Malang, Berpola – Di ruang studio Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), warna-warna cat, ide, dan aksen bahasa bercampur jadi satu. Kamis, 30 Oktober 2025 lalu, ruangan itu tak hanya menjadi tempat belajar, tapi juga ruang perjumpaan lintas budaya. Mahasiswa Program Studi Seni Rupa Murni FIB UB mengikuti Masterclass Internasional 3in1 bertajuk “From Culture to Creation: Design Thinking as a Bridge of Identity”.
Di depan mereka, Sumardianshah Bin Silah, dosen dari Faculty of Education, UiTM Malaysia, berbicara tentang sesuatu yang akrab tapi jarang benar-benar disadari: bagaimana budaya bisa menjadi sumber kreativitas. Dengan tenang ia menjelaskan bahwa Design Thinking bukan hanya metode untuk mencipta karya, tetapi cara untuk memahami siapa diri kita dan dari mana kita berasal.
“Desain bukan sekadar tentang estetika. Ia tentang bagaimana kita menafsirkan identitas budaya dan mengubahnya menjadi sesuatu yang baru,” ujarnya.
Bagi Dyanningrum Pradhikta, S.Sn., M.Ds., Ketua Program 3in1, pertemuan ini lebih dari sekadar kelas internasional.
“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa kreativitas punya akar. Bahwa setiap ide yang kuat biasanya tumbuh dari tanah kebudayaan yang subur,” katanya.
Dyanningrum percaya, seni rupa bukan hanya soal kemampuan tangan, tetapi juga soal kepekaan berpikir. Karena itu, Design Thinking diajarkan bukan untuk meniru gaya, melainkan untuk menumbuhkan cara pandang agar mahasiswa bisa melihat tradisi sebagai sumber inovasi, bukan beban masa lalu.
Baca juga : Topeng Panji Setyakasih, Ketika Tradisi Bicara Tentang Cinta dan Ketulusan
Prof. Dr. Zuliati Rohmah, M.Pd., Ketua Program Studi Seni FIB UB, menyebut kegiatan ini sebagai langkah penting dalam membangun Academic Creative Hub di kampus.
“Kami ingin mahasiswa punya fondasi berpikir kreatif yang tidak tercerabut dari identitas budayanya. Ini bukan sekadar transfer ilmu, tapi investasi jangka panjang untuk masa depan kreativitas Indonesia,” ujarnya dengan mantap.

Dalam sesi diskusi, tema Batik diangkat sebagai contoh konkret. Mahasiswa diajak melihat Batik bukan hanya sebagai motif kain, tetapi sebagai living heritage—warisan hidup yang terus beradaptasi dengan zaman. Batik bisa menjadi karya digital, desain produk, bahkan inspirasi visual bagi generasi muda yang ingin menafsirkan ulang nilai-nilai tradisi.
Dr. Dra. Lilik Wahyuni, M.Pd., Ketua Departemen Seni dan Antropologi FIB UB, melihat kolaborasi ini dari sisi yang lebih dalam.
“Pendekatan Design Thinking yang berjalan berdampingan dengan kajian antropologi visual akan melahirkan seniman sekaligus peneliti budaya. Karya mereka tidak hanya indah, tapi juga punya makna sosial dan konteks kemanusiaan,” tuturnya.
Di akhir sesi, suasana kelas berubah hangat. Mahasiswa saling bertukar pandangan, beberapa menggambar sketsa, sebagian lain menulis ide baru di buku catatan. Di layar proyektor, muncul kata-kata kunci yang sederhana tapi kuat: Culture. Reflection. Creation.
Baca juga : Kisah Bagoes Sasmita, Guru Geografi yang Menjadi Teman dan Motivator bagi Muridnya
Masterclass ini hanyalah satu dari banyak langkah Prodi Seni Rupa FIB UB untuk menyiapkan mahasiswa menghadapi masa depan. Ke depan, kolaborasi dengan UiTM Malaysia akan dikembangkan dalam bentuk penelitian bersama, proyek penciptaan lintas negara, dan program pertukaran akademik.
“Kami ingin mahasiswa belajar menjadi manusia kreatif yang berpikir, bukan hanya mencipta,” ujar Dyanningrum menutup sesi.
Di dunia yang serba cepat, kelas seperti ini menjadi ruang jeda tempat di mana mahasiswa belajar kembali bahwa kreativitas sejati tidak lahir dari layar komputer, tapi dari kesadaran tentang siapa mereka, apa akar budaya mereka, dan untuk siapa karya mereka dibuat.