
Malang, Berpola — Alunan Indonesia Raya mengawali suasana khidmat di Aula Gedung A Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya, Rabu (19/11/2025). Di ruangan itu, para dosen, peneliti, kurator budaya, hingga tamu dari berbagai lembaga seni dan media berkumpul untuk menyaksikan langkah baru UB dalam merawat kebudayaan Jawa Timur melalui medium yang lebih modern: Brawijaya Corpora Project (BCP).
BCP merupakan kerja kolaboratif antara Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FIB dan Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM). Inisiatif ini dirancang sebagai korpus digital yang menghimpun, mengolah, dan menyajikan ekspresi budaya Jawa Timur dalam format yang dapat diakses publik secara global, sebuah jembatan antara tradisi lokal dan teknologi.
Menghubungkan Tradisi dan Teknologi
Acara pembukaan berlangsung dengan perpaduan ritual formal dan adat. Doa dibacakan oleh Fatoni, disusul doa adat Tengger oleh Romo Puja Pramana, menghadirkan suasana yang mempertemukan dimensi akademik dan spiritual.
Dekan FIB, Sahiruddin, M.A., Ph.D., dalam sambutannya menggarisbawahi pentingnya dokumentasi budaya yang berbasis pada metodologi ilmiah. “BCP adalah upaya serius untuk merawat tradisi melalui perangkat yang relevan dengan zaman,” ujarnya.
Wakil Rektor IV, Prof. Andi Kurniawan, S.Pi., M.Eng.D.Sc., menambahkan bahwa proyek ini menjadi bagian dari strategi internasionalisasi kampus. Pada sesi yang sama, sebuah momen simbolik dilakukan: Romo Puja Pramana menyerahkan udeng kepada Prof. Andi sebagai tanda peresmian website BCP, disambut tepuk tangan para undangan.
Baca juga : Kilau Prestasi Intan Nirmalasari di Panggung Internasional
Menjelajahi Korpus Budaya
Setelah peresmian, hadirin diajak menyimak video selayang pandang mengenai BCP, sebelum Project Leader Bayu Priyambadha, Ph.D., dan Dr. Wahyu Widodo memberikan pemaparan mengenai fitur-fitur dalam platform tersebut. BCP, kata mereka, dirancang sebagai kanal pengetahuan yang ramah pengguna, memungkinkan masyarakat maupun akademisi internasional menelusuri budaya Jawa Timur secara lebih mendalam dan kontekstual.
Mulai dari teks-teks tradisi, narasi folklor, hingga ekspresi budaya kontemporer, seluruhnya dihimpun dalam satu sistem yang dapat diakses secara terbuka.
Ruang Diskusi, Ruang Tumbuh
Rangkaian acara berlanjut pada sesi diskusi. Syarifudin, kurator Museum Panji Malang, membuka sesi dengan paparan reflektif tentang urgensi pelestarian budaya lewat digitalisasi. Hadirin kemudian bergantian menyampaikan pandangan, kritik membangun, dan rekomendasi bagi pengembangan platform ke depan.
Dialog mengalir hangat, menunjukkan antusiasme para peserta terhadap inisiatif lintas-disiplin ini.
Baca juga : PSG UB Pacu Kolaborasi Riset Gender di Konferensi Nasional dan KLB ASWGI 2025
Harapan untuk Jejak yang Lebih Jauh
Soft Launching ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah. Meski peresmian ini hanya langkah awal, UB menaruh harapan besar pada Brawijaya Corpora Project sebagai ruang baru bagi diplomasi budaya digital.
Melalui platform ini, Universitas Brawijaya berharap kekayaan budaya Jawa Timur tidak hanya terjaga, tetapi juga dapat dikenali, dipelajari, dan diapresiasi secara lebih luas dari ruang-ruang kelas lokal hingga panggung pengetahuan internasional.