
Malang, Berpola- Kepemimpinan tidak selalu lahir dari ruang-ruang besar atau keputusan monumental. Ia kerap tumbuh diam-diam. Dari tangan kecil yang belajar bertanggung jawab, dari keberanian anak menyampaikan pendapat, serta dari kebiasaan saling menghargai. Nilai-nilai inilah yang dirawat KB-TK Islam Al Azhar 56 Malang dalam proses pendidikannya, jauh sebelum anak-anak mengenal arti prestasi.
Ikhtiar tersebut berbuah pengakuan melalui penghargaan Sekolah Islam Terpadu yang Fokus Membentuk Pemimpin Berprestasi dalam ajang Anugerah Pendidikan 2025 yang diselenggarakan Jawa Pos Malang pada 20 Desember 2025 lalu. Bagi sekolah, penghargaan ini bukan sekadar capaian institusional, melainkan penegasan bahwa pendidikan karakter khususnya kepemimpinan memiliki pijakan kuat ketika ditanam sejak usia dini.
“Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi sekaligus pengingat bagi kami untuk terus konsisten menanamkan nilai kepemimpinan yang berangkat dari adab,” ujar Tiyas Sulistiyaningsih, saat diwawancarai pada 5 Januari 2026.
Baca juga : Belajar dari Cinta, TK Lab UM Menemukan Cara Menumbuhkan Anak Hebat
Kepemimpinan yang Tumbuh dari Kebiasaan

Di KB-TK Islam Al Azhar 56 Malang, kepemimpinan tidak diajarkan sebagai konsep abstrak. Anak-anak diperkenalkan pada nilai tanggung jawab dan keberanian melalui pengalaman nyata. Kegiatan kepemimpinan sederhana, proyek sosial, hingga aktivitas intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler menjadi ruang belajar yang dirancang sesuai tahap perkembangan anak.
“Anak-anak kami biasakan mengambil peran kecil dalam kegiatan sehari-hari. Dari situ mereka belajar percaya diri, bekerja sama, dan peduli terhadap lingkungan sekitar,” kata Tiyas. Proses ini, menurutnya, membuat anak memahami kepemimpinan sebagai sikap hidup, bukan sekadar posisi atau peran formal.
Pendekatan tersebut memberi ruang bagi anak untuk belajar dari pengalaman langsung. Mereka dilatih mengenal tanggung jawab atas tugas sederhana, belajar menyampaikan pendapat, serta menghargai perbedaan dalam kebersamaan.
Guru sebagai Teladan Nilai
Dalam proses pembentukan karakter tersebut, guru memegang peran sentral. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga teladan yang diamati dan ditiru peserta didik setiap hari. Sikap guru dalam berinteraksi, berkomunikasi, hingga menyelesaikan persoalan menjadi pembelajaran yang membekas.
“Kami meyakini anak belajar paling kuat dari apa yang mereka lihat. Karena itu, guru harus lebih dulu mempraktikkan nilai kepemimpinan dan adab dalam keseharian,” ujar Tiyas. Lingkungan belajar pun dibangurn agar aman, suportif, dan mendorong anak berani mengambil inisiatif sesuai kemampuannya.
Baca juga : Pasaraya Sehat, Belajar Transaksi Sambil Menanamkan Hidup Sehat Sejak Dini
Integrasi Adab dan Pendidikan Karakter
Keunggulan KB-TK Islam Al Azhar 56 Malang terletak pada komitmennya mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan pendidikan karakter melalui kurikulum implementasi pembelajaran adab. Pendekatan ini menempatkan adab sebagai fondasi utama dalam setiap proses pembelajaran.
Bagi sekolah, prestasi bukan tujuan akhir, melainkan hasil dari proses pendidikan yang berkelanjutan. Kepemimpinan yang dibangun pun diarahkan agar sejalan dengan nilai empati, etika, dan spiritualitas—sehingga anak tumbuh sebagai pribadi yang utuh.
Melanjutkan Ikhtiar Pendidikan

Penghargaan yang diraih menjadi pemantik semangat untuk terus melangkah. Ke depan, KB-TK Islam Al Azhar 56 Malang berkomitmen meningkatkan kualitas program kepemimpinan, memperkuat kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat, serta terus berinovasi dalam praktik pendidikan.
“Kami berharap nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah tidak berhenti di ruang kelas, tetapi juga hidup di rumah dan lingkungan anak,” kata Tiyas.
Di sekolah ini, kepemimpinan ditanam bukan untuk mengejar gelar, melainkan untuk menyiapkan generasi yang kelak mampu memimpin dengan prestasi, adab, dan nurani—berawal dari langkah-langkah kecil yang bermakna.