Membaca Warna Tawa Di Rahim Gaza

Membaca Warna Tawa Di Rahim Gaza (Foto: Visualisasi buatan AI/Berpola)

Written by Rayhan Rafif Aydin

“di pekarangan doa, anak-anak-
terbata mengeja; alif – ba’ – ta’.”

riwayat resah-gelisah masih bergelayut di langit Gaza,
sedang doa-doa tak sekalipun gugur, rebah di antara reruntuhan air mata.

lantas rengkuh kegelapan telungkup di tangis yang ranum
dari sekian malam- kian yang tak kunjung tandang tajuk merdeka
sebab rahim waktu, masih utuh melahirkan martil dan bedil ke dada kota
dan anak-anak mengeja bahagianya sewarna abu- sewarna darah.

lalu saban hari, kecup mesiu utuh berlalu lalang memeluk suntuk,
menakhlik huru-hara, menjelma bilur nan gugur mengimani kubur

-ketiadaan bagai potret kalap di pelataran cemas
berisi: pembantaian, serta monokrom rasa tak berkesudah
kupu-kupu terbang dalam rupa senjata
dan iris faqqua hilang taman
semerbak elegi agonia.

di ladang-ladang mimpi, kemerdekaan masih hilang tunas
dan di lekuk waktu, garis takdir menulis narasi liris tentang tangis

esok; akankah banyak tulang,
dirangkai menjadi boneka?

atau- dongeng-dongeng malam,
hanya bercerita tentang kelam?

bahagia tinggal piatu,
nasib-nasib buta mencari pintu
dari puing-puing doa yang meneroka riwayat luka
maka nyalakanlah gelora- asa;
sebagai taman-taman
sebagai sekolah
sebagai warna

atas langkah bocah-
mencari musim senyumnya

-memetik doa.

Jakarta, 28 Agustus 2025

Karya Pemenang Juara 2 FSBB 2025
Sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat literasi dan kreativitas generasi muda, redaksi memuat ulang karya pemenang Lomba Cipta Puisi FSBB 2025. Karya ini telah melalui proses kurasi panitia dan dimuat kembali dengan izin penulis untuk tujuan nonkomersial dan edukatif.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *