Nilai tukar rupiah mencapai titik kritis pada Sabtu (13/4), menyentuh Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS), menurut data dari Google Finance. Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan ini adalah hasil dari dinamika pasar internasional yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, termasuk inflasi di AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta Rusia-Ukraina.
“Ini mengacaukan perekonomian global sehingga banyak masyarakat yang beralih ke dolar, meninggalkan mata uang lokal seperti rupiah,” kata Ibrahim, menyoroti dampak dari aliran dana ke dolar AS. Selain itu, Ibrahim menambahkan bahwa libur panjang Idul Fitri di Indonesia juga menjadi penyebab melemahnya rupiah karena minimnya aktivitas perdagangan dalam negeri.
“Selama libur panjang ini, tidak ada pasar lokal yang dapat melawan penguatan dolar, sehingga rupiah terus melemah secara internasional,” tambahnya.
Meski nilai tukar sempat menguat sebelum libur panjang Lebaran 2024, mencapai Rp 15.848 pada 5 April 2024, Ibrahim memproyeksikan bahwa rupiah kemungkinan akan mengalami pelemahan ketika pasar dalam negeri dibuka kembali pada Selasa (16/4). Namun, dia percaya bahwa Bank Indonesia tidak akan tinggal diam dalam menghadapi situasi ini.
“Ibiasanya, ketika rupiah mendekati angka Rp 16.000 per USD, BI akan melakukan intervensi melalui pasar obligasi dan valuta asing untuk menjaga stabilitasnya,” jelas Ibrahim.
Meskipun rupiah melemah dalam perdagangan internasional, Ibrahim menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia tetap stabil, dengan pertumbuhan manufaktur yang positif dan tingkat konsumsi yang meningkat selama masa mudik Lebaran.
“Dengan tingginya konsumsi selama mudik Lebaran, pertumbuhan ekonomi di kota-kota besar di Indonesia akan berdampak positif,” tutupnya.