Menenun Masa Depan Santri melalui Ecoprint dan Kewirausahaan Berkelanjutan

Tim PkM Unesa bersama santri Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah Lirboyo berfoto bersama usai pelatihan ecoprint berbasis teknik Iron Blanket, Kamis (18/6/2026) (Foto: Ist/Berpola)

Berpola, Kediri — Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin menuntut keterampilan praktis dan jiwa kewirausahaan, pesantren kini tidak lagi hanya dipandang sebagai ruang pembelajaran keagamaan. Pesantren mulai bertransformasi menjadi tempat lahirnya generasi muda yang mampu menggabungkan nilai-nilai spiritual, kreativitas, dan kemandirian ekonomi.

Transformasi itu tampak dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang diselenggarakan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah Lirboyo, Kediri, Kamis (18/6/2026). Melalui program bertajuk “Transformasi Tekstil Ecopreneur melalui Teknik Iron Blanket untuk Meningkatkan Kemandirian Ekonomi Santri Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah Lirboyo”, sebanyak 40 santri diajak mengenal peluang usaha kreatif berbasis tekstil ramah lingkungan.

Program yang didukung Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unesa tersebut tidak sekadar memberikan pelatihan teknis membatik. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menjawab tantangan yang dihadapi banyak lulusan pendidikan keagamaan: bagaimana membangun kemandirian ekonomi tanpa harus meninggalkan nilai-nilai yang mereka pelajari di pesantren.

Baca juga : Peneliti Unesa Membaca SDGs dalam Singir Pesantren

Ketua tim PkM Unesa, Aqim Amral Hukmi, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan menggabungkan keterampilan produksi dengan wawasan kewirausahaan berkelanjutan. Menurutnya, potensi ekonomi kreatif berbasis lingkungan masih terbuka lebar dan dapat menjadi alternatif sumber penghasilan bagi santri setelah menyelesaikan pendidikan.

“Pesantren memiliki sumber daya manusia yang besar. Jika keterampilan kreatif dan jiwa kewirausahaan diperkuat, santri tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja. Karena itu kami memperkenalkan teknik Iron Blanket sebagai salah satu inovasi dalam pengembangan produk tekstil yang memiliki nilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan,” ujarnya.

Memanfaatkan Alam sebagai Sumber Kreativitas

Peserta pelatihan tampak teliti menata daun dan bunga di atas kain sebelum memasuki proses pencetakan motif dengan teknik Iron Blanket. (Foto: Ist/Berpola)

Teknik Iron Blanket merupakan salah satu metode ecoprint yang memanfaatkan daun, bunga, dan berbagai material alami untuk menghasilkan motif pada kain. Berbeda dengan proses pewarnaan tekstil konvensional yang kerap menggunakan bahan kimia, teknik ini mengandalkan pigmen alami yang lebih aman bagi lingkungan.

Di lingkungan pesantren, pendekatan tersebut dinilai relevan karena bahan bakunya mudah ditemukan di sekitar area pondok. Daun-daun yang selama ini dianggap limbah dapat diubah menjadi motif artistik bernilai jual.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana konsep ekonomi hijau mulai masuk ke ruang pendidikan. Keterampilan yang diajarkan bukan hanya soal menghasilkan produk, tetapi juga membangun kesadaran tentang pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.

Selama kegiatan berlangsung, para santri mendapatkan materi mengenai konsep ecopreneurship, teknik dasar Iron Blanket, hingga praktik langsung pembuatan produk tekstil ecoprint. Antusiasme peserta terlihat ketika mereka mulai menyusun daun di atas kain dan menyaksikan proses terbentuknya motif alami yang unik pada setiap lembar kain.

Baca juga : Hiskikom Malang Perkuat Langkah Bersama Kwartet Hiskikom Jawa Timur untuk Sastra Masuk Sekolah

Tidak ada dua hasil karya yang benar-benar sama. Justru keunikan inilah yang menjadi nilai jual produk ecoprint di pasar kerajinan dan fesyen berkelanjutan yang kini terus berkembang.

Menjawab Tantangan Kemandirian Ekonomi Santri

Bagi banyak pesantren, isu kemandirian ekonomi menjadi perhatian penting. Di satu sisi, pesantren memiliki jumlah santri yang besar dan jaringan sosial yang luas. Namun di sisi lain, akses terhadap pelatihan kewirausahaan berbasis industri kreatif masih relatif terbatas.

Perwakilan Pondok Pesantren HM Al-Mahrusiyah, Eko Santoso, S.Pd. dan M. Asif Fadli Zamzami, S.Ag., S.Pd., menilai program seperti ini memberikan perspektif baru bagi santri mengenai peluang usaha yang dapat dikembangkan dari lingkungan sekitar.

“Ilmu agama tetap menjadi fondasi utama. Namun santri juga perlu dibekali keterampilan hidup yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Kegiatan ini memberikan pengalaman baru sekaligus membuka wawasan tentang peluang ekonomi kreatif,” ujar mereka.

Menurutnya, keterampilan seperti ecoprint memiliki keunggulan karena tidak membutuhkan modal besar pada tahap awal. Produk yang dihasilkan juga memiliki peluang pasar yang cukup menjanjikan seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap produk ramah lingkungan dan hasil kerajinan berbasis tangan (handmade).

Perguruan Tinggi dan Pesantren: Kolaborasi untuk Pemberdayaan

Kegiatan yang melibatkan enam dosen, dua mahasiswa, dan dua alumni Unesa ini juga mencerminkan perubahan paradigma pengabdian perguruan tinggi. Pengabdian tidak lagi berhenti pada transfer pengetahuan sesaat, tetapi diarahkan untuk menciptakan dampak sosial dan ekonomi yang berkelanjutan.

Kolaborasi antara kampus dan pesantren menjadi penting karena keduanya memiliki kekuatan yang saling melengkapi. Perguruan tinggi membawa inovasi dan pengetahuan, sementara pesantren memiliki komunitas yang kuat serta nilai-nilai sosial yang mampu menjaga keberlanjutan program.

Dalam konteks yang lebih luas, penguatan keterampilan ecopreneur bagi santri sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Program ini mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui pembelajaran berbasis praktik, sekaligus memperkuat kapasitas kewirausahaan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Di akhir kegiatan, para santri tidak hanya membawa pulang lembaran kain bermotif daun dan bunga. Mereka juga membawa sebuah gagasan baru bahwa kreativitas, kepedulian terhadap lingkungan, dan semangat berwirausaha dapat berjalan beriringan.

Bagi sebagian peserta, pengalaman tersebut mungkin menjadi pertemuan pertama mereka dengan dunia ekonomi kreatif. Namun dari ruang sederhana di lingkungan pesantren itulah, benih-benih ecopreneur muda mulai ditanam dengan harapan suatu hari tumbuh menjadi usaha mandiri yang memberi manfaat bagi diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *