Merawat Karakter Anak Lewat Pembelajaran Digital di SDN 01 Klegen

Hilmi Alima Muktianti saat mendampingi proses belajar menggunakan Papan Interaktif Digital kepada siswa (Foto: Ist/Berpola)

Madiun, Berpola – Di sebuah ruang kelas di SDN 01 Klegen, suasana belajar pada pagi hari tampak berbeda. Sejumlah siswa kelas 5 berdiri mengelilingi sebuah papan digital interaktif. Sesekali terdengar gelak tawa ketika salah satu jawaban yang mereka pilih di layar ternyata keliru. Tidak ada wajah tegang ataupun suasana belajar yang monoton. Kelas berjalan hidup, penuh rasa ingin tahu.

Di balik suasana itu, ada sosok Hilmi Alima Muktianti, S.Pd., M.Pd., yang perlahan mengubah cara belajar anak-anak di sekolah dasar melalui pemanfaatan teknologi.

Bagi Hilmi, perkembangan digital bukan sesuatu yang perlu ditakuti dalam dunia pendidikan. Ia justru melihat teknologi sebagai pintu untuk mendekatkan pembelajaran dengan kehidupan generasi saat ini.

“Anak-anak sekarang lahir di era digital. Mereka sangat dekat dengan teknologi. Tugas guru bukan menjauhkan mereka dari teknologi, tetapi mengarahkan agar teknologi itu bermanfaat,” ujarnya.

Pandangan itu kemudian diwujudkan melalui pengembangan media pembelajaran berbasis Papan Interaktif Digital (PID). Hingga kini, sedikitnya 15 media pembelajaran telah ia ciptakan dan digunakan secara langsung dalam proses belajar mengajar.

Baca juga : Gobak Sodor di Kelas, Cara Khrisna Melawan Kebekuan Belajar

Namun, yang membuat media tersebut berbeda bukan hanya karena berbasis teknologi. Hilmi memasukkan unsur keseharian siswa ke dalam setiap materi pembelajaran. Mulai dari lingkungan sekitar, budaya lokal, hingga kebiasaan anak-anak sehari-hari dijadikan bagian dari isi pembelajaran.

Cara itu membuat siswa merasa lebih dekat dengan materi yang dipelajari.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi pendidikan, banyak pembelajaran digital justru terasa asing bagi siswa karena terlalu jauh dari kehidupan mereka. Hilmi mencoba mematahkan pola tersebut. Ia percaya bahwa teknologi akan lebih efektif ketika hadir dengan pendekatan yang membumi.

Hasilnya terlihat di dalam kelas. Anak-anak lebih aktif bertanya, berani mencoba, dan tidak takut melakukan kesalahan. Pembelajaran tidak lagi berjalan satu arah.

“Belajar dengan Hilmi itu seru. Ada permainan dan videonya, jadi tidak bosan. Tapi kami juga selalu diingatkan supaya sopan dan bijak saat menggunakan internet,” kata salah satu siswa kelas 5.

Hilmi Alima Muktianti saat mendampingi proses belajar menggunakan Papan Interaktif Digital kepada siswa (Foto: Ist/Berpola)

Pernyataan sederhana itu menggambarkan satu hal penting yang menjadi perhatian Hilmi: pendidikan karakter.

Di tengah euforia transformasi digital, ia menilai tantangan terbesar pendidikan saat ini bukan hanya soal kemampuan teknologi, melainkan bagaimana menjaga nilai-nilai etika di tengah perubahan zaman.

Karena itu, setiap pembelajaran yang ia bangun selalu disertai penanaman nilai sopan santun. Anak-anak tidak hanya diajarkan mengoperasikan media digital, tetapi juga memahami batasan dalam berinteraksi di ruang digital.

Baginya, kecerdasan intelektual tidak akan berarti tanpa karakter.

Baca juga : Dari SMAN 1 Gondanglegi, Fathul Basith Menapaki Jalan ke Kedokteran UNAIR

Pendekatan tersebut membuat suasana kelas menjadi lebih terbuka. Siswa merasa dihargai pendapatnya, diberi ruang untuk bereksperimen, tetapi tetap diarahkan pada nilai-nilai moral.

Apa yang dilakukan Hilmi juga mendapat pengakuan di luar sekolah. Sejumlah media pembelajaran berbasis PID yang ia kembangkan berhasil meraih penghargaan dalam berbagai ajang inovasi pembelajaran.

Penghargaan itu menjadi penanda bahwa inovasi pendidikan tidak selalu lahir dari fasilitas mewah atau teknologi mahal. Kreativitas guru dalam memahami kebutuhan siswa justru menjadi kunci utama.

Meski demikian, Hilmi tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Ia aktif membagikan praktik baik penggunaan media PID melalui komunitas belajar hingga webinar nasional yang diikuti guru dari berbagai daerah.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa perubahan pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Inovasi perlu dibagikan agar manfaatnya semakin luas.

Di tengah berbagai tantangan pendidikan saat ini, sosok Hilmi menghadirkan gambaran tentang guru yang mampu berjalan seiring dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai dasar pendidikan.

Teknologi di tangannya bukan sekadar alat modernisasi pembelajaran. Teknologi menjadi medium untuk membangun keberanian siswa belajar, menumbuhkan rasa ingin tahu, sekaligus menanamkan karakter.

Dari ruang kelas sederhana di Kota Madiun, Hilmi menunjukkan bahwa masa depan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi digunakan, tetapi juga oleh seberapa besar kepedulian guru dalam memanusiakan proses belajar.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *