Judul Buku : Semua Ikan di Langit
Terbitan Pertama: 2017
Pengarang: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Jumlah Halaman : 288 Halaman

Ada buku-buku yang membuat kita paham, dan ada pula yang membuat kita diam. Semua Ikan di Langit termasuk yang kedua. Sejak halaman pertama, saya merasa seperti duduk di kursi bus tua yang bergerak perlahan menembus kabut, tanpa tahu akan turun di mana. Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie tidak menulis untuk menjelaskan, ia menulis untuk mengajak kita berziarah ke dalam makna, ke dalam diri, ke dalam cinta yang tak punya nama.
Membacanya tak bisa terburu-buru. Saya beberapa kali berhenti hanya untuk memikirkan satu kalimat. Ada rasa haru yang ganjil ketika benda-benda mati mulai berbicara, ketika seekor ikan menjadi pemandu spiritual, ketika bus Damri yang berderit-derit justru menjadi simbol penghambaan. Novel ini seperti doa yang dibisikkan lewat mesin dan debu, lewat perjalanan yang terasa absurd tapi menenangkan.
Kisah berawal dari sebuah bus Damri tua di trayek Dipatiukur–Leuwipanjang. Bus itu setiap hari menua di jalan, mengantar manusia dari satu titik ke titik lain—hingga suatu hari, sesuatu yang mustahil terjadi: bus itu berbicara, dan menyebut dirinya “Saya.”
Baca juga : Ketika Pangeran Kecil Mengajari Kita Menjadi Manusia
Sejak saat itu, hidupnya berubah. Ia diajak oleh seekor ikan julung-julung untuk menemani sosok misterius bernama “Beliau” entah manusia, entah sesuatu yang lebih dari manusia. Perjalanan mereka menembus batas ruang dan waktu: bertemu kecoak Rusia bernama Nadezhda, kucing padang pasir bernama Bastet, dan pohon Chinar yang menuturkan kisah jiwa-jiwa yang menempel pada benda.
Di tengah perjalanan, “Saya” terus dihantui satu pertanyaan: Bagaimana cara paling baik mencintai Beliau? Pertanyaan itu membawanya pada perjumpaan dengan makhluk bernama Jahannam, simbol kehancuran dan kesombongan, hingga akhirnya ia menyadari bahwa cinta mungkin bukan tentang menemukan jawaban, melainkan tentang kesediaan untuk terus berjalan.
Ziggy menulis dengan gaya yang melampaui batas antara realisme dan spiritualitas. Ia memuliakan benda-benda mati dan menanamkan jiwa pada yang tak hidup. Kalimatnya sering terasa seperti kutipan dari kitab yang belum pernah ada: “Kadang-kadang, Beliau membiarkan makhluk hidup yang berada di sekitar benda mati membagi sedikit jiwanya ke benda mati.”
Baca juga : Ronggeng Dukuh Paruk Merekam Luka yang Tumbuh dari Cinta dan Tradisi
Dari sana, saya merasa Ziggy sedang berbicara tentang kita, manusia yang menaruh sebagian jiwa pada hal-hal sederhana: buku kesayangan, motor tua, bahkan bus yang setiap hari kita naiki. Cinta, dalam dunia Ziggy, adalah energi yang memberi hidup, bahkan pada yang tampak tidak bernyawa.
Selain itu, tokoh anak-anak selalu hadir sebagai simbol kemurnian dan ilahi. Ketika “Si Membingungkan” mati dan digantikan oleh anak kecil yang menghancurkan karya “Beliau”, saya menangkap pesan bahwa bahkan Tuhan pun mungkin perlu dikritik oleh kepolosan. Bahwa keajaiban tak harus tunduk; ia bisa ditantang demi kelahiran yang baru.
Membaca Semua Ikan di Langit terasa seperti menumpang bus yang berjalan ke arah yang tidak diketahui, tapi entah mengapa kita tetap ingin ikut sampai akhir. Ia bukan novel yang mudah, tapi juga bukan yang bisa dilupakan. Ziggy menulis dengan bahasa yang lembut sekaligus mengguncang, mengajak pembacanya untuk percaya bahwa cinta bisa lahir dari mana saja, bahkan dari suara mesin yang renta.
Pada akhirnya, saya merasa buku ini tidak dimaksudkan untuk dipahami sepenuhnya. Ia hanya ingin dihayati, seperti doa yang terus berputar dalam hati. Karena seperti bus Damri yang tak pernah berhenti di halte terakhir, cinta pun barangkali tidak pernah sampai, ia hanya terus mencari rumahnya, di langit yang penuh ikan.