potensi Siswa: Double Track Empowering Program Buka Jalan bagi Siswa Siap Kerja

Menjaga keberlanjutan setelah panggung berakhir

Salah satu tantangan bagi advokasi lingkungan adalah menjaga agar perhatian terhadap suatu isu tidak berhenti ketika sebuah kegiatan atau kompetisi selesai. Penghargaan dapat menjadi penanda pencapaian, tetapi perubahan perilaku membutuhkan proses yang lebih panjang.

Clea menyadari hal tersebut. Ia ingin tetap membawa kepedulian terhadap lingkungan melalui kegiatan yang dijalaninya maupun pilihan-pilihan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, mengajak satu orang untuk lebih bertanggung jawab terhadap sampah sudah menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran.

Meski demikian, ia tidak mengukur keberhasilan advokasi hanya dari banyaknya orang yang mengikuti ajakannya. Hal yang lebih penting adalah tumbuhnya pemahaman bahwa setiap orang memiliki peran dalam persoalan sampah, sekecil apa pun kontribusinya.

Pesan itu terutama ditujukan kepada masyarakat yang masih memandang membuang sampah sembarangan sebagai tindakan sepele. Sampah yang dihasilkan seseorang mungkin terlihat sedikit, tetapi kebiasaan yang dilakukan banyak orang secara terus-menerus dapat membentuk persoalan yang jauh lebih besar.

Clea mengajak masyarakat memulai perubahan melalui tindakan yang realistis, seperti membawa botol minum atau tumbler, menggunakan tas belanja sendiri, mengurangi barang sekali pakai, dan memilah sampah sesuai kebutuhan pengelolaannya.

Ia tidak menuntut setiap orang langsung menjalani gaya hidup yang sepenuhnya bebas sampah. Yang diperlukan, menurutnya, adalah kemauan untuk lebih peduli dan konsisten memperbaiki kebiasaan.

“Lingkungan tidak membutuhkan kita untuk menjadi sempurna. Yang dibutuhkan adalah lebih banyak orang yang mau peduli dan konsisten melakukan hal-hal kecil,” ujarnya.

Dari pengalaman di panggung Putri Bumi Indonesia 2025, Clea membawa pulang lebih dari sekadar penghargaan. Ia memperoleh cara pandang baru tentang tanggung jawab pribadi dan hubungan manusia dengan lingkungan.

Perjalanan itu belum tentu selesai dalam satu kompetisi, sebagaimana persoalan sampah tidak dapat dituntaskan melalui satu kampanye. Perubahan membutuhkan keterlibatan banyak orang dan kebiasaan yang terus dijaga.

Pada akhirnya, kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya diuji ketika seseorang menyampaikan pesan di hadapan publik. Kepedulian itu juga terlihat dalam keputusan-keputusan kecil yang diambil ketika tidak ada panggung, tidak ada penonton, dan tidak ada penghargaan yang menanti.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *