
Di tengah tekanan ekonomi yang membuat masyarakat semakin berhitung dalam mengelola pengeluaran, kebutuhan akan perawatan kulit kerap menjadi salah satu pos yang dikorbankan. Produk skincare dianggap sebagai kebutuhan sekunder yang bisa ditunda, sementara perawatan di klinik dinilai identik dengan biaya yang mahal.
Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Menurut Dr. dr. Nora Ariyati, M.Kes., Sp.DVE, dokter spesialis kulit dan kelamin dari Aurell Skin Care, menjaga kesehatan kulit tidak selalu bergantung pada banyaknya produk yang digunakan ataupun frekuensi menjalani treatment. Yang lebih penting adalah memahami kebutuhan kulit dan menentukan prioritas.
“Merawat kulit bukan berarti harus memiliki banyak produk. Rutinitas yang sederhana tetapi konsisten justru sering kali lebih efektif,” ujar dr. Nora.
Pernyataan itu menjadi relevan ketika tren media sosial terus mendorong masyarakat untuk membeli berbagai produk baru. Mulai dari serum dengan beragam kandungan aktif, toner berlapis, hingga rangkaian skincare belasan langkah, semuanya seolah menjadi standar baru dalam merawat kulit.
Padahal, menurut dr. Nora, rutinitas yang terlalu kompleks belum tentu memberikan hasil lebih baik. Bahkan, tidak sedikit pasien yang datang dengan keluhan iritasi akibat terlalu sering mencoba produk yang sedang viral.
“Setiap kulit memiliki kebutuhan yang berbeda. Apa yang cocok untuk orang lain belum tentu sesuai untuk kita,” katanya.
Baca juga : Ketika Treatment Menjadi Tren, dr. Nora Mengingatkan Risiko yang Sering Terabaikan
Di tengah keterbatasan anggaran, dr. Nora menyarankan masyarakat tetap mempertahankan tiga langkah dasar dalam perawatan kulit. Pertama, menggunakan pembersih wajah yang sesuai dengan jenis kulit untuk mengangkat kotoran, minyak, dan sisa polusi. Kedua, memakai pelembap guna menjaga skin barrier tetap sehat, termasuk bagi pemilik kulit berminyak. Ketiga, menggunakan sunscreen sebagai perlindungan utama dari paparan sinar ultraviolet.

(Foto: Ist/Berpola)
Dari ketiga langkah tersebut, sunscreen dinilai sebagai produk yang paling sulit untuk dikompromikan.
“Kalau harus memilih satu produk yang tidak boleh dilewatkan, saya selalu menyarankan sunscreen. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan kulit,” jelasnya.
Paparan sinar ultraviolet yang berlangsung setiap hari dapat mempercepat penuaan kulit, memicu munculnya flek hitam, hingga menyebabkan hiperpigmentasi. Karena itu, penggunaan sunscreen secara rutin menjadi bentuk pencegahan yang jauh lebih efektif dibandingkan memperbaiki kerusakan kulit di kemudian hari.
Hal serupa juga berlaku untuk perawatan di klinik kecantikan. Menurut dr. Nora, treatment tidak harus dilakukan setiap bulan atau selalu memilih prosedur dengan biaya tinggi. Perawatan dapat disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing setelah melalui konsultasi dengan dokter.
Dengan demikian, pasien dapat mengetahui treatment yang benar-benar menjadi prioritas sehingga biaya yang dikeluarkan lebih efisien sekaligus memberikan hasil yang optimal.
Baca juga: Kartini Masa Kini Memilih Bukan Sekadar Mengikuti
Di sisi lain, dr. Nora mengingatkan bahwa kesehatan kulit tidak hanya dibangun dari produk yang dioleskan dari luar. Pola hidup tetap menjadi fondasi utama yang sering kali justru diabaikan.
Asupan makanan bergizi, konsumsi air putih yang cukup, kualitas tidur, serta aktivitas fisik secara teratur memiliki pengaruh besar terhadap kondisi kulit. Tanpa kebiasaan tersebut, skincare yang digunakan pun tidak akan memberikan hasil maksimal.
Pada akhirnya, merawat kulit bukanlah tentang mengikuti setiap tren yang muncul atau memiliki rak penuh produk kecantikan. Di tengah kondisi ekonomi yang menuntut masyarakat lebih bijak mengelola keuangan, pendekatan yang sederhana, tepat sasaran, dan konsisten justru menjadi pilihan yang lebih rasional.
Sebab, kulit yang sehat bukan hanya soal penampilan, tetapi juga tentang menjaga fungsi organ terbesar tubuh sekaligus membangun rasa nyaman dan percaya diri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.