DIGISTORY Karya Guru Pacitan Menginspirasi, BBPMP Jawa Timur dan Dinas Pendidikan Fasilitasi Diseminasi

Khrisna Adhi Pradana, M.Pd., menjelaskan media pembelajaran DIGISTORY berbasis coding dan kecerdasan artifisial kepada para guru dalam kegiatan Pelatihan Pembelajaran Mendalam di Kabupaten Pacitan, Juli 2026.(foto:Ist/Berpola)

Pacitan, Berpola — Inovasi pembelajaran tidak selalu berhenti di ruang kelas tempat sebuah gagasan pertama kali diterapkan. Ketika dibagikan kepada sesama pendidik, inovasi dapat menjadi inspirasi untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan relevan bagi peserta didik.

Semangat itulah yang tercermin dalam diseminasi media pembelajaran DIGISTORY karya Khrisna Adhi Pradana, M.Pd., pendidik dari SD Negeri Arjowinangun, Kabupaten Pacitan. Media pembelajaran berbasis coding plugged, coding unplugged, dan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) tersebut terpilih untuk didiseminasikan dalam kegiatan Pelatihan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) pada Juli 2026.

Guru peserta Pelatihan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di Kabupaten Pacitan (foto: Ist/Berpola)

Kegiatan yang diselenggarakan melalui kolaborasi Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Jawa Timur dan Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan ini menjadi ruang berbagi praktik baik sekaligus upaya memperkuat kapasitas digital para pendidik. Melalui kegiatan tersebut, guru tidak hanya diperkenalkan pada inovasi pembelajaran, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mempelajari dan mengembangkan media yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Dalam kegiatan tersebut, Khrisna tidak sekadar memaparkan konsep DIGISTORY secara teoretis. Ia juga menyimulasikan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) menggunakan model Station Rotation melalui media yang dikembangkannya.

Para peserta diajak merasakan pengalaman belajar interaktif yang memadukan eksplorasi kecerdasan artifisial dengan pengembangan pola pikir komputasional. Simulasi ini memberikan gambaran mengenai alternatif penerapan teknologi dalam pembelajaran yang mendorong keterlibatan peserta didik.

Baca juga : Gobak Sodor di Kelas, Cara Khrisna Melawan Kebekuan Belajar

Bagi Khrisna, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan bukan semata-mata tentang memperkenalkan perangkat atau aplikasi kepada anak-anak. Lebih dari itu, teknologi dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan kreativitas mereka.

“Bagi saya, inovasi pembelajaran akan lebih bermakna ketika tidak berhenti di satu ruang kelas. Saya ingin menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya membantu anak memahami materi, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk mengeksplorasi, berpikir kritis, kreatif, dan mengenal teknologi melalui pengalaman belajar yang menyenangkan,” ungkap Khrisna.

Menurutnya, pengenalan coding dan kecerdasan artifisial perlu diarahkan pada pengembangan kemampuan berpikir peserta didik, bukan sekadar keterampilan menggunakan teknologi. Melalui pendekatan yang sesuai, anak-anak dapat memperoleh kesempatan untuk melatih cara berpikir logis dan sistematis sejak dini.

Guru peserta Pelatihan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) di Kabupaten Pacitan (foto: Ist/Berpola)

Setelah simulasi pembelajaran, kegiatan dilanjutkan dengan bimbingan teknis atau workshop. Pada sesi ini, Khrisna mendampingi para guru untuk merancang dan mengembangkan media pembelajaran interaktif serupa.

Proses pendampingan difokuskan pada kemampuan guru dalam menyesuaikan media dengan ketersediaan sarana dan prasarana serta karakteristik peserta didik di sekolah masing-masing. Dengan demikian, inovasi yang diperkenalkan tidak harus diterapkan secara seragam, tetapi dapat dikembangkan sesuai dengan konteks dan kebutuhan pembelajaran.

Khrisna berharap pengalaman berbagi tersebut dapat mendorong para pendidik untuk berani mencoba pendekatan baru di kelas. Ia menilai, setiap guru memiliki kesempatan untuk berinovasi tanpa harus selalu bergantung pada fasilitas yang lengkap atau teknologi yang canggih.

“Melalui diseminasi ini, saya berharap para guru tidak hanya membawa pulang media yang sudah jadi, tetapi juga mendapatkan inspirasi untuk terus berinovasi. Tidak harus menggunakan media yang sama persis, tetapi bagaimana setiap guru dapat mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kondisi sekolah, ketersediaan sarana prasarana, dan kebutuhan peserta didik masing-masing,” ujarnya.

Baca juga: Khrisna Adhi Pradana dan Upaya Menghidupkan Kembali Rasa Ingin Tahu Anak-anak

Harapan tersebut sejalan dengan tujuan diseminasi, yakni memperluas pemanfaatan praktik baik agar dapat memberikan manfaat bagi lebih banyak pendidik. Inovasi yang berawal dari satu sekolah berpeluang menjadi inspirasi bagi sekolah lain ketika dibagikan, dipelajari, dan disesuaikan dengan kebutuhan setempat.

“Inovasi tidak selalu harus dimulai dengan fasilitas yang lengkap atau teknologi yang canggih. Guru bisa memulainya dari kebutuhan peserta didik, kemudian mengembangkan solusi yang sesuai dengan kondisi sekolah. Harapannya, praktik baik yang dibagikan dapat menginspirasi lebih banyak pendidik untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi anak-anak,” tambah Khrisna.

Melalui diseminasi DIGISTORY, praktik baik yang dikembangkan di SD Negeri Arjowinangun berkesempatan menjangkau lebih banyak pendidik di Kabupaten Pacitan. Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan pentingnya kolaborasi dalam membangun ekosistem pendidikan yang terbuka terhadap inovasi dan perkembangan teknologi.

Sinergi BBPMP Jawa Timur, Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, dan para guru menjadi bagian dari upaya mendorong pemerataan kualitas pembelajaran. Dengan semangat berbagi dan beradaptasi, inovasi teknologi diharapkan dapat mendukung pembelajaran yang lebih mendalam, relevan, dan berpusat pada peserta didik di berbagai wilayah.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *