Ketika Jawaban Berbeda, Penalaran Matematis Calon Guru Diuji

Erry Hidayanto saat mengajar mahasiswa di Universitas Negeri Malang (UM). (Foto:Ist/Berpola)

Malang, Berpola- Dalam matematika, dua orang bisa saja menemukan jawaban berbeda ketika menyelesaikan persoalan yang sama. Namun, persoalannya bukan sekadar siapa yang memperoleh hasil benar, melainkan bagaimana jawaban itu diperoleh dan apakah proses berpikirnya dapat dipertanggungjawabkan secara matematis.

Pertanyaan tersebut menjadi perhatian Erry Hidayanto, dosen Universitas Negeri Malang (UM), bersama tim peneliti Dwi Sulistyorini, Subanji, dan Imam Rofiki melalui penelitian berjudul “Penalaran Kontroversial Calon Guru dalam Menyelesaikan Masalah Matematika.”

Penelitian ini berangkat dari persoalan yang kerap muncul dalam pembelajaran matematika: bagaimana seseorang menyikapi perbedaan jawaban, menguji suatu aturan, serta menentukan apakah sebuah argumen dapat diterima atau justru perlu dikritisi.

“Dalam menyelesaikan masalah matematika, yang penting bukan hanya menemukan jawaban akhir, tetapi juga bagaimana seseorang membangun penalaran dan memberikan alasan atas jawaban yang diperolehnya,” demikian penjelasan Erry Hidayanto

Melalui penelitian tersebut, tim mengkaji bagaimana calon guru matematika menghadapi perbedaan jawaban, membandingkan prosedur penyelesaian, menguji kebenaran suatu aturan, serta membangun argumen untuk menerima atau menolak pendapat matematis.

Berbagai persoalan digunakan untuk menggali proses berpikir tersebut. Mulai dari keliling dan luas bangun datar, sifat akar kuadrat, hingga penjumlahan tak hingga. Persoalan-persoalan itu tidak hanya menuntut calon guru memperoleh hasil, tetapi juga memahami konsep dan menjelaskan alasan di balik setiap langkah penyelesaian.

Salah satu hal yang menjadi perhatian ialah kemungkinan seseorang memperoleh jawaban akhir yang benar melalui proses penalaran yang kurang tepat. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketepatan hasil belum sepenuhnya mencerminkan pemahaman matematis seseorang.

Baca juga: HISKI Kom Malang Meriahkan Agenda Book Writing Camp

Bagi Erry Hidayanto dan tim, proses berpikir serta kualitas argumen menjadi bagian penting dalam memahami kemampuan calon guru menyelesaikan masalah matematika.

Penalaran semacam ini juga memiliki kaitan erat dengan tugas seorang guru. Di ruang kelas, guru tidak selalu berhadapan dengan satu cara penyelesaian. Siswa dapat menggunakan strategi berbeda, bahkan menghasilkan jawaban yang tidak sama.

Guru perlu mampu menilai setiap strategi, mengenali kesalahan konsep, serta menjelaskan mengapa suatu langkah dapat diterima atau perlu diperbaiki. Kemampuan tersebut membantu guru membimbing siswa agar tidak sekadar menghafal rumus dan prosedur.

Perbedaan pendapat dalam matematika pun tidak selalu harus segera diakhiri dengan menentukan siapa yang benar. Perbedaan dapat menjadi kesempatan untuk memeriksa kembali konsep, menguji argumen, dan membangun pemahaman yang lebih mendalam.

Melalui penelitian ini, penalaran kontroversial menjadi salah satu cara untuk melihat bahwa belajar matematika bukan hanya tentang memperoleh jawaban, tetapi juga tentang keberanian mempertanyakan, ketelitian memeriksa, dan kemampuan menjelaskan alasan secara logis.

Pada akhirnya, calon guru matematika tidak cukup hanya mengetahui bahwa sebuah jawaban benar. Mereka juga perlu memahami mengapa jawaban itu benar, bagaimana prosesnya dibangun, dan apakah setiap langkah dapat dipertanggungjawabkan secara matematis.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *