Rupalain Merilis Fenomena, EP Perdana yang Merekam Kegelisahan Zaman

Kelompok musik Rupalain merilis EP perdana berjudul Fenomena. (Foto: Ist/Berpola)

Malang, Berpola- Setelah memperkenalkan warna musikalnya lewat dua single pada akhir 2024, grup rock alternatif asal Malang, Rupalain, menapaki fase baru dengan merilis EP perdana berjudul Fenomena pada 1 Januari 2026. Rilisan ini menjadi refleksi musikal atas dinamika kehidupan sehari-hari yang kian kompleks.

EP Fenomena memuat lima lagu, yakni Abnormal, Sisi Sepi, Retorika di Zaman Baru, Tessonilo, dan Yang Hilang, dirangkai sebagai satu kesatuan narasi untuk merepresentasikan tema besar yang diusung.

Rupalain terbentuk pada 2024 dan digawangi oleh Zizouber (vokal), Chorry (vokal), Exora (gitar), Faiz (gitar), dan Andi (bass). Perbedaan latar belakang musikal tiap personel menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter bunyi band ini, terutama dalam penulisan lirik dan perancangan aransemen.

Baca juga :Dempo Fair, Laboratorium Nyata Siswa untuk Bereksperimen dan Berkarya

Dalam wawancara eksklusif bersama Berpola, Exora, gitaris Rupalain, menyebut Fenomena sebagai ruang pengendapan kegelisahan yang selama ini mereka rasakan, namun sulit dirumuskan secara langsung.

“Kami melihat banyak hal di sekitar yang kelihatannya biasa saja, tapi kalau dipikir ulang, ada yang ganjil dan mengganggu. Fenomena lahir dari kegelisahan-kegelisahan kecil itu,” kata Exora kepada Berpola.

Kelompok musik Rupalain merilis EP perdana berjudul Fenomena. (Foto: Ist/Berpola)

Proses kreatif EP ini berlangsung sekitar satu tahun. Selama periode tersebut, Rupalain menjalani diskusi intensif, memperluas referensi, serta mengasah kepekaan terhadap berbagai peristiwa sosial yang mereka jumpai sehari-hari.

Menanggapi posisi Fenomena sebagai rilisan perdana, Berpola menanyakan apa arti EP ini bagi perjalanan Rupalain.

“EP ini semacam penanda awal. Kami ingin pendengar mengenal Rupalain apa adanya sebelum melangkah lebih jauh,” ujar Exora.

Exora menuturkan, tantangan terbesar dalam pengerjaan EP ini adalah menjaga keseimbangan antara eksplorasi dan karakter band. Menurutnya, eksplorasi justru dilakukan untuk mempertegas identitas, bukan sebaliknya.

“Kami ingin lagu-lagu ini tetap terasa sebagai Rupalain. Referensi kami gunakan untuk memperkaya cara bercerita, bukan untuk mengubah jati diri musik kami,” ujarnya.

Baca juga : Gebyar AKW XXV SMAN 1 Kepanjen Hadirkan Ragam Karya dan Inovasi Pelajar

Pemilihan judul Fenomena dipilih karena dianggap paling mewakili benang merah seluruh lagu. Judul tersebut, kata Exora, menjadi cara band membaca ulang realitas yang kerap dianggap lumrah.

“Banyak hal yang sudah dianggap normal, padahal sebenarnya menyimpan pertanyaan besar. Di situlah kami mencoba bersuara,” tambahnya.

Kelompok musik Rupalain merilis EP perdana berjudul Fenomena. (Foto: Ist/Berpola)

Selain aspek musikal, Rupalain juga menghadapi proses pembelajaran baru dalam mendistribusikan karya secara mandiri. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan mereka sebagai band independen yang tengah membangun fondasi.

Dukungan dari lingkungan sekitar turut berperan dalam pematangan EP ini. Masukan dan kritik, baik dari sisi tata suara maupun penulisan lirik, menjadi bagian dari proses refleksi bersama.

Melalui Fenomena, Rupalain berharap dapat memberi warna baru dalam lanskap musik rock alternatif Indonesia sekaligus menyuarakan kegelisahan yang hadir di tengah zaman. Rampungnya EP ini menjadi pijakan awal untuk langkah berikutnya. Pada 2026, Rupalain menargetkan peningkatan intensitas penampilan serta menggelar showcase mini album.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *