Malang, Berpola — Di SMK Nasional Malang, lapangan olahraga menjadi ruang belajar yang tak kalah penting dari ruang kelas. Setiap Senin hingga Jumat, para siswa kelas atlet menjalani latihan rutin sebagai bagian dari proses pembentukan disiplin, tanggung jawab, dan karakter.
Persiapan fisik yang matang menjadi fondasi utama. Para siswa berlatih secara terjadwal lima hari dalam sepekan, sementara Sabtu dan Minggu dimanfaatkan untuk latihan mandiri. Pola ini tidak hanya melatih kekuatan tubuh, tetapi juga kemandirian dan kemampuan mengatur waktu—keterampilan penting dalam dunia pendidikan.
SMK Nasional Malang membuka kelas atlet sebagai bentuk layanan pendidikan berbasis minat dan bakat. Program ini menarik minat siswa tidak hanya dari Kota Malang, tetapi juga dari luar daerah. Mayoritas siswa memilih cabang olahraga bola voli, meski sekolah tetap membuka peluang pengembangan cabang olahraga lainnya.

“Kelas atlet saat ini memang didominasi voli, tetapi kami tetap membuka ruang untuk cabang olahraga lain. Anak-anak tetap kami tempatkan di jurusan sesuai minat akademiknya,” ujar Pristy Sepvita, guru kelas atlet SMK Nasional Malang.
Menurut Pristy, pendekatan ini dilakukan agar siswa tidak terjebak pada satu identitas semata sebagai atlet. Sekolah ingin memastikan pengembangan prestasi olahraga berjalan seiring dengan capaian akademik. Karena itu, pemantauan proses belajar dilakukan secara berkala.
Baca juga: Dari Hobi Langka Jadi Juara Asia, Begini Perjalanan Restu Erdanald
Di tingkat Malang Raya, SMK Nasional Malang dikenal konsisten memimpin kemenangan dalam berbagai ajang voli pelajar. Prestasi yang diraih secara berkelanjutan menjadikan sekolah ini sebagai salah satu rujukan pembinaan atlet voli di wilayah tersebut.
Capaian tersebut sejalan dengan dukungan orang tua siswa. Mereka mempercayakan pembinaan anak kepada sekolah dengan harapan anak-anak tidak hanya berprestasi di lapangan, tetapi juga tumbuh sebagai pelajar yang bertanggung jawab.

Sekolah menanggung seluruh biaya pembinaan dan latihan. Sementara itu, hadiah dari kejuaraan sepenuhnya menjadi hak siswa. “Hadiah tersebut kami serahkan kepada siswa agar menjadi motivasi. Beberapa dari mereka bahkan sudah bisa menghasilkan uang sendiri dari keikutsertaan dalam turnamen,” kata Pristy.
Untuk mendukung keberlanjutan pendidikan, guru-guru SMK Nasional Malang aktif mendampingi siswa atlet. Pendampingan dilakukan tidak hanya pada aspek akademik, tetapi juga kelengkapan administratif, seperti sertifikat prestasi dan dokumen pendukung yang dibutuhkan untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.
“Kami pastikan mereka siap, baik secara akademik maupun administratif, terutama saat mendaftar kuliah,” ujar Pristy.
Baca juga: Easy Climb Malang Hadir dengan Wajah Baru, Ruang Latihan Lebih Aman dan Inklusif
Saat ini, terdapat 37 siswa yang tergabung dalam kelas atlet. Meski demikian, pihak sekolah menegaskan bahwa pendidikan tetap menjadi prioritas utama. Menjadi atlet bukan alasan untuk mengabaikan proses belajar.
“Kami selalu menekankan bahwa pendidikan adalah nomor satu. Prestasi olahraga penting, tetapi akademik tetap harus dijaga,” ujar Pristy.
Melalui kelas atlet, SMK Nasional Malang menunjukkan bahwa pendidikan tidak melulu berlangsung di balik meja dan papan tulis. Lapangan olahraga pun menjadi ruang belajar—tempat siswa mengasah potensi, membangun karakter, dan menyiapkan masa depan secara utuh.