Dari Hobi Langka Jadi Juara Asia, Begini Perjalanan Restu Erdanald

Restu Erdanald dengan dua mendali emas di Pekan Olahraga Jawa Timur IX (foto: Ist/Berpola)

Kabupaten Malang, Berpola – Bagi sebagian orang, olahraga adalah sarana untuk mencari kemenangan. Namun bagi Restu Erdanald, siswa SMAN 1 Gondanglegi, olahraga justru menjadi ruang belajar tentang ketekunan, disiplin, dan keberanian untuk berbeda.

Restu telah lama jatuh cinta pada olahraga woodball perpaduan antara golf dan croquet yang masih jarang dikenal di Indonesia. Ia bukan sekadar bermain, melainkan menekuni proses latihan yang panjang, melelahkan, tapi penuh makna.

Sosok Restu Erdanald dengan dua medali perak dalam 13th Asian Cup Woodball Championship (Foto: Ist/Berpola)

Berawal dari Rasa Penasaran, Tumbuh Jadi Keteguhan

Perjalanan Restu bermula sejak ia berusia sepuluh tahun. Saat itu, ia hanya ikut menonton temannya berlatih woodball. Seorang pelatih melihat potensi dalam dirinya dan mengajaknya mencoba. Dari ajakan sederhana itulah, Restu mulai menapaki jalannya di dunia woodball.

“Awalnya cuma penasaran, tapi lama-lama jadi suka. Rasanya ingin terus belajar supaya lebih baik,” tuturnya, Jumat (17/10/2025)

Restu tumbuh di lingkungan keluarga yang mencintai olahraga. Orang tuanya selalu memberi dukungan penuh, menemaninya berlatih, memberi semangat ketika ia lelah, dan mengingatkan agar tetap rendah hati. Dukungan inilah yang membuat Restu tidak mudah menyerah, bahkan saat harus berlatih di bawah terik matahari atau mengulang teknik pukulan berkali-kali.

Belajar Lebih dari Sekadar Olahraga

Bagi Restu, woodball bukan sekadar permainan memukul bola kayu. Ia belajar bagaimana mengendalikan emosi, menjaga fokus, dan menghargai proses. “Saya belajar sabar. Kalau gagal, bukan berarti tidak bisa, tapi tandanya harus latihan lebih banyak,” ujarnya dengan tenang.

Baca juga : Voli SMAN 1 Turen Melaju ke Puncak, Pulang Bawa Juara

Meski woodball belum menjadi kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya, pihak SMAN 1 Gondanglegi memberi ruang luas bagi Restu untuk berkembang. Para guru memahami bahwa belajar tidak selalu tentang duduk di kelas, tetapi juga tentang menumbuhkan potensi diri. Ketika Restu tertinggal pelajaran karena latihan, para guru dengan sabar memberikan bimbingan tambahan.

“Pihak sekolah sangat mendukung, jadi saya bisa latihan dengan tenang tanpa takut ketinggalan pelajaran,” kata Restu penuh syukur.

Penerimaan Medali di Pekan Olahraga Jawa Timur IX. (foto: Ist/Berpola)

Konsistensi yang Melahirkan Prestasi

Berbulan-bulan latihan dan disiplin akhirnya membawa hasil. Pada Agustus 2025 lalu, Restu berhasil menorehkan dua medali perak dalam 13th Asian Cup Woodball Championship di Bogor, setelah sebelumnya juga meraih medali emas di Pekan Olahraga Jawa Timur IX. Namun bagi Restu, medali hanyalah bonus dari kerja keras. Yang terpenting, ia telah menemukan cara untuk mengenal dirinya sendiri dan belajar arti ketekunan.

Kini, di usia 17 tahun, Restu terus berlatih dengan tekun. Ia ingin melangkah lebih jauh, bukan hanya demi prestasi, tetapi untuk membuktikan bahwa mimpi bisa tumbuh dari hal-hal yang jarang dijamah orang lain.

Perjalanan Restu mengajarkan kita bahwa pendidikan sejati tak selalu tertulis di buku teks, melainkan juga hidup di lapangan, di setiap tetes keringat, dan di hati yang tidak berhenti berusaha.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *