Mahasiswa FORMAPI Gelar Kelas Bahasa Isyarat, Ajak Publik Lebih Peduli pada Komunitas Tuli

Kegiatan Kelas Belajar Bahasa Isyarat yang diselenggarakan FORMAPI (Foto: Andini/Berpola)

Malang, Berpola — Forum Mahasiswa Peduli Inklusi (FORMAPI) kembali mengadakan Kelas Belajar Bahasa Isyarat (KBBI) sebagai upaya memperkuat literasi inklusi di lingkungan kampus maupun masyarakat luas. Program KBBI tahun ini diselenggarakan sebanyak dua kali, dengan pelaksanaan kedua berlangsung pada Minggu, 15 November 2025. Pada edisi tersebut, panitia berhasil menggaet 74 peserta dari beragam latar belakang, mulai dari mahasiswa Universitas Brawijaya, mahasiswa kelas internasional, hingga masyarakat umum. Seluruh peserta mengikuti rangkaian pembelajaran BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia) sebagai bahasa komunikasi utama dengan komunitas tuli. Melalui metode belajar langsung bersama pengajar tuli, peserta diajak memahami penggunaan bahasa isyarat dalam konteks sehari-hari.

Pembelajaran Dibagi Menjadi Tiga Pos Tematik

Peserta KBBI mempelajari kosakata BISINDO bersama pengajar tuli di Pos Profesi (Foto: Andini/Berpola)

Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi ke dalam tiga pos pembelajaran, masing-masing menghadirkan tema berbeda, yaitu pekerjaan, kata kerja, dan keluarga. Setiap pos memberikan pengalaman belajar langsung mengenai kosakata dasar BISINDO yang dapat digunakan dalam percakapan sederhana. Metode pembelajaran dibuat interaktif dengan praktik langsung, sehingga peserta dapat memahami bentuk gerak isyarat dengan konteks penggunaan yang jelas.

Baca juga : Design Thinking sebagai Jembatan Budaya: Langkah Kreatif Prodi Seni FIB UB Bersama UiTM Malaysia

Teman-teman Tuli Turun Langsung sebagai Pengajar

Hal yang menjadi ciri khas dari program KBBI adalah keterlibatan aktif teman-teman tuli sebagai pengajar utama. FORMAPI menilai pendekatan ini tidak hanya memberi pengalaman autentik bagi peserta, tetapi juga membuka ruang bagi komunitas tuli untuk berperan sebagai fasilitator pendidikan. Pengalaman mengajar ini membantu mereka mengenalkan bahasa isyarat secara lebih luas serta menunjukkan bahwa komunikasi inklusif dapat dimulai dari interaksi sederhana.

Aprilia Gita Pratiwi, selaku ketua pelaksana, menjelaskan bahwa kemampuan menguasai bahasa isyarat sangat bergantung pada intensitas interaksi seseorang dengan penyandang tuli. “Semakin sering kita berinteraksi dengan teman-teman tuli, semakin cepat kita memahami bahasa isyarat. Harapannya, semakin banyak yang membuka kelas belajar bahasa isyarat dan teman-teman dengar bisa lebih aware dengan teman-teman tuli,” ujarnya.

Harapan Perluasan Program dan Peningkatan Partisipasi Publik

Teman-teman tuli mengajar BISINDO secara langsung kepada peserta (Foto: Andini/Berpola)

Tingginya minat peserta membuat FORMAPI semakin termotivasi memperluas KBBI pada tahun mendatang. Panitia menilai bahwa semakin banyak pihak yang membuka kelas bahasa isyarat, semakin luas pula kesempatan masyarakat untuk memahami kebutuhan komunikasi teman-teman tuli. FORMAPI berharap gerakan ini dapat melahirkan lebih banyak ruang belajar di kampus maupun masyarakat.

Melalui KBBI, FORMAPI terus menggerakkan mahasiswa dan publik untuk menciptakan lingkungan sosial yang inklusif, di mana setiap orang, termasuk penyandang tuli, dapat berkomunikasi dengan lebih nyaman dan setara.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *