Empat Perempuan Menginisiasi Jeda Merona, Menghadirkan Ruang Aman bagi Perempuan Malang Selatan

Para peserta dan pengurus Jeda Merona mengabadikan momen kebersamaan setelah kegiatan kelas kreatif di Kepanjen, Kabupaten Malang. (Foto: Ist/Berpola)

Kepanjen, Berpola โ€” Di balik kesibukan menjalankan berbagai peran sebagai ibu, istri, anak, pekerja, maupun individu, banyak perempuan yang nyaris tidak memiliki ruang untuk berhenti sejenak. Rutinitas yang padat, tuntutan sosial, hingga minimnya wadah berekspresi membuat tidak sedikit perempuan mengalami kelelahan emosional tanpa memiliki tempat untuk berbagi.

Kegelisahan itulah yang melahirkan Jeda Merona, sebuah komunitas yang berfokus pada pemberdayaan perempuan di Malang Selatan. Komunitas ini diinisiasi oleh empat perempuan, yakni Erika, Dewi, Ferina, dan Khamila, yang melihat masih terbatasnya ruang kreatif dan ruang aman bagi perempuan di wilayah tersebut.

Dalam wawancara, salah satu inisiator, Khamila, menjelaskan bahwa Jeda Merona lahir bukan sekadar untuk mengadakan kelas keterampilan, tetapi menjadi tempat bagi perempuan untuk saling menguatkan dan bertumbuh bersama.

“Kami melihat perempuan di Malang Selatan membutuhkan ruang untuk saling terhubung, berbagi cerita, menambah relasi, sekaligus mengekspresikan diri melalui kegiatan yang positif. Di sisi lain, wadah kreatif yang representatif bagi perempuan masih sangat terbatas,” ujar Khamila.

Baca juga : Menyelam Bersama Bayi, Kisah Jowvy Kumala Membangun Water Fox Swim School di Makassar

Menurutnya, nama Jeda Merona memiliki filosofi yang sederhana namun mendalam. Kata jeda dimaknai sebagai kesempatan untuk berhenti sejenak dari berbagai peran yang dijalani perempuan setiap hari. Sementara merona melambangkan semangat, keberanian, kebahagiaan, dan harapan baru.

“Melalui Jeda Merona, kami ingin menghadirkan ruang di mana perempuan bisa mengambil jeda, melakukan aktivitas kreatif sebagai bentuk self expression sekaligus healing, sehingga mereka kembali menjadi perempuan yang lebih berani, bahagia, dan merona,” katanya.

Menjawab Kebutuhan Perempuan Malang Selatan

Peserta fokus menghias kue pada kegiatan perdana Jeda Merona (Foto: Ist/ Berpola)

Sasaran utama komunitas ini adalah seluruh perempuan di Malang Selatan tanpa dibatasi usia.

Khamila menilai, akses perempuan terhadap ruang pengembangan diri di kawasan Malang Selatan masih belum merata. Padahal, perempuan sering menghadapi berbagai transisi kehidupan yang memengaruhi kondisi emosional mereka, baik dalam ranah keluarga, pekerjaan, maupun kehidupan sosial.

“Ketika perempuan memiliki ruang untuk berkembang, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya,” jelasnya.

Safe Space yang Bebas dari Penghakiman

Berbeda dari komunitas keterampilan pada umumnya, Jeda Merona menjadikan konsep safe space sebagai fondasi utama.

Setiap peserta diajak menyepakati sejumlah aturan sejak awal. Seluruh cerita yang disampaikan selama kegiatan bersifat rahasia dan tidak boleh dibawa keluar forum. Peserta juga tidak diperkenankan memberikan komentar yang menghakimi, membandingkan pilihan hidup orang lain, maupun menceramahi sesama anggota.

Baca juga : Kanjuruhan Membaca Hadirkan Budaya Literasi di Kabupaten Malang

Selain itu, komunitas ini menghapus sekat-sekat berdasarkan usia, status pernikahan, maupun pekerjaan. Semua perempuan diposisikan setara sebagai individu yang sedang belajar bersama.

“Kami ingin setiap perempuan merasa nyaman untuk belajar dari nol. Ini bukan tempat untuk memamerkan kemampuan, tetapi tempat untuk tumbuh bersama,” tutur Khamila.

Kelas Kreatif sebagai Sarana Bertumbuh

Sebagai bentuk pemberdayaan, Jeda Merona rutin menghadirkan berbagai kelas kreatif, mulai dari menjahit, memasak, kerajinan tangan, hingga kelas tata rias mandiri.

Selain mengembangkan keterampilan, kegiatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan rasa percaya diri sekaligus membuka peluang ekonomi bagi peserta.

Komunitas ini juga memiliki program berbagi bersama narasumber sesuai isu-isu yang relevan bagi perempuan, serta program Langkah Merona, yaitu kunjungan ke pameran, workshop, maupun komunitas kreatif di luar Malang Selatan untuk memperluas wawasan dan jejaring peserta.

Antusiasme Masyarakat Melampaui Ekspektasi

Persiapan pembentukan Jeda Merona dimulai pada Maret 2026. Momentum Hari Kartini pada 21 April kemudian dipilih sebagai titik awal peluncuran komunitas.

Baca juga : Menenun Masa Depan Santri melalui Ecoprint dan Kewirausahaan Berkelanjutan

Meski sempat diliputi keraguan, respons masyarakat justru melampaui ekspektasi. Peserta kegiatan perdana tidak hanya berasal dari Kepanjen, tetapi juga datang dari Bululawang, Ngajum, Sumberpucung, Pakisaji, dan sejumlah wilayah lain.

Promosi melalui media sosial serta dukungan akun media lokal Kepanjen Kita turut memperluas jangkauan komunitas tersebut.

Menjangkau Perempuan hingga Pelosok Malang Selatan

Saat ini, Jeda Merona memusatkan kegiatan di kawasan Kepanjen dan sekitarnya dengan memanfaatkan kafe-kafe UMKM yang memiliki suasana hangat dan inklusif.

Untuk menjangkau perempuan di berbagai wilayah Malang Selatan, komunitas ini aktif memanfaatkan Instagram, TikTok, penyebaran flyer digital, serta komunikasi melalui WhatsApp.

Khamila berharap Jeda Merona dapat berkembang menjadi ruang aman utama bagi perempuan Malang Selatan.

“Kami ingin semakin banyak perempuan, termasuk yang berada di pelosok Malang Selatan, memiliki akses terhadap ruang belajar, ruang berkarya, dan ruang untuk saling menguatkan. Ketika perempuan bertumbuh, keluarga dan masyarakat juga akan ikut bertumbuh,” pungkasnya.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *