Sari, Pipo, dan Jejak Masa Kecil: Cara Ucol Menemukan Dirinya Lewat Gambar

Sari dan Pipo, karya pameran untuk tugas akhir Ucol (Foto: Ist/Berpola)

Malang, Berpola – Setiap garis yang ditarik di atas kanvas bukan sekadar bentuk. Ada potongan masa kecil, kenangan samar, bahkan percakapan batin yang diam-diam hidup di baliknya. Bagi Muhammad Afrizal Romadhoni, atau yang akrab disapa  Ucol, proses menemukan gaya visual bukanlah perjalanan singkat  melainkan perjalanan panjang untuk mengenali diri sendiri.

“Sebenarnya, sebelum gaya gambarku menjadi seperti sekarang, aku melewati banyak sekali fase,” ujarnya. Dari mencoba berbagai teknik, bereksperimen dengan bentuk visual, hingga akhirnya menemukan gaya yang benar-benar terasa “aku.”

Peralihan itu terjadi sekitar tahun 2023, masa yang ia sebut sebagai “titik balik.” Dari situ, muncul dua figur utama yang kini menjadi ciri khas karyanya, Sari dan Pipo, dua anak kecil yang selalu hadir dengan tatapan besar dan jujur. “Ada sesuatu yang dekat dengan masa laluku,” katanya pelan. “Lewat mereka, aku seperti kembali ke memori masa kecilku sendiri.”

Dari Roby Dwi Antono hingga Yoshitomo Nara: Belajar Menemukan Ruh

Sebelum menemukan gaya khasnya, Ucol banyak terinspirasi dari nama-nama besar seperti Roby Dwi Antono, Ryol, hingga Yoshitomo Nara. Tapi, seiring waktu, pengaruh itu tidak lagi sekadar panutan. Ia menyatu dengan pengalaman pribadi, berubah menjadi bahasa visual yang khas dan emosional.

“Gaya pribadi itu tidak muncul dari ruang kosong,” ujarnya. “Ia tumbuh dari percampuran antara pengalaman, referensi, dan waktu yang kita habiskan untuk jujur pada diri sendiri.”

Proses itu panjang bukan hanya soal teknik, tapi soal keberanian untuk mengakui apa yang paling dekat di hati. Bagi Ucol, keunikan dalam karya seni bukan sekadar hasil eksperimen visual, melainkan hasil pertemuan antara kejujuran dan pembelajaran.

Ucol saat berkarya (Foto: Ist/Berpola)

Momen yang Mengubah Segalanya

Segalanya mulai jelas ketika ia duduk di semester lima kuliah seni rupa. Kala itu, ia diminta menentukan topik untuk skripsi momen sederhana yang justru membawanya ke refleksi paling dalam. “Aku berpikir keras: tema apa yang benar-benar dekat denganku?”

Jawabannya datang dari masa lalu. Ia memilih tema tentang anak-anak, lalu mengerucut ke memori masa kecil. Dari sanalah muncul simbol-simbol visual yang kini akrab di karyanya: sosok anak kecil dengan mata besar, simbol pencarian, sekaligus pengingat.

“Masa kecil itu fondasi dari semua cerita hidup,” katanya. “Di sana kita pertama kali belajar tentang rasa, kehilangan, dan kebahagiaan paling murni.”

Proses yang Dimulai dari Ingatan

Setiap karya yang ia ciptakan selalu berangkat dari pengalaman personal. Ia memulainya bukan dari sketsa, tapi dari ingatan: aroma rumah, permainan sederhana, suara tawa. Semua itu kemudian menjelma menjadi sketsa kasar sebelum naik ke kanvas.

“Proses itu seperti menyusun potongan memori,” ujarnya. “Ada yang jelas, ada yang samar. Tapi justru di bagian yang samar itu, karya bisa hidup dan berbicara sendiri.”

Baca juga : Topeng Panji Setyakasih, Ketika Tradisi Bicara Tentang Cinta dan Ketulusan

Dikenal Lewat Karya, Bukan Nama

Menariknya, Ucol tidak keberatan jika orang lebih mengenal karyanya dibanding dirinya. “Aku justru senang,” katanya sambil tersenyum. “Kalau orang bisa mengenali karya tanpa tahu siapa pembuatnya, berarti karya itu sudah punya kekuatan sendiri.”

Ucol saat berkarya di studionya (foto: Ist/Berpola)

Bagi Ucol, seniman tidak harus berada di depan panggung. Kadang karya yang jujur justru lebih fasih berbicara tanpa nama penciptanya. “Aku ingin karya-karyaku punya ruang sendiri untuk berinteraksi dengan penonton,” katanya.

Dalam perjalanan berkarya, Ucol menyadari pentingnya menyeimbangkan dua hal: konsistensi dan eksplorasi. Baginya, konsistensi membantu orang mengenali identitas visual, sedangkan eksplorasi membuatnya terus tumbuh.

“Yang penting adalah keseimbangan,” ujarnya. “Tetap berpijak pada akar, tapi memberi ruang untuk tumbuh. Karena seni itu bukan tentang tujuan, tapi perjalanan.”

Eksplorasi yang ia lakukan sering dimulai dari tema yang sama, memori masa kecil tapi diolah dengan warna, media, atau komposisi yang baru. Seperti berdialog dengan diri sendiri, ia menimbang sejauh mana bisa berubah tanpa melupakan dari mana berasal.

Baginya, jika suatu hari gaya visualnya berubah total, itu bukan tanda kehilangan arah, melainkan bukti bahwa ia terus bertumbuh. “Perubahan adalah bagian dari hidup,” katanya. “Yang penting bukan gayanya, tapi kejujuran dalam berkarya. Itu yang akan selalu aku pertahankan.”

Lewat figur Sari dan Pipo, Kak Ucol mengajak kita mengingat kembali masa kecil yang sering terlewat, masa ketika dunia terasa luas dan segala hal masih bisa dipercaya. Dalam mata besar mereka, mungkin kita melihat diri kita sendiri: polos, ingin tahu, dan masih berani bermimpi.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *