Menjemput Berkah dari Rumah ke Rumah: Tradisi Ajangsana Khotmil Quran SMA Islam Kepanjen

Foto bersama peserta Ajangsana Khotmil Quran yang digelar SMA Islam Kepanjen. (Foto: Ist/Berpola)

Kab. Malang, Berpola— Sore itu, halaman sebuah rumah di sudut Kecamatan Kepanjen tampak lebih ramai dari biasanya. Sejumlah siswa berseragam rapi duduk bersila, sementara beberapa guru tampak memandu lantunan ayat-ayat suci yang bergema lembut dari ruang tamu. Tuan rumah, dengan wajah sumringah, sibuk menyambut tetangga dan orangtua murid yang ikut hadir. Suasana hangat tersebut bukan hajatan keluarga, melainkan bagian dari tradisi Ajangsana Khotmil Quran yang dijalankan SMA Islam Kepanjen.

Program ini telah memasuki tahun ketiga. Dari semula hanya dilaksanakan di sekolah setiap Jumat, kini kegiatan tersebut rutin digelar seminggu sekali dan berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Kehadiran para siswa dari rumah ke rumah itu menjadi jembatan kedekatan antara sekolah dan masyarakat.

“Kami sekolah berbasis keagamaan, sehingga perlu lebih dekat dengan masyarakat,” ujar Didik Sunariyanto, Humas SMA Islam Kepanjen. “Melalui ajangsana khotmil Quran ini, selain bersilaturahmi, kami juga ingin menjalin hubungan baik dengan wali murid.”

Baca juga : Ketika Rumah Menjadi Sekolah, dan Ketulusan Menjadi Cermin Ilmu

Dari Sekolah ke Rumah Warga

Suasana khusyuk terlihat ketika siswa membaca Al-Quran pada kegiatan rutin mingguan Ajangsana Khotmil Quran SMA Islam Kepanjen.

Transformasi pelaksanaan di sekolah menuju kegiatan berbasis komunitas ini membuat program tersebut terasa lebih hidup. Kini, setiap kelas mendapat giliran menentukan rumah yang akan menjadi tempat pelaksanaan. Menariknya, antusiasme warga justru semakin tinggi.

“Respons masyarakat luar biasa. Bahkan ada yang berebut agar rumahnya digunakan,” kata Didik sambil tersenyum. “Semua biaya kegiatan ditanggung oleh sekolah, sehingga tuan rumah tidak terbebani.”

Setiap pertemuan tetap didampingi guru, baik untuk memastikan kelancaran kegiatan maupun pembinaan akhlak para siswa. Sementara para orangtua memanfaatkan momen itu untuk berinteraksi langsung dengan pihak sekolah, membicarakan perkembangan putra-putri mereka, hingga sekadar mempererat rasa kebersamaan antarwarga.

Baca juga : Belajar Tanpa Bosan, TA Zam Zam Menemukan Cara untuk Belajar Bahagia

Membawa Nilai dari Sekolah ke Masyarakat

Siswa SMA Islam Kepanjen menyimak ayat suci Al-Quran dalam kegiatan Ajangsana Khotmil Quran yang digelar di rumah warga. (Foto: Ist/Berpola)

Lebih dari sekadar ritual keagamaan, ajangsana ini menjadi ruang belajar sosial bagi para siswa. Mereka belajar mengenali lingkungan, bersapa dengan warga, dan merasakan langsung bagaimana nilai-nilai yang dipelajari di sekolah dibumikan dalam kehidupan.

“Kami berharap siswa bisa membawa pembelajaran baik dari sekolah menuju masyarakat, sehingga manfaatnya dirasakan semua kalangan,” ujar Didik, Selasa (2/12/2025)

Seiring waktu, program ini telah menjadi identitas baru bagi SMA Islam Kepanjen—bahwa pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Di balik lantunan ayat yang bergema dari rumah sederhana di Kepanjen, tumbuh pula benih keakraban, kepedulian, dan semangat kebersamaan yang menghubungkan sekolah dan masyarakat dalam satu tujuan: merawat nilai kebaikan bersama.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *