Jangan Asal Hilangkan Tahi Lalat, Kenali Dulu Tanda yang Perlu Diwaspadai

Malang, Berpola- Ada yang menganggap tahi lalat sebagai pemanis wajah. Ada pula yang justru merasa terganggu dan ingin segera menghilangkannya. Sebagian bahkan memilih membiarkannya begitu saja karena menganggap tahi lalat hanyalah bagian biasa dari tubuh.

Di antara dua sikap tersebut, terselip satu pertanyaan yang kerap luput: sebenarnya, kapan tahi lalat aman dibiarkan dan kapan perlu diperiksa?

Pertanyaan itu menjadi penting karena tidak semua perubahan pada kulit dapat dikenali hanya dengan melihatnya sekilas. Di sisi lain, ketakutan terhadap tahi lalat juga kerap dibumbui mitos. Salah satunya adalah anggapan bahwa menghilangkan tahi lalat dapat menyebabkan kanker.

Padahal, menurut DR. dr. Nora Ariyati, MKes, SpDVE, FINSDV, FAADV, sebagian besar tahi lalat justru bersifat jinak dan tidak memerlukan tindakan medis.

“Sebagian besar tahi lalat memang tidak berbahaya. Yang penting adalah mengetahui kapan sebuah tahi lalat perlu diperiksa lebih lanjut dan kapan cukup dipantau,” ujarnya.

Baca juga : Snow Bubble Special Premium, Solusi Facial dari Aurell Skin Care

Bukan Semua yang Menonjol Harus Dihilangkan

Keberadaan tahi lalat sering kali baru terasa mengganggu ketika berada di tempat yang mudah terlihat. Wajah, leher, atau bagian tubuh tertentu menjadi alasan seseorang datang ke dokter dengan satu keinginan sederhana: menghilangkannya.

Keinginan tersebut bukan persoalan selama dilakukan setelah pemeriksaan.

Jika tahi lalat dinyatakan jinak, pengangkatan dapat dilakukan karena alasan medis maupun estetika. Namun, keputusan untuk menghilangkannya sebaiknya tidak didasarkan semata pada bentuk atau penampilan.

Sebab, ada tahi lalat yang tampak biasa tetapi mengalami perubahan yang perlu mendapat perhatian.

Di sinilah pemeriksaan dokter kulit memiliki peran penting. Sebelum berbicara mengenai bagaimana tahi lalat dihilangkan, yang lebih dahulu perlu dijawab adalah apakah tahi lalat tersebut memang aman untuk sekadar dihilangkan?

Perubahan Kecil yang Tidak Seharusnya Diabaikan

Sosok dokter kulit klinik Aurell Skincare, DR. dr. Nora Ariyati, MKes, SpDVE, FINSDV, FAADV. (Foto: Ist/Berpola)

Tahi lalat yang tidak berubah dari waktu ke waktu umumnya tidak perlu membuat seseorang panik. Yang patut diperhatikan justru ketika ada sesuatu yang berbeda.

Bentuk yang sebelumnya simetris berubah menjadi tidak beraturan. Tepinya yang semula jelas mulai tampak tidak rata. Warnanya berubah atau muncul beberapa warna dalam satu tahi lalat. Ukurannya bertambah besar.

Perubahan juga perlu diperhatikan jika tahi lalat tiba-tiba mudah berdarah, terasa gatal atau nyeri, maupun mengalami luka yang tidak kunjung sembuh.

Tanda-tanda tersebut memang tidak otomatis berarti kanker kulit. Namun, perubahan itu merupakan alasan yang cukup untuk membawa tahi lalat tersebut ke dokter kulit.

Sebab, semakin dini sebuah perubahan dikenali, semakin cepat pula dokter dapat menentukan apakah tahi lalat cukup dipantau atau membutuhkan pemeriksaan dan tindakan lebih lanjut.

Mitos yang Bertahan: Diangkat Malah Jadi Kanker

Ada ketakutan lain yang membuat sebagian orang memilih tidak menyentuh tahi lalatnya sama sekali. Mereka percaya, tahi lalat yang diangkat akan “terpicu” menjadi kanker.

Menurut Nora, anggapan tersebut tidak benar. Pengangkatan tahi lalat yang dilakukan sesuai indikasi medis dan melalui prosedur yang tepat tidak menyebabkan kanker. Persoalan yang sebenarnya justru terletak pada kondisi tahi lalat sebelum tindakan dilakukan.

Baca juga : Merawat Kulit Bukan Soal Mewah, tetapi Memahami Kebutuhan

“Yang sering menjadi salah kaprah adalah ketika tahi lalat yang sebenarnya sudah memiliki perubahan mencurigakan baru diperiksa setelah terlambat. Padahal bukan tindakan pengangkatannya yang menyebabkan kanker, melainkan kondisi pada tahi lalat tersebut yang memang perlu dievaluasi sejak awal,” jelasnya.

Dengan demikian, pemeriksaan sebelum tindakan bukan sekadar formalitas. Pemeriksaan menjadi tahap untuk memastikan langkah yang diambil memang tepat.

Ketika Pisau Bedah Menjadi Bagian dari Pemeriksaan

Dalam kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan eksisi atau pengangkatan tahi lalat melalui tindakan bedah kecil.

Bagi pasien, tindakan ini mungkin terlihat sederhana: tahi lalat diangkat, kemudian luka dirawat hingga sembuh.

Namun, secara medis, prosedur tersebut dapat memiliki tujuan yang lebih dari sekadar mengubah penampilan. Pada kondisi tertentu, jaringan yang diangkat dapat diperiksa lebih lanjut untuk mengetahui karakter jaringan tersebut.

Eksisi umumnya dilakukan menggunakan anestesi lokal sehingga pasien tetap nyaman selama tindakan. Waktu yang dibutuhkan relatif singkat, meski bergantung pada ukuran dan lokasi tahi lalat.

Karena itu, pengangkatan tahi lalat sebaiknya bukan keputusan yang diambil hanya karena terganggu oleh keberadaannya. Ada proses penilaian yang perlu dilalui sebelum dokter menentukan tindakan.

Baca juga : Ketika Treatment Menjadi Tren, dr. Nora Mengingatkan Risiko yang Sering Terabaikan

Jangan Menunggu Sampai Tahi Lalat “Terlihat Parah”

Persoalan tahi lalat sering kali berada pada dua ujung yang berlawanan. Ada yang terlalu khawatir terhadap setiap tahi lalat. Ada pula yang terlalu menganggap remeh perubahan yang terjadi.

Keduanya sama-sama dapat membuat seseorang mengambil keputusan yang tidak tepat.

Tahi lalat yang jinak tidak perlu buru-buru dihilangkan. Sebaliknya, tahi lalat yang mengalami perubahan tidak sebaiknya dibiarkan hanya karena dianggap sebagai bagian normal dari tubuh.

Pemeriksaan dokter kulit menjadi jalan tengah di antara keduanya.

“Yang terpenting bukan terburu-buru menghilangkan tahi lalat, tetapi memastikan terlebih dahulu kondisinya. Dengan begitu, keputusan yang diambil benar-benar sesuai kebutuhan pasien,” kata Nora.

Pada akhirnya, tahi lalat bukan sekadar titik kecil di permukaan kulit. Ia adalah bagian dari tubuh yang perlu dikenali perubahannya.

Bukan semua tahi lalat harus diangkat. Tetapi setiap perubahan yang mencurigakan layak diperiksa.

Sebab, dalam urusan kesehatan kulit, keputusan terbaik bukanlah yang paling cepat, melainkan yang dibuat setelah seseorang benar-benar mengetahui apa yang sedang terjadi.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *