FIB UB Perkuat Diplomasi Akademik, Gelar Public Lecture Seni Eksperimental bersama Universiti Malaya

Mahasiswa dan dosen mengikuti pemaparan materi secara daring melalui platform konferensi digital (Foto: Ist/Berpola)

Malang, Berpola – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) terus memperluas jejaring akademik internasional. Melalui program Adjunct Professor, FIB UB menghadirkan Asosiet Prof. Dr. Roslina Ismail dari Universiti Malaya dalam Public Lecture bertema “Experimentation as Research: Material Thinking, Process, and the Role of Digital Tools in Contemporary Art.”

Kegiatan yang digelar atas kerja sama Departemen Seni dan Antropologi ini menarik perhatian luas dari dosen, peneliti, hingga mahasiswa. Topik yang diangkat menyoroti perkembangan seni eksperimental dan perannya dalam ekosistem seni kontemporer berbasis teknologi digital.

Baca juga : Mahasiswa FORMAPI Gelar Kelas Bahasa Isyarat, Ajak Publik Lebih Peduli pada Komunitas Tuli

Ketua Departemen Seni dan Antropologi, Dr. Dra. Lilik Wahyuni, M.Pd., menyebut kuliah umum ini sebagai langkah penting penguatan kolaborasi internasional FIB UB.
“Kerja sama seperti ini memperluas jejaring akademik dan menjembatani pertukaran gagasan kreatif. Harapannya, kolaborasi UB–UM berkembang menjadi joint teaching, riset, hingga studio kolaboratif,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa seni hari ini bergerak dari sekadar “mencipta” menuju “mengeksperimentasikan”.

Asosiet Prof. Dr. Roslina Ismail, akademisi yang dikenal dalam kajian experimental art dan visual culture, memaparkan bagaimana material, proses, teknologi digital, dan intuisi seniman merupakan ways of knowing dalam praktik seni masa kini.

Baca juga : Soft Launching Brawijaya Corpora Project, Ikhtiar UB Merawat Budaya Lewat Diplomasi Digital

Ketua pelaksana kegiatan, Mayang Anggrian, S.Pd., M.Pd., menekankan bahwa Public Lecture ini menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk memahami seni sebagai riset berbasis eksperimen.
“Kami ingin mahasiswa melihat keterhubungan antara proses, material, teknologi, dan gagasan. Dengan menghadirkan Bu Ros, mereka mendapatkan perspektif baru tentang seni yang bertumpu pada kreativitas sekaligus metode akademik,” ujarnya. Ia menambahkan, program Adjunct Professor akan terus diperkuat setiap semester.

Diskusi virtual bersama Universiti Malaya. (Foto: Ist/Berpola)

Ketua Program Studi Seni Murni, Prof. Dr. Zuliati Rohmah, M.Pd., turut mengapresiasi kerja sama UB–UM. Ia berharap kegiatan ini mendorong mahasiswa melampaui batas medium tradisional dan membaca dinamika seni global. Prodi, katanya, akan memperkuat kurikulum berbasis riset, portofolio digital, dan inkubasi karya interdisipliner.

Menutup kegiatan, Lilik menegaskan bahwa Departemen Seni dan Antropologi akan terus memperluas kolaborasi internasional sebagai bagian dari diplomasi budaya.
“Seni adalah bahasa universal. Kolaborasi seperti ini meneguhkan FIB UB sebagai pusat kreativitas akademik yang terbuka, modern, dan berjejaring global,” ujarnya.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *