
Kab. Malang, Berpola- Kabupaten Malang kini memiliki taman baca yang tidak sekadar menumpuk buku, tetapi menebar semangat literasi dengan cara yang berbeda. Kanjuruhan Membaca, yang resmi berdiri pada Juli 2024, lahir dari keresahan sekumpulan anak muda yang melihat kurangnya minat baca di wilayah ini. Dari pertemuan daring sederhana, lahirlah ide untuk membuat sebuah ruang baca yang bisa diakses semua kalangan.
Awal perjalanan Kanjuruhan Membaca dimulai dengan membuka lapak baca di stadion Kanjuruhan, salah satu landmark ikonik Kabupaten Malang.
“Kami memilih stadion karena tempat ini menjadi simbol kota, mudah dijangkau, dan nyaman untuk kegiatan santai. Anak-anak maupun orang dewasa bisa datang, duduk, dan membaca tanpa tekanan,” ujar Renica, inisiator sekaligus penggerak utama taman baca ini. Kini, taman baca ini berlokasi di Jl. Melati Mangurejo No.129, Kepanjen, memudahkan warga sekitar untuk datang dan mengakses buku.
Baca juga : TBM Teras Hidupkan Budaya Membaca Lewat Mendongeng, Mewarnai, dan Membaca Nyaring

(Foto: Ist/Berpola)
Misi utama Kanjuruhan Membaca adalah membangun peradaban lewat tulisan. Renica menjelaskan, “Setiap kata yang dibaca bisa mengubah sudut pandang. Literasi bukan hanya soal tahu huruf atau membaca teks, tapi tentang memahami dunia, berimajinasi, dan mengembangkan diri. Kami ingin setiap orang di Kepanjen dan sekitarnya merasakan itu.”
Kegiatan yang ditawarkan sangat beragam. Mulai dari baca bersama, sesi sharing, pelatihan kepenulisan, hingga bookswap. Kanjuruhan membaca menjadi tempat berkumpul membaca dan berdiskusi. Mereka juga sering berkolaborasi dengan komunitas lokal seperti Arek Kepanjen, Ruang Riang, TBM Lentera talansuko dan beberapa komunitas lainnya
Ranica menambahkan, masyarakat sebenarnya bukan tidak suka membaca, tetapi belum menemukan buku yang tepat. “Banyak anak bilang mereka tidak suka membaca. Tapi setelah kami tunjukkan buku-buku ringan dan menarik, mereka mulai antusias. Hal ini membuktikan bahwa masalahnya bukan malas, tapi belum menemukan bacaan yang pas,” ungkapnya.
Untuk menjaga minat baca tetap konsisten, Kanjuruhan Membaca menerapkan sistem sederhana: pengunjung harus meminjam buku terlebih dahulu, sehingga ada tanggung jawab dan keterikatan pada buku yang dibaca.
Memang untuk saat ini, pengadaan buku masih bergantung pada donasi, namun Renica berharap di masa depan mereka bisa memperluas koleksi melalui kerja sama dengan penerbit dan komunitas lain.
Baca juga: Menyala di Tengah Gelap, Perjuangan Guru di TBM Lentera Talangsuko
Selain itu, Kanjuruhan Membaca juga menekankan pentingnya menciptakan gaya hidup literasi. “Kami ingin membaca tidak dianggap sulit atau membosankan. Dengan membuat kegiatan yang menyenangkan dan mudah diakses, anak-anak bisa merasakan pengalaman baru dari halaman pertama yang mereka buka. Mereka belajar bahwa membaca bisa menjadi hobi, bukan beban,” kata Renica.
Sejak berdirinya, Kanjuruhan Membaca mulai menorehkan perubahan kecil namun nyata di Kabupaten Malang. Anak-anak mulai terbiasa datang, duduk, dan memilih buku sendiri. Orang tua pun mulai tertarik untuk ikut serta, menjadikan membaca sebagai aktivitas keluarga.
Renica menegaskan, literasi yang tumbuh dari kesadaran dan rasa ingin tahu ini diharapkan bisa menumbuhkan masyarakat terpelajar, yang mampu bersaing tanpa kehilangan identitas lokal.
Dengan semangat yang konsisten dan dukungan komunitas, Kanjuruhan Membaca bertekad menjangkau lebih banyak warga di sekitar Kepanjen dan Malang.
Renica menutup wawancara dengan optimis: “Kami percaya, setiap buku yang dibaca bisa menyalakan percikan ide dan kreativitas. Jika satu orang terinspirasi untuk terus membaca dan belajar, maka kami telah mencapai tujuan kami.”