Judul : Hujan
Terbitan pertama : 2016
Pengarang : Tere Liye
Halaman : 320

Novel Hujan karya Tere Liye menghadirkan kisah yang tidak hanya tentang cinta, tetapi juga tentang kehilangan dan keberanian untuk berdamai dengan masa lalu. Berlatar masa depan dengan sentuhan fiksi ilmiah, cerita ini tetap terasa dekat karena emosi para tokohnya begitu manusiawi. Di tengah dunia yang porak-poranda akibat bencana besar, pembaca diajak menyelami perjalanan batin seorang gadis bernama Lail.
Lail adalah penyintas yang kehilangan orang tuanya dalam bencana dahsyat. Trauma dan kesedihan membentuk hari-harinya, hingga ia dihadapkan pada pilihan untuk menghapus sebagian ingatannya melalui teknologi canggih. Di sinilah konflik utama bermula: haruskah kenangan yang menyakitkan dilenyapkan, atau justru dirangkul sebagai bagian dari diri?
Baca juga : The Midnight Library Tidak Berniat Menyembuhkan Tapi Diam-Diam Memelukku
Sosok Esok teman sekaligus cinta pertamanya menjadi bagian penting dari kenangan itu. Hubungan mereka tumbuh dalam situasi sulit, menghadirkan harapan di tengah kehancuran. Lail digambarkan bukan sebagai tokoh yang sempurna, melainkan sosok rapuh yang perlahan belajar menerima luka.
Perjalanan emosionalnya terasa realistis karena penuh keraguan dan pertanyaan. Interaksinya dengan tokoh-tokoh lain juga memperlihatkan makna persahabatan, pengorbanan, dan ketulusan. Novel ini seakan menegaskan bahwa secanggih apa pun dunia berkembang, manusia tetaplah makhluk yang hidup dari kenangan dan perasaan. Pesan inilah yang membuat Hujan meninggalkan kesan mendalam setelah halaman terakhir ditutup.
Baca juga: Luka yang Ditanggung Perempuan, Cantik yang Selalu Ditagih
Kekuatan novel ini terletak pada gaya bercerita Tere Liye yang sederhana namun menyentuh. Ia tidak menggunakan bahasa yang rumit, tetapi mampu merangkai kalimat yang puitis dan penuh makna. Hujan dalam cerita ini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan simbol dari kenangan yang terus turun, tak peduli seberapa keras seseorang mencoba menghindarinya. Hujan adalah ingatan kadang lembut, kadang deras, tetapi selalu kembali.
Novel ini mengajak pembaca merenungkan arti kehilangan, pentingnya kenangan, dan proses menerima kenyataan. Ia mengingatkan bahwa masa lalu tidak selalu harus dihapus untuk bisa melangkah maju. Sebab seperti hujan, kenangan mungkin tak pernah benar-benar pergi, namun kita bisa belajar hidup berdampingan dengannya.
Pada akhirnya, Hujan karya Tere Liye mengajarkan bahwa kenangan tidak untuk dihapus, melainkan diterima. Sebab dari luka dan kehilangan, manusia belajar menjadi lebih kuat dan berani melangkah ke depan. Salah satu kutipan yang paling saya ingat ialah “Mulutmu membantah, tapi wajahmu bilang sebaliknya.” (halaman 247)