The Midnight Library Tidak Berniat Menyembuhkan Tapi Diam-Diam Memelukku

Judul Buku : The Midnight Library
Penulis : Matt Haig
Terbitan Pertama : 2020
Jumlah Halaman : 304 Halaman

Resensi, Berpola- Saya membaca The Midnight Library bukan karena sedang mencari bacaan baru atau mengikuti tren. Saya membacanya karena sedang sunyi. Bukan sunyi yang bisa diusir dengan keramaian, melainkan sunyi karena kehilangan—kehilangan seseorang yang tak akan pernah kembali. Dunia terus bergerak, sementara saya diam di tempat. Napas masih ada, tetapi rasanya tidak hidup.

Saya tidak membuka buku ini untuk sembuh. Saya hanya ingin duduk diam bersama sesuatu yang tidak banyak bicara, yang tidak memintaku segera bangkit, dan tidak menepuk pundak sambil berkata, “sabar, ya.” Saya hanya ingin ditemani.

Dan The Midnight Library datang seperti itu, tanpa mengetuk keras, tanpa memaksa. Ia hadir pelan, membuka halaman pertama dengan satu nama: Nora Seed.

Nora bukan tokoh yang luar biasa. Justru karena itu ia terasa dekat. Ia perempuan biasa yang merasa gagal, kecewa pada hidup, dan lelah mencoba. Ia kehilangan pekerjaan, kehilangan kucing, kehilangan hubungan dengan orang-orang terdekat, dan yang paling menyakitkan: kehilangan harapan. Dalam keputusasaan, Nora memutuskan mengakhiri hidupnya namun ia justru terbangun di sebuah tempat di antara hidup dan mati: sebuah perpustakaan.

Di sana, ia bertemu Mrs. Elm, pustakawan dari masa kecilnya. Setiap buku di perpustakaan itu menyimpan versi lain dari kehidupan Nora, hidup yang akan terjadi jika ia membuat pilihan berbeda. Dari titik ini, Nora memulai perjalanan menjelajahi berbagai versi dirinya: atlet renang, musisi terkenal, profesor filsafat, istri dari pria yang dulu ia tolak, dan banyak lagi.

Namun setiap kehidupan yang dijalaninya ternyata tidak seindah bayangan. Selalu ada kekurangan, selalu ada luka. Tidak ada versi hidup yang benar-benar bebas dari kesedihan.

Awalnya saya kira The Midnight Library hanyalah novel fantasi ringan. Namun ternyata, ia lebih dalam dari itu. Ia tidak menyembuhkan luka-luka saya, tetapi duduk di sebelah saya dan berbisik pelan:

“Kamu boleh sedih. Kamu boleh menyesal. Tapi hidup belum selesai.”

Melalui kisah Nora, Matt Haig mengajak pembaca merenungkan makna pilihan dan penyesalan. Setiap kehidupan alternatif yang dijalani Nora menjadi metafora dari keinginan manusia untuk “memperbaiki” masa lalu sesuatu yang sesungguhnya mustahil dilakukan, tetapi selalu kita bayangkan.

Haig menulis dengan gaya yang sederhana dan mengalir, nyaris seperti percakapan sehari-hari. Tidak menggurui, tidak juga memaksa pembacanya untuk bahagia. Ia hanya memberi ruang untuk jeda: ruang untuk menatap hidup apa adanya.

Mungkin itu sebabnya The Midnight Library mendapat sambutan luas di berbagai negara dan sempat menempati daftar bestseller The New York Times. Novel ini berbicara kepada siapa pun yang pernah merasa gagal, kesepian, atau kehilangan arah, tanpa harus melalui kalimat motivatif yang berlebihan.

The Midnight Library tidak menawarkan pelukan hangat atau solusi instan. Tetapi ia cukup. Ia hadir. Dan kadang, kehadiran saja sudah membuat kita bertahan satu hari lagi.

Saya belum sepenuhnya baik-baik saja. Namun seperti Nora di akhir kisah, saya mulai percaya bahwa hidup tidak harus sempurna agar layak dijalani. Kita hanya perlu satu alasan untuk bertahan. Dan jika belum menemukannya hari ini, mungkin besok.

Ada satu kutipan yang masih menancap di kepala:

“Ada kemungkinan bahwa tepat sebelum kau mati, kau akan mendapat kesempatan untuk hidup lagi. Kau bisa mendapatkan hal-hal yang tidak kaumiliki sebelumnya. Kau bisa memilih kehidupan yang kauinginkan.”

Kutipan itu bukan motivasi. Lebih menyerupai doa untuk mereka yang pernah ingin mengakhiri semuanya, tapi diam-diam masih percaya akan ada pintu kecil yang terbuka.

The Midnight Library bukan buku tentang kebahagiaan. Ia adalah buku tentang kemungkinan. Tentang kehilangan yang dibiarkan tumbuh akar. Tentang harapan yang tidak berteriak, tetapi menyala kecil, seperti lampu tidur di tengah gelap. Dan mungkin, itu cukup. Untuk membuat kita bertahan setidaknya, satu hari lagi. (Asa)

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *