
Kabupaten Malang, Berpola — Pagi itu, Selasa (11/11/2025), halaman SMP Negeri 1 Turen tampak lebih ramai daripada biasanya. Para siswa kelas IX datang lebih awal. Hari itu menjadi momentum yang ditunggu-tunggu: pelaksanaan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif.
Bagi banyak siswa, UKBI bukan sekadar ujian. Ia menjadi pengalaman baru yang membuka gambaran tentang kemampuan berbahasa Indonesia mereka, sebuah kemampuan dasar yang sering terabaikan di tengah padatnya mata pelajaran lain.
Dimulai dari Pendaftaran hingga Simulasi
Persiapan UKBI telah dilakukan jauh hari. Pendaftaran dilaksanakan secara kolektif dengan syarat sederhana: foto terbaru, pos-el aktif, serta kartu pelajar atau kartu peserta UKBI yang disiapkan oleh sekolah.
Namun, bagian terpenting justru bukan pendaftaran, melainkan simulasi. Dua sesi simulasi digelar untuk memastikan siswa terbiasa dengan sistem ujian dan mencegah kendala teknis. Pada Jumat pagi, siswa kelas IX-A hingga IX-E yang mencoba masuk ke portal ujian.
Dua hari kemudian, kelas IX-F hingga IX-J menjalani simulasi dengan suasana serupa. Beberapa siswa sempat panik karena audio tidak berbunyi atau koneksi tersendat, tetapi guru pendamping sigap membantu.
“Simulasi penting agar siswa tidak panik dan kami bisa mengantisipasi masalah teknis,” ujar Kepala SMP Negeri 1 Turen, Lilik Niswatin Farida, S.Pd., M.Pd.
Baca juga : SMAN 2 Kota Malang Dorong Prestasi Siswa dengan UKBI
Tiga Sesi Ujian, Antusias Tidak Surut
Pada hari pelaksanaan, UKBI dibagi menjadi tiga sesi. Meski berlangsung dalam tiga gelombang, antusiasme siswa tetap tinggi. Banyak yang mengaku gugup sebelum memulai, namun rasa itu berubah menjadi semangat begitu ujian berlangsung.
“Awalnya tegang karena belum pernah ikut tes seperti ini. Tapi ternyata menyenangkan,” ungkap salah satu peserta.
Sejumlah siswa mengatakan UKBI membuat mereka lebih memahami kemampuan mana yang sudah kuat dan mana yang perlu ditingkatkan. Banyak pula yang bangga karena hasil tes ini dapat menjadi dokumen pendukung seleksi jalur prestasi.
Ketika Kemampuan Membaca dan Menyimak Menonjol

Dari hasil yang diterima sekolah, empat siswa meraih predikat SANGAT UNGGUL. Skor tertinggi diperoleh Queensilla, siswi kelas IX-E, dengan capaian 684. Kemampuan membaca dan menyimak terlihat paling menonjol pada sebagian besar peserta.
Para guru Bahasa Indonesia juga memanfaatkan hasil UKBI sebagai bahan evaluasi pembelajaran. Mereka aktif mengikuti webinar, seminar, dan diklat agar pendekatan pengajaran semakin adaptif dengan kebutuhan siswa.
Dukungan sarana sekolah menjadi faktor penting kelancaran kegiatan ini. Jaringan Wi-Fi diperkuat dan tablet disediakan bagi siswa yang membutuhkan.
“Kami ingin memastikan semua siswa mendapat kesempatan yang sama,” kata Lilik.
Bahasa Indonesia Tidak Boleh Tersisih
Lilik menilai UKBI sebagai upaya strategis agar siswa tidak hanya unggul dalam mata pelajaran akademik, tetapi juga memiliki pijakan kuat dalam berbahasa Indonesia.
“Anak-anak sekarang banyak terdorong belajar bahasa asing, dan itu bagus. Tetapi jangan sampai kemampuan berbahasa Indonesia justru tersisih,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penguasaan bahasa Indonesia adalah dasar berpikir, menalar, dan memahami budaya daerah.
“Jika mereka kuat di bahasa Indonesia, mereka juga lebih siap menjaga identitas lokalnya. Bahasa kita tumbuh dari bahasa-bahasa daerah yang harus tetap dirawat,” katanya.
Baca juga : Fina Mulianastiti, Menulis untuk Menjaga Masa Kecil Tetap Hidup
UKBI sebagai Identitas Akademik Sekolah
Humas sekolah, Suhadak, M.Pd., menambahkan bahwa SMP Negeri 1 Turen berencana menjadikan UKBI sebagai salah satu identitas unggulan sekolah. Tahun depan, peserta tidak hanya berasal dari kelas IX, tetapi juga kelas VII dan VIII.
“Kami ingin UKBI menjadi budaya akademik di sekolah ini,” ujarnya.
Menurut Suhadak, sertifikat UKBI memiliki banyak manfaat, mulai dari bukti peningkatan kompetensi hingga dokumen pendukung untuk jalur prestasi. Tantangan utama, katanya, adalah menjaga semangat siswa agar tidak menurun.
“Tugas kami adalah terus memotivasi mereka bahwa UKBI bukan beban, tetapi kesempatan untuk mengenali kemampuan diri.”
Di SMP Negeri 1 Turen, langkah itu telah dimulai dari ruang-ruang ujian yang sederhana, tempat para siswa belajar tentang struktur bahasa, ketelitian membaca, dan pentingnya merawat identitas kebahasaan. Dari sana, mereka membawa keyakinan baru bahwa kemahiran berbahasa bukan sekadar nilai ujian, tetapi modal penting untuk masa depan yang lebih luas.