Anak Ngapak Menembus Dua Identitas Prestisius

Sosok Leni Septiani saat memperoleh penghargaan di acara Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah 2025 (foto: Ist/Berpola)

Semarang, Berpola — Prestasi tidak selalu lahir dari perjalanan yang mulus sejak awal. Hal itu tercermin dari kisah Leni Septiani. Sejak kecil, ia dikenal rewel, mudah menangis, dan perfeksionis. Namun, dari proses tumbuh itulah ia belajar satu nilai yang kini menjadi pijakan hidupnya: kejujuran.

Leni tumbuh dalam keluarga yang memberinya ruang untuk mencoba dan kepercayaan untuk menentukan langkah sendiri. Dukungan tanpa syarat tersebut menjadi fondasi penting dalam perjalanan prestasinya, termasuk saat ia menapaki dunia akademik dan kebahasaan.

Identitas Ngapak yang Menguatkan

Leni besar di Tegal, lingkungan yang membentuknya akrab dengan dialek ngapak. Alih-alih menjadi hambatan, bahasa daerah justru membangun kesadarannya tentang identitas dan keberagaman. Lingkungan yang religius juga mengajarkannya untuk tetap berpijak pada nilai-nilai spiritual.

“Bahasa daerah itu identitas. Jangan pernah malu, justru bangga,” ujar Leni, mengingat prinsip yang selalu ia pegang.

Keberanian Leni diuji ketika ia mengikuti Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Universitas Negeri Semarang 2024. Rasa ragu sempat muncul karena ia merasa tertinggal dari peserta lain. Namun, dukungan orang-orang terdekat membuatnya kembali melangkah.

Usaha tersebut berbuah hasil. Leni dinobatkan sebagai Juara 1 Mahasiswa Berprestasi tingkat kampus tahun 2024. Capaian itu menjadi titik balik yang menguatkan kepercayaan dirinya.

Baca juga : Dari Kelas Iseng ke Panggung Besar: Perjalanan Westya Endra Membangun Morpho

Dari Mapres ke Duta Bahasa Jawa Tengah

Perjalanan Leni berlanjut ke Pemilihan Duta Bahasa. Baginya, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan sarana menyampaikan gagasan. “Banyak orang punya ide hebat, tetapi tidak mampu menyampaikannya. Di situlah peran bahasa,” tuturnya, Senin (8/12/2025)

Proses seleksi Duta Bahasa tidak ringan. Leni dituntut mampu berbicara di ruang publik dengan tutur yang baik dan sikap yang percaya diri. Berangkat dari latar belakangnya sebagai penutur ngapak, ia justru mendapat pengalaman menjadi presenter dan penerjemah di salah satu stasiun televisi lokal.

Pada 2025, Leni Septiani resmi terpilih sebagai Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Dalam ajang tersebut, ia juga meraih Juara Favorit, sebuah pengakuan atas kemampuannya membangun komunikasi dan kedekatan dengan publik.

Dua identitas, Mahasiswa Berprestasi dan Duta Bahasa, kini melekat pada dirinya. Meski demikian, Leni menegaskan bahwa prestasi bukan tujuan akhir. Ia ingin perannya memberi manfaat yang lebih luas.

Baca juga : Vanessya Oscar, Menumbuhkan Percaya Diri Lewat Modeling

Fokus pada Dampak Literasi

Salah satu kegelisahan yang ia soroti adalah persoalan literasi. Menurutnya, banyak orang mampu membaca, tetapi belum tentu memahami isi bacaan. Dari kegelisahan itu, muncul keinginannya untuk terlibat dalam penguatan literasi, khususnya di bidang pendidikan dan bahasa.

Leni juga berupaya memanfaatkan media sosial sebagai ruang berbagi gagasan agar pesan literasi menjangkau lebih banyak kalangan. Baginya, perubahan tidak harus besar, tetapi perlu dimulai.

“Mimpi itu tidak harus tinggi. Yang penting berani mencoba dan yakin. Selama diusahakan dan disertai doa, pasti ada jalannya,” ucapnya.

Melalui perjalanan akademik dan kebahasaan yang ia tempuh, Leni Septiani menunjukkan bahwa identitas budaya, prestasi, dan kontribusi sosial dapat berjalan seiring. Ia hadir bukan sekadar sebagai mahasiswa berprestasi atau duta bahasa, melainkan sebagai suara muda yang terus berupaya memberi dampak.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *