Ketika Dapur Sekolah Menjadi Tempat Anak-Anak Menempa Masa Depan

Yulya bersama peserta didik program double track (foto: Vranola/Berpola)

Kabupaten Malang, Berpola — Tidak semua masa depan dibangun dari bangku kuliah. Di SMAN 1 Gondanglegi, ada cara lain untuk menyiapkan anak-anak muda menghadapi dunia kerja. Caranya sederhana, lewat loyang, tepung, dan aroma kopi susu kekinian yang menenangkan.

Dari Guru Matematika ke Dapur Sekolah

Yulya Anggaritha tak pernah menyangka kecintaannya pada memasak akan membawanya menjadi pelatih tata boga di sekolah. “Sebetulnya saya guru matematika,” ujarnya sambil tertawa kecil. “Tapi karena saya suka masak, akhirnya saya ditunjuk jadi pelatih tata boga.”

Ia mengawali semuanya dari dapur kecil di sekolah. Awalnya hanya terbiasa dengan masakan asin, namun ketika program double track berjalan, ia mulai belajar membuat roti dan kue.

“Arahan dari ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), kami diminta menciptakan produk unggulan dari potensi sekitar. Di Gondanglegi, tape jadi produk utama,” jelasnya, Jumat (17/10/2025)

Dari situ lahirlah Taproll Semanggi, roti tape yang kini menjadi ikon kebanggaan sekolah. Prosesnya tidak instan. Yulya melakukan enam kali percobaan hingga menemukan rasa yang pas.

“Awalnya coba-coba saja,” katanya, “tapi siapa sangka, ketika dilombakan hasilnya malah juara dua nasional di Universitas Kelautan dan Perikanan Sidoarjo.”

Proses pesera didik program double track saat membuat roti (foto: Vranola/Berpola)

Belajar dari Adonan, Disiplin, dan Kebersihan

Sejak saat itu, Yulya terus mengembangkan berbagai resep bersama para siswanya. Kini, sudah ada lebih dari 55 menu makanan dan 25 resep minuman yang mereka ciptakan.

“Anak-anak banyak belajar dari TikTok, terus mereka kembangkan sendiri,” ujarnya bangga.

Program double track ini diperuntukkan bagi siswa kelas 10 dan 11 yang mungkin tidak berencana melanjutkan kuliah, namun ingin memiliki keterampilan siap pakai. Karena peminatnya tinggi, sampai 50 pendaftar,  Yulya harus melakukan seleksi ketat.

 “Bukan yang paling mahir yang kami pilih, tapi yang paling memperhatikan kebersihan. Nomor satu itu kebersihan, baru rasa,” tegasnya.

Anak-anak yang terpilih kemudian dibagi menjadi kelompok usaha. Dari sanalah tumbuh kolaborasi, semangat wirausaha, dan rasa tanggung jawab. Ketika ada pesanan besar, kelompok terbaik disatukan untuk produksi. “Taproll kami pernah dipesan sekolah lain, bahkan sampai luar kota,” ujarnya.

Sekali waktu, pesanan Taproll bisa mencapai lebih dari seratus bungkus. “Walau tidak besar, setiap anak tetap kami beri upah. Ini latihan kerja,” katanya. Dari modal dua juta rupiah, kini dapur itu memiliki peralatan lengkap hasil kerja keras bersama.

Anak-anak itu kini lebih mandiri. Mereka tak hanya memasak, tapi juga belajar menjadi purchasing untuk bahan-bahan kebutuhan roti dan kopi.

“Anak-anak sudah mandiri, bahkan ketika ada pesanan mereka bisa membayangkan harus buat berapa kilo untuk jumlah pesanan yang diinginkan,” pungkasnya

Baca juga : Senin Budaya di SMAN 1 Bululawang, Wujud Pembelajaran Berbasis Karakter

Dari Barista ke Mimpi yang Diseduh Pelan-Pelan

Yulya tak ingin tata boga hanya untuk anak perempuan. Ia lalu menggandeng alumni yang bekerja sebagai barista.

“Kita manfaatkan alumni untuk mengajarkan cara membuat kopi susu kekinian, bahkan sekarang ada 25 menu minuman,” ujarnya.

Kafe kecil di sekolah kini hidup setiap hari. Anak-anak bergantian piket, menyiapkan minuman, melayani pelanggan, hingga belajar mengatur keuangan sederhana.

Bagi Hayyu, siswa kelas barista, kelas itu bukan sekadar kegiatan tambahan. “Sekarang kalau ada tamu di rumah, Ibu selalu minta saya buatkan kopi,” katanya. Ia bahkan sudah bisa membuat latte art. “Saya ingin menjadi barista nantinya.”

Sementara Agus Prasetyo, peserta Tata Boga, punya alasan lebih pribadi. “Saya broken home, jadi sering masak sendiri di rumah. Setelah ikut double track, saya jadi bisa bikin makanan yang beraneka ragam,” katanya lirih. Ia berharap Ketika lulus sekolah bisa mandiri, tanpa membebani siapa pun.

Agus saat menguleni adonan
(foto: Vranola/Berpola)

Sekolah yang Mengajarkan Cara Hidup

Di balik uap roti yang baru keluar dari oven, di antara tangan-tangan muda yang memegang spatula dengan hati-hati, ada sesuatu yang tumbuh pelan, kemandirian.

SMAN 1 Gondanglegi lewat program double track-nya membuktikan bahwa pendidikan tidak selalu tentang angka di rapor, tapi tentang bagaimana sekolah menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal dirinya, belajar bekerja, dan memaknai arti hidup dari sesuatu yang mereka cintai.

Di dapur itu, masa depan mereka dipanggang setiap hari hangat, wangi, dan penuh kemungkinan.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *