
Pangkalan Bun, Berpola- Hujan turun pelan malam itu, seperti tahu kapan harus memberi jeda. Di sisi panggung Pangkalan Bun Park, seorang pria berdiri dengan mata tak lepas dari para penari. Tangannya sesekali mengepal, lalu mengendur. Ia tak ikut menari, tak pula berada di tengah sorot lampu. Namun dari tempatnya berdiri, seluruh pertunjukan bergerak mengikuti irama yang telah lama ia tanamkan.
Dialah Rakhmat Agus Setiawan, pendiri sekaligus pelatih Sanggar Bakuba sosok di balik lahirnya Bakuba Night Art (BNA) 2025, sebuah pertunjukan yang lebih menyerupai perjalanan panjang ketimbang acara semalam.
Baca juga :Senin Budaya di SMAN 1 Bululawang, Wujud Pembelajaran Berbasis Karakter
Menjaga Nafas Penari, Menjaga Nafas Budaya
Tiga bulan sebelum malam itu, Rakhmat sudah terbiasa pulang dengan langkah berat. Latihan demi latihan dilalui bersama anak-anak, remaja, hingga penari dewasa lintas usia. Ada hari ketika gerak tak kunjung rapi, ada malam ketika hujan memaksa latihan dipindah, ada pula momen lelah yang hanya bisa dilawan dengan keyakinan.
“Yang kami jaga bukan cuma hafalan gerak,” ujarnya pelan, “tapi kepercayaan diri mereka.”
Di sanggar, ia bukan sekadar pelatih. Ia menjadi tempat bertanya, tempat mengeluh, bahkan tempat pulang bagi banyak anak muda. Tari, baginya, adalah jalan belajar disiplin, keberanian, dan mengenali diri sendiri melalui budaya yang diwariskan.
Panggung yang Dibangun dari Kerja Sunyi
Saat musik mulai mengalun di BNA 2025, ratusan mata tertuju ke panggung. Tari kolosal, sendratari, hingga tari kelompok bergantian tampil. Namun tak banyak yang tahu, setiap gerak di panggung adalah hasil dari kerja sunyi: pengulangan tanpa henti, koreksi kecil yang teliti, dan doa-doa pendek sebelum naik pentas.
Kolaborasi dengan Bipro Creative Holiday Market Space membuka ruang baru. BNA tak hanya berbicara tentang tari, tetapi juga UMKM, musik, dan pertemuan lintas kreativitas. Rakhmat menyebutnya sebagai upaya mendekatkan seni ke ruang publik—agar budaya tidak hanya hidup di sanggar, tetapi juga menyapa masyarakat luas.
Baca juga : Topeng Panji Setyakasih, Ketika Tradisi Bicara Tentang Cinta dan Ketulusan
Lebih dari Sekadar Pertunjukan

Bakuba Night Art digelar dalam rangka hari jadi Sanggar Bakuba yang berdiri sejak 24 Desember 2014. Namun bagi Rakhmat, perayaan bukanlah tujuan akhir.
“Pertunjukan seni tidak cukup hanya menghibur,” katanya. “Harus ada nilai spiritual, intelektual, dan sosial yang sampai ke penonton.”
Ia berharap BNA menjadi energi kolektif sebagai ruang bertemu, ruang belajar, sekaligus pengingat bahwa seni tradisi masih bernapas di tengah arus modernisasi. Bahwa budaya tidak menunggu untuk diselamatkan, melainkan dirawat lewat ketekunan.
Dari Mereka yang Tak Selalu Terlihat
Di akhir pertunjukan, tepuk tangan menggema. Para penari tersenyum, penonton perlahan bubar. Rakhmat kembali berdiri di sisi panggung, memastikan semua anak didiknya turun dengan selamat. Namanya mungkin tak selalu disebut, wajahnya tak selalu tertangkap kamera.
Namun dari orang-orang seperti dialah panggung menjadi hidup.
Dari kerja sunyi merekalah, budaya terus berdetak—pelan, setia, dan tak pernah benar-benar selesai melawan waktu.
Tetap semangat pak Rakhmat untuk membimbing, mengasuh dan memotivasi peserta didik dalam mengajarkan seni budaya. Dan semoga sukses selalu. Aamiin