Belajar Tanpa Bosan, TA Zam Zam Menemukan Cara untuk Belajar Bahagia

Suasana TA Zam-Zam saat pembelajaran melalui video (foto: Vranola/Berpola)

Malang, Berpola – Anak usia dini punya satu kesamaan universal: mudah bosan. Lima menit pertama bisa tertawa, lima menit berikutnya sudah ingin bermain pasir atau minta pulang. Tapi di tengah ritme belajar yang cepat berubah itu, TA Zam Zam di Jalan Kalisari, Wonokoyo, Kedungkandang, Kota Malang, menemukan cara sederhana namun kreatif untuk menjaga semangat belajar anak-anaknya melalui video edukatif.

Metode ini bukan sekadar pemutaran video biasa. Setiap tayangan dirancang sebagai jembatan kecil antara dunia bermain dan dunia belajar. Hari ini misalnya, anak-anak duduk rapi di depan layar, menonton video tentang pentingnya menjaga kesehatan dan memilih makanan yang baik. Ada animasi buah-buahan tersenyum, ada lagu tentang cuci tangan, ada pesan tentang makan sayur. Semua disusun agar anak-anak belajar tanpa merasa sedang belajar.

Namun, seperti disampaikan Kepala Sekolah TA Zam Zam, Faridah Nur Hayati, kegiatan semacam ini bukan hal baru. “Kami memang ingin anak-anak belajar dengan cara yang sesuai usia mereka. Latihan sensorik dan motorik menjadi dasar, tapi kami selipkan juga nilai-nilai kesehatan dan kemandirian. Fokus utama kami bukan hanya kognitif, tapi keseimbangan tumbuh kembang,” ujarnya, Selasa, (28/10/2025)

Pendekatan yang dilakukan TA Zam Zam terasa menyentuh sisi kemanusiaan Pendidikan, belajar bukan hanya soal menambah pengetahuan, tapi menumbuhkan rasa ingin tahu. Anak-anak diajak mengenali tubuh mereka sendiri, memahami pentingnya gerak, dan belajar fokus tanpa paksaan. Di sela kegiatan sensorik seperti bermain air, menyusun balok, atau mencocokkan warna mereka belajar bahwa setiap hal kecil bisa jadi bagian dari proses besar bernama tumbuh kembang.

Baca juga : Eco Print Jadi Media Belajar Akhlak di KB-TK Islam Al Azhar 56 Malang

Tak hanya berhenti di situ, TA Zam Zam juga menanamkan nilai-nilai spiritual sejak dini. Anak-anak diajarkan praktik wudu, doa-doa harian, dan latihan salat dalam suasana yang hangat dan menyenangkan. Bagi Faridah, pendidikan agama bukan sekadar rutinitas, tapi ruang bagi anak mengenali kedamaian batin. “Kami ingin anak-anak belajar dengan bahagia dan merdeka. Kalau mereka senang, ilmu akan datang dengan sendirinya,” tuturnya lembut.

Respons orang tua pun positif. Mereka melihat perubahan kecil yang bermakna, anak-anak yang lebih disiplin mencuci tangan, mulai mengenali makanan sehat, atau dengan antusias bercerita tentang video yang mereka tonton di sekolah. Masyarakat sekitar juga mendukung kegiatan ini, melihat bagaimana sekolah mampu menghadirkan suasana belajar yang hidup dan penuh cinta.

Di tengah gempuran gadget dan konten digital yang tak selalu ramah anak, langkah TA Zam Zam menjadi refleksi kecil tapi penting, bahwa teknologi  bila diarahkan dengan niat baik dan cara bijak, bisa menjadi media pembelajaran yang hangat, bukan ancaman.

Belajar memang tidak harus selalu di papan tulis. Kadang, pelajaran paling berharga justru muncul dari lagu sederhana di layar, dari tawa anak-anak yang merasa bebas, dan dari guru yang tahu bahwa tugas pendidik bukan mencetak nilai, melainkan menumbuhkan manusia.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *