“5,4,3,2,1”

Written by Rachmad Samudra

Tanpa kau tusukkan belati panas pada dadakupun. Aku sudah merasa jantungku ditembus dengan besi tipis yang begitu menyengat. Hingga rasa sakit yang begitu luar biasapun membuatku pada akhirnya mati rasa. Hening, termangu, kosong. Tenggorokanku terbakar, menahan air mata yang tanpa bisa kukendalikan akhirnya mengucur membuat jalur lurus di pipi.

Gema, istriku, saat ini ia berbaring dengan wajah yang begitu sengsara, mengatakan segalanya sembari berharap agar rasa sakit yang ia rasakan bisa setidaknya berkurang. Aku yang baru saja pulang langsung bergegas menuju pintu masuk kamar, segera mengarah ke samping tempat tidur Gema. Begitu cantik diakulihat, mengenakan daster bunga berwarna ungu putih yang dulu aku berikan sepulang dari tugas keamanan kasus bom di pulau dewata. Aku bahkan bisa membayangkan seberapa cantiknya jika ia tidak akan lagi menahan semuanya ini sendiri.

Berulang kali kupastikan, agar aku melihat sesuatu yang berbeda, namun tetap saja hal sama yang terpaksa kutelan begitu pahit. Bergumam sembari terus kutanyakan pada zat yang sering kusebut Tuhan, “mengapa?”, Iapun tak lantas menjawab. Persetan! Kaki yang tadi menopang tegaknya berdiri, seakan menyerah, turut menekuk membuatku tersungkur. Kalimat “kenapa bukan aku saja?” seolah terputar berulangkali seusai aku sadar jika hal ini benar-benar nyata.

Gema, ia sudah menahan sakit ini selama bertahun-tahun. Penyakit aneh yang entah dari mana asalnya membuat ia merasa terbakar di seluruh bagian otot tubuhnya, menyebabkan sendinya kaku tanpa sebab, serta ingatannya yang semakin hari kian memburuk. Hanya pekikan diakhiri rintihan yang menghiasi setiap malam kami selama 4 tahun terakhir, bahkan akan sangat mengkhawatirkan jika satu malam saja ia tidak meminta tolong ataupun sekedar terisak menangis. “Tolong, biarkan saja aku mati. Aku sudah tidak kuat lagi” Ucap Gema di sebuah malam, memohon pada siapa saja yang mendengarnya.

Cintaku begitu besar untuk melihatnya terus merasakan sakit. Segala cara sudah kulakukan untuk membantu mengurangi penderitaan Gema, namun dokterpun mengatakan jika ini merupakan kasus yang jarang terjadi dan dipastikan tidak akan ada obat yang bisa membuat Gema kembali normal. Lantas apa yang bisa kulakukan agar tidak membuatnya terus menderita?

Kembali kukuatkan kaki ini, sembari secepat kilat senyum kecil kulukis di wajah. Air mata yang tercucur deraspun kupaksa kering dengan cara apapun.“Ayah? kenapa?” ucapnya dengan nada yang terdengar lemas sedih dan secara tiba-tiba, seolah gadis berusia enam setengah tahun ini menyerap energi yang menyeruak. Akupun tak lagi kuat menahan, kutarik tangan kecilnya sembari pelan kuarahkan tubuh kecilnya memelukku. Kubelai rambutnya, kupeluk seakan seluruh anggota tubuhku meminta maaf pada anak perempuan yang masih mengenakan piama biru langit kesukaannya ini, karena belum berhasil menjadi ayah yang baik.

“Nara, Ibuk nggak akan sakit lagi” ucapku berbisik pelan kepada Nara seakan aku memberikan kabar menyenangkan. “Ayah? Bukannya ibuk tidak akan sembuh dengan obat apapun?” Nara sedikit menarik diri dari pelukanku. “Nara, semua sakit itu pasti ada obatnya.”. Kembali kupeluk erat Nara, kugendongnya membelakangi Gema. Sembari kuhitung mundur di dalam hati. Aku mengarahkannya tepat ke kernyitan dahinya, Gemapun membuka matanya sembari tersenyum tipis.

5…..

4…..

3…..

2…..

“Terima kasih mas” Ucap Gema tidak terdengar.

1…..

BAMM!

Saat itu hanya rasa sesal yang mendominasi, kupikirkan satu juta cara agar apa yang baru saja kulakukan tidak benar-benar kulakukan. Sembari kutaruh revolver berwarna hitam yang baru saja kuambil dari brankas dan sudah berkurang satu peluru. 

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *