Khrisna Adhi Pradana dan Upaya Menghidupkan Kembali Rasa Ingin Tahu Anak-anak

Berpola, Pacitan- Ruang kelas itu tak lagi sepenuhnya sunyi. Bukan karena gaduh, melainkan karena rasa ingin tahu yang bergerak dari satu bangku ke bangku lain. Di layar gawai sederhana, materi IPAS muncul dalam bentuk tiga dimensi bisa diputar, diamati, dan dipelajari bersama. Anak-anak mencondongkan tubuh, mata mereka mengikuti objek yang bergerak pelan. Dari ruang kelas inilah, sebuah inovasi lahir.

Senyum penuh makna saat Khrisna menerima penghargaan (Foto: Ist/Berpola)

Inovasi itu mengantarkan Khrisna Adhi Pradana, guru SD Negeri Arjowinangun, Kabupaten Pacitan, meraih predikat Terbaik I Anugerah GTK Transformatif Kategori Guru SD Tingkat Provinsi Jawa Timur. Namun bagi Khisna, penghargaan tersebut bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah penanda dari perjalanan panjang yang berangkat dari kegelisahan paling mendasar seorang guru: bagaimana membuat pelajaran benar-benar bermakna bagi anak-anak.

Berangkat dari Kegelisahan di Ruang Kelas

Sebagai guru sekolah dasar, Khrisna kerap berhadapan dengan materi IPAS yang luas dan abstrak. Buku teks tak selalu cukup menjembatani imajinasi siswa dengan konsep yang harus mereka pahami. Dari kegelisahan itulah lahir JALAKSANA, media pembelajaran interaktif berbasis Augmented Reality (AR) yang mengintegrasikan permainan tradisional dengan teknologi digital.

Melalui JALAKSANA, materi tak lagi berhenti pada tulisan dan gambar dua dimensi. Ia menjelma objek 3D interaktif yang bisa dilihat langsung melalui ponsel atau tablet. Konsep yang sebelumnya sulit dibayangkan kini hadir lebih dekat, lebih nyata, dan lebih mudah dipahami oleh siswa.

Baca juga: Belajar dari Cinta, TK Lab UM Menemukan Cara Menumbuhkan Anak Hebat

Perubahan itu perlahan menggeser suasana kelas. Siswa tak lagi sekadar duduk mendengar dan menghafal, tetapi melihat, mengamati, lalu bertanya. Ruang kelas berubah menjadi arena eksplorasi kecil. Rasa ingin tahu tumbuh bukan karena kewajiban, melainkan karena pengalaman visual yang mereka alami sendiri.

Antusiasme belajar meningkat. Diskusi kecil muncul di antara bangku-bangku. Anak-anak mulai berani menyampaikan pendapat dan menautkan pelajaran dengan dunia di sekitar mereka. Dalam proses ini, Khisna menempatkan diri bukan sebagai pusat pengetahuan, melainkan penuntun yang berjalan bersama murid-muridnya.

Tantangan yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang

Di balik inovasi tersebut, tantangan tetap hadir. Keterbatasan kepemilikan gawai menjadi persoalan utama di kelas. Tak semua siswa memiliki perangkat yang memadai. Di sisi lain, kecanggihan teknologi harus terus dijaga agar tetap sejalan dengan tujuan kurikulum, bukan sekadar menjadi hiburan.

Situasi itu menuntut ketelitian dan waktu ekstra di tengah kesibukan mengajar. Namun baginya, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Setiap hambatan teknis ia olah menjadi peluang untuk merancang solusi yang lebih inklusif agar inovasi tetap menyentuh dan memanusiakan setiap siswa.

Dedikasi Khrisna terlihat saat ia mengajar, membimbing, dan memotivasi dengan sepenuh hati (Foto: Ist/Berpola)

Bagi Khrisna, inovasi tak selalu soal teknologi tercanggih atau fasilitas lengkap. Inovasi adalah keberanian untuk mencoba dan keteguhan untuk bertahan. Ia percaya perubahan besar selalu dimulai dari ruang kelas, dari langkah kecil yang konsisten dilakukan.

Baca juga : Menanam Kepemimpinan Sejak Dini Bersama KB-TK Islam Al Azhar 56 Malang

Kepada rekan-rekan sejawat, ia menitipkan pesan agar tak merasa kecil di tengah keterbatasan fasilitas atau letak geografis sekolah. Di era transformasi digital, guru tak cukup hanya menjadi penyampai materi. Guru adalah penyalak semangat yang berani gagal, lalu bangkit dengan pemahaman yang lebih matang.

Penghargaan GTK Transformatif itu, pada akhirnya, bukan sekadar tentang piala dan predikat. Ia adalah cerita tentang ruang kelas yang tak lagi sunyi, tentang seorang guru dari Pacitan yang memilih untuk tidak diam, dan tentang keyakinan bahwa perubahan pendidikan bisa dimulai dari tempat paling sederhana bangku sekolah dasar dan tangan guru yang setia menuntun harapan.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *