
Malang, Berpola — Upaya pelestarian budaya terus menemukan bentuk baru. Salah satunya melalui kehadiran Perkumpulan Joglo Pawiyatan Aksara & Budaya, komunitas budaya yang resmi berdiri pada awal Januari 2025. Komunitas ini membawa misi menghadirkan edukasi batik berbasis literasi budaya, dengan pendekatan historis terhadap aksara Kawi yang banyak ditemukan pada prasasti dan naskah kuno di Jawa Timur.
Salah satu sumber rujukan penting dalam proses kreatif mereka adalah Prasasti Sangguran yang berlokasi di wilayah Batu. Prasasti ini menjadi pintu masuk bagi komunitas untuk menggali kekayaan visual, nilai sejarah, serta narasi budaya, lalu menginterpretasikannya ke dalam motif batik kontemporer.
Series BATARA: Batik yang Berakar pada Tradisi Literasi Nusantara
Dalam perjalanan kreatifnya, Joglo Pawiyatan Aksara memperkenalkan series BATARA (Batik Aksara). Seri ini tidak sekadar menonjolkan keindahan visual, tetapi juga menegaskan pentingnya riset budaya dalam setiap helai kain.
Baca juga : Topeng Panji Setyakasih, Ketika Tradisi Bicara Tentang Cinta dan Ketulusan
Motif aksara Kawi yang digunakan diambil dari sumber primer berupa prasasti dan kitab klasik, sehingga setiap karya tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga mengandung jejak pengetahuan dan peradaban Jawa kuno.
“Kami ingin menghadirkan batik yang tidak hanya berbicara soal ornamentasi, tetapi juga membawa masyarakat memahami akar sejarahnya,” ujar Viqo, perwakilan komunitas Joglo Pawiyatan Aksara, Sabtu (9/11/2025)

Workshop Membatik untuk Publik
Selain fokus pada pengembangan karya, Joglo Pawiyatan juga membuka program workshop membatik bagi masyarakat umum, termasuk pemula yang ingin mengenal batik lebih dekat.
Peserta akan mendapatkan pembelajaran terpadu mulai dari pengenalan motif dan filosofi batik, teknik menggambar pola, proses mencanting, hingga pewarnaan dan finishing. Pendekatan pembelajaran ini tidak hanya menekankan aspek teknis, tetapi juga mengajak peserta memahami nilai historis dan budaya di balik setiap motif.
Adapun biaya workshop dimulai dari Rp80.000 per orang, dengan variasi tergantung bahan dan fasilitas pembelajaran yang dipilih. Harga tersebut diupayakan tetap terjangkau agar masyarakat dari berbagai kalangan dapat mempelajari seni batik secara bertahap dan berkelanjutan.
Baca juga : Sari, Pipo, dan Jejak Masa Kecil: Cara Ucol Menemukan Dirinya Lewat Gambar
Mendorong Apresiasi dan Literasi Budaya
Joglo Pawiyatan berharap dapat menjadi ruang pembelajaran budaya yang inklusif, serta mendorong tumbuhnya apresiasi masyarakat terhadap batik dan literasi kuno Nusantara.
“Batik bukan hanya hasil akhir berupa motif. Di dalamnya terdapat proses, nilai, dan sejarah yang layak dipahami serta dirawat,” tambah Viqo.
Berbasis di Desa Oro-Oro Ombo, Kampung Slogan, Kota Batu, Joglo Pawiyatan Aksara & Budaya berupaya menghadirkan pengalaman belajar budaya yang dapat diakses berbagai kalangan. Melalui pendekatan riset dan edukasi publik, komunitas ini menegaskan tekadnya menjaga kelestarian batik sekaligus memperkenalkan kembali warisan aksara Kawi kepada generasi masa kini.