
Malang, Berpola — Jumat, 31 Oktober, Gedung Krida Budaya Jawa Timur kembali menjadi ruang hidup bagi tradisi leluhur melalui pementasan Topeng Panji. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan para penggiat seni Topeng Panji Malang menghadirkan penampilan bertajuk “Setyakasih: Kisah Cinta, Luka, & Kesetiaan.”
Pementasan ini merupakan bagian dari agenda rutin bulanan yang selalu menghadirkan judul dan konsep berbeda pada setiap gelarannya. Program ini menjadi salah satu bentuk nyata pelestarian budaya sekaligus ruang kreatif bagi seniman lokal untuk terus berkarya. Antusiasme penonton yang hadir menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Baca juga :Senin Budaya di SMAN 1 Bululawang, Wujud Pembelajaran Berbasis Karakter
Transformasi Kisah Panji dengan Sentuhan Zaman

Sebagai sutradara, penulis cerita, sekaligus pemeran, Bowo Supriatin menyampaikan bahwa tim menjalani latihan selama satu bulan setelah pementasan sebelumnya.
“Kami selalu mencoba memberikan sentuhan segar tanpa menghilangkan akar tradisi. Kali ini ada karakter baru yang kami kenalkan, yaitu Wadal Wedi,” ujar Bowo.
Cerita Setyakasih menyuguhkan konflik batin yang kuat: keinginan Wadal Wedi untuk memiliki Panji, padahal Panji telah beristri. Wadal Wedi, sosok raksasa yang sarat ambisi dan nafsu, digambarkan berupaya menaklukkan Panji bukan hanya dengan kekuatan, tetapi juga dengan tipu daya. Dalam usahanya, ia mengubah wujud menjadi Dewi Sekar Taji (istri Panji Asmoro Bangun) untuk menguji kesetiaan dan keteguhan sang kesatria.
“Amanat utama dari cerita ini adalah cinta tak akan pudar. Mungkin cinta bisa memudar jika dilihat hanya dengan mata, tetapi tidak akan pudar jika berasal dari ketulusan hati,” tutur Bowo tentang pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.
Kolaborasi 54 Penampil dari Tiga Sanggar

Pertunjukan kali ini melibatkan 54 penampil dari tiga sanggar berbeda, yaitu Sanggar Setyo Utomo (Tumpang), Patma Puspita dari Dewan Kesenian Malang, dan Mantraloka (Jabung). Kolaborasi ini membuat pementasan semakin hidup, dengan perpaduan karakter, gerak tari, musik tradisional, dagelan, dan nuansa dramatik yang membangun pengalaman estetika bagi penonton.
Gerak yang halus, ekspresi topeng yang kuat, serta alunan gamelan menciptakan suasana yang menggugah. Tidak hanya sebagai pertunjukan seni, pementasan ini juga menjadi ruang belajar budaya, terutama bagi generasi muda. Para penampil tampak menjiwai setiap adegan, memperlihatkan dedikasi mereka terhadap seni tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Tak hanya menyajikan hiburan, pementasan ini juga menegaskan pentingnya regenerasi dalam menjaga keberlanjutan kesenian lokal.
Baca juga: Eco Print Jadi Media Belajar Akhlak di KB-TK Islam Al Azhar 56 Malang
Menjaga Warisan, Menyulut Apresiasi

Di akhir pementasan, tersirat harapan besar agar penonton terus memberikan dukungan dan antusiasme.
“Ini adalah kekayaan Malang, warisan leluhur kita sendiri. Kalau generasi muda tidak bisa mengapresiasi, lalu bagaimana nasib budaya ini ke depan?” ungkap Bowo, penggiat seni sekaligus sutradara pementasan.
Ia menegaskan bahwa keberlangsungan seni tradisi bukan hanya tanggung jawab para pelaku seni, tetapi juga masyarakat luas sebagai pewaris nilai budaya.
Dengan adanya program rutin seperti ini, seni Topeng Panji diharapkan tetap hidup, berkembang, dan dicintai oleh masyarakat. Setiap pementasan menjadi pengingat bahwa tradisi bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan identitas yang mengikat generasi dengan akar sejarahnya.
Panggung seni menjadi jembatan antara zaman, memberi ruang bagi tradisi untuk beradaptasi tanpa kehilangan ruh aslinya. Karena budaya tidak hanya diwariskan, melainkan juga dirayakan dan dipelihara melalui rasa bangga serta partisipasi aktif masyarakat.