Dari Gugup Menjadi Percaya Diri: Cerita Pelatihan Public Speaking SMPN 1 Tirtoyudo

Momen kebersamaan setelah belajar menemukan keberanian berbicara. (Foto: Ist/Berpola)

Kab. Malang, Berpola– Suasana Aula SMPN 1 Tirtoyudo pagi itu terasa berbeda. Cahaya matahari yang masuk dari jendela-jendela besar menimpa barisan kursi yang telah dipersiapkan untuk para peserta Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS). Di tengah ruangan, 45 anggota baru OSIS kelas 7 dan 8 duduk dengan rapi, sebagian tampak memperbaiki posisi duduk, sebagian lain memegang buku catatan di pangkuan.

Di tempat inilah pelatihan public speaking digelar, sebuah sesi yang diharapkan dapat menjadi titik awal bagi siswa untuk belajar menyampaikan gagasan secara percaya diri.

Kegiatan dibuka oleh Kepala SMPN 1 Tirtoyudo, Dra. Erna Lukitawati, M.Pd., yang mengingatkan pentingnya kesempatan belajar dari praktisi. Ia menyebut bahwa materi yang dibawakan tidak semata teori, tetapi juga lahir dari pengalaman panjang di berbagai ruang publik. Pesan itu disampaikan dengan nada yang hangat, seolah mengajak siswa untuk membuka diri terhadap proses belajar yang akan mereka jalani.

Mengawali dengan Keberanian

Sosok yang ditunggu para peserta kemudian maju ke depan. Rahayu Surya Ningsih, S.Sos, atau yang lebih dikenal sebagai Rahayu SJ, melangkah dengan senyum yang menenangkan. Perempuan asal Ampelgading itu telah mengedukasi lebih dari 10.000 peserta sejak 2021, dan pagi itu ia datang dengan misi yang sama: menumbuhkan keberanian berbicara di depan umum.

Alih-alih langsung menyampaikan materi, Rahayu memulai dengan sebuah tantangan. Setiap peserta diminta memperkenalkan diri secara singkat. Beberapa maju dengan langkah mantap, sementara yang lain tampak menahan gugup di ujung jemari. Dari tempatnya berdiri, Rahayu sesekali mencatat, lalu memberikan masukan mengenai intonasi, gestur, hingga kontak mata. Semuanya disampaikan dengan lembut, tanpa membuat siswa merasa tersudut.

Baca juga : Merawat Asah, Asih, Asuh: Refleksi Dr. Sn. Indra Suherjanto di Hari Guru

Setelah sesi awal itu, materi inti berlangsung selama 60 menit. Rahayu memperkenalkan metode OPPO (Opening, Point, Proof, Offer/Closing), yang ia sebut sebagai kerangka sederhana untuk menyusun gagasan. Ia juga menunjukkan bagaimana bahasa tubuh dapat memperkuat pesan, serta memberikan trik praktis untuk mengatasi rasa gugup dari teknik pernapasan hingga pengelolaan fokus. Suasana pelatihan hangat dan tak kaku. Tawa kecil beberapa kali terdengar ketika Rahayu menyisipkan contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan siswa.

Menguji Perubahan

Bersama Rahayu SJ, siswa OSIS belajar bahwa keberanian tumbuh dari latihan-latihan kecil. (Foto: Ist/Berpola)

Sesi diakhiri dengan post-test yang kembali menempatkan siswa di depan kelas. Kali ini suasananya berbeda. Nada mereka lebih mantap, pilihan kata lebih terarah, dan gerak tubuh tampak lebih natural. Rahayu menyebut terjadi peningkatan kemampuan hingga 90 persen, sebuah angka yang menurutnya lahir dari keberanian mencoba.

Di tengah sesi, Rahayu juga menegaskan bahwa public speaking tidak selalu berarti berdiri di mimbar atau memberi sambutan formal. “Kadang kemampuan ini dibutuhkan dalam hal sederhana,” ujarnya sambil tersenyum. “Bahkan ketika kalian berdiskusi menentukan tempat makan: bakso, soto, atau seblak. Jika bisa memengaruhi pilihan teman-temanmu, itulah public speaking.”

Latihan kecil itu, katanya, adalah pintu masuk menuju kepercayaan diri yang lebih besar. “Kuncinya ada pada jam terbang,” ujarnya, Jumat (28/11/2025) “Dari latihan-latihan kecil itu, kalian akan menemukan gaya kalian sendiri.”

Baca juga : Menyala di Tengah Gelap, Perjuangan Guru di TBM Lentera Talangsukou

Pembina OSIS, Ibu Novi, S.Pd, memandang pelatihan ini sebagai kebutuhan penting bagi pengurus OSIS. Menurutnya, siswa OSIS adalah representasi sekolah yang kerap tampil di berbagai kegiatan. “Mereka perlu mampu menyampaikan pesan secara jelas, baik melalui kata-kata maupun bahasa tubuh,” katanya. Ia menyebut bahwa antusiasme siswa terlihat sejak awal sesi, dan perubahan yang tampak pada post-test menjadi bukti bahwa materi tersebut benar-benar membekas.

Di akhir kegiatan, siswa perlahan keluar dari aula dengan suasana yang berbeda. Beberapa masih saling menirukan teknik yang diajarkan Rahayu, sebagian lain tampak menertawakan kegugupan mereka di awal. Namun dari raut wajah mereka, ada satu kesan yang tak bisa disembunyikan: keyakinan baru bahwa berbicara di depan umum bukan lagi sesuatu yang menakutkan.

Pelatihan di SMPN 1 Tirtoyudo itu mungkin hanya berlangsung satu setengah jam. Namun bagi banyak siswa, waktu singkat itu menjadi langkah awal untuk belajar memahami suara mereka sendiri dan keberanian untuk membiarkannya terdengar.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *