Malang, Berpola – Suasana ceria mewarnai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Teras Kota Malang pada Minggu, 7 Desember 2025. Puluhan anak dari berbagai usia memadati halaman TBM yang berlokasi di Jl. Sebuku IV No. 1, RT 03 RW 08, Bunulrejo, Malang. Mereka datang bukan sekadar untuk bermain, tetapi juga mengikuti rangkaian kegiatan literasi seru yang diselenggarakan melalui kolaborasi antara TBM Teras dan mahasiswa Universitas Negeri Malang.

Kegiatan dibuka dengan sosialisasi dari perwakilan Perpustakaan Nasional mengenai pentingnya memilih bacaan sesuai kelompok usia. Materi disampaikan secara singkat dan komunikatif sehingga mudah dipahami oleh anak maupun orang tua. “Buku yang tepat bisa membuat kalian semakin suka membaca,” ujar salah satu pemateri, sambil memperlihatkan beberapa contoh buku. Selain memberikan penjelasan, pihak Perpusnas juga menyalurkan buku bacaan sebagai dukungan untuk meningkatkan minat membaca anak.
Baca juga : Menyala di Tengah Gelap, Perjuangan Guru di TBM Lentera Talangsuko
Anak-Anak Antusias Mengikuti Sesi Mendongeng, Mewarna, dan Membaca Nyaring

Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang sesi mendongeng, membaca nyaring, dan lomba mewarnai. Pada sesi mendongeng, anak-anak mengikuti cerita dengan penuh perhatian. Sejak pendongeng mulai bercerita, mereka tampak fokus menikmati alur kisah yang dibawakan secara ekspresif oleh mahasiswa pendamping. Beberapa anak bahkan menirukan suara tokoh dalam cerita sambil tertawa kecil. “Aku suka bagian suaranya yang lucu!” ujar seorang anak setelah cerita usai. Suasana TBM seketika menjadi hidup dan hangat, menunjukkan bahwa metode bercerita masih sangat efektif dalam menumbuhkan imajinasi dan minat baca.
Semangat yang sama berlanjut pada lomba mewarnai. Anak-anak duduk melingkar, mengerjakan gambar dengan penuh konsentrasi. Sesekali mereka mengangkat kertas gambar untuk diperlihatkan kepada panitia ataupun teman terdekat. Ekspresi bangga terlihat jelas di wajah mereka. “Lihat punyaku, warna-warni!” kata seorang peserta sambil menunjukkan karyanya. Aktivitas sederhana ini kembali menciptakan suasana positif yang mendorong kreativitas sekaligus mempererat interaksi antar peserta.
Baca juga : Ketika Rumah Menjadi Sekolah, dan Ketulusan Menjadi Cermin Ilmu

Setelah seluruh karya dinilai berdasarkan kreativitas, kerapian, dan kemampuan memadukan warna, panitia mengumumkan para pemenang lomba. Tepuk tangan langsung menggema ketika nama-nama juara disebutkan satu per satu. Hadiah yang diberikan menjadi bentuk apresiasi atas usaha dan antusiasme mereka. Momen pembagian hadiah berlangsung hangat, diiringi dukungan dari peserta lain yang tampak senang meski tidak semuanya membawa pulang penghargaan.
Sesi membaca nyaring menjadi penutup rangkaian kegiatan. Anak-anak secara bergiliran membacakan potongan teks dari buku pilihan mereka, sementara peserta lain menyimak dengan tertib. Kegiatan ini bukan hanya melatih kemampuan membaca, tetapi juga mendorong keberanian anak untuk tampil di depan teman sebaya. “Pelan saja, kamu pasti bisa,” ujar seorang mahasiswa pendamping kepada peserta yang tampak gugup, memberikan rasa aman bagi anak-anak yang masih dalam tahap belajar membaca.
Baca juga : Tak Sekadar Bimbel, ImaPrivate Jadi Rumah Belajar untuk Tumbuh Bersama
Dorongan untuk Menjadikan Kegiatan Literasi sebagai Agenda Rutin

Sejumlah peserta menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin. Mereka menilai bahwa rangkaian kegiatan seperti mendongeng, membaca nyaring, dan mewarnai memberikan ruang belajar yang lebih santai dan mudah diterima oleh anak. Kehadiran mahasiswa sebagai pendamping turut menghadirkan suasana yang akrab, membuat anak-anak lebih nyaman berekspresi tanpa merasa tertekan. Antusiasme tersebut mencerminkan kebutuhan masyarakat akan kegiatan literasi yang tidak hanya edukatif, tetapi juga menyenangkan dan mudah diakses.
Kolaborasi TBM Teras dan mahasiswa Malang menunjukkan bahwa upaya literasi berbasis komunitas mampu menghadirkan ruang belajar yang inklusif dan efektif. Dengan fasilitas sederhana serta dukungan relawan, kegiatan ini berhasil menjangkau peserta dari berbagai latar belakang. Jika dilakukan secara berkelanjutan, kolaborasi semacam ini berpotensi memperkuat budaya membaca di lingkungan masyarakat dan menjadi agenda rutin yang memberi dampak positif bagi perkembangan literasi anak.

Di tengah ramainya kegiatan, Mochammad Rukhan, pendiri TBM Teras, tampak ikut berbaur dengan anak-anak. Ia tersenyum melihat bagaimana halaman kecil itu berubah menjadi ruang berkumpul yang penuh warna. “Dari awal kami mendirikan TBM ini, harapan kami sederhana: anak-anak merasa dekat dengan buku,” ujarnya.
Rukhan menambahkan bahwa kolaborasi dengan mahasiswa menjadi salah satu cara agar kegiatan semakin variatif dan relevan. “Mahasiswa membawa energi baru. Anak-anak juga lebih mudah akrab karena mereka merasa seperti punya kakak pendamping,” katanya. Ia berharap kegiatan serupa bisa terus dilakukan secara berkelanjutan karena terbukti mampu menarik minat baca anak melalui pendekatan yang santai dan menyenangkan.
Kolaborasi TBM Teras dan mahasiswa Malang menunjukkan bahwa upaya literasi berbasis komunitas mampu menghadirkan ruang belajar yang inklusif dan efektif. Dengan fasilitas sederhana serta dukungan relawan, kegiatan ini berhasil menjangkau peserta dari berbagai latar belakang. Jika dilakukan secara berkelanjutan, kolaborasi semacam ini berpotensi memperkuat budaya membaca di lingkungan masyarakat dan menjadi agenda rutin yang memberi dampak positif bagi perkembangan literasi anak.
Pingback: Kanjuruhan Membaca Hadirkan Budaya Literasi di Kabupaten Malang - Berpola